Kekayaan Intelektual Pertamina Harus Dipatenkan

07 May 2018, Editor Anovianti Muharti

Oppie Muharti | MigasReview.com
Oppie Muharti | MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

World Intellectual Property Organization (WIPO) menganugerahkan WIPO Awards 2018 untuk kategori WIPO Enterprise Trophy kepada PT Pertamina (Persero) dengan tujuan menumbuhkan pemahaman pentingnya perlindungan Kekayaan Intelektual. Insan Pertamina patut berbangga, karena Pertamina adalah satu-satunya BUMN yang mendapat penghargaan bergengsi tersebut dan diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla. Berikut penuturan Senior Vice President (SVP) Research and Technology Center (RTC) Herutama Trikoranto terkait WIPO Awards 2018.

 

Pertamina baru saja mendapatkan Penghargaan WIPO Awards 2018. Bisa dijelaskan terkait penghargaan tersebut?

WIPO Awards adalah penghargaan yang diberikan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO), yakni salah satu dari 15 lembaga khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penghargaan ini setiap tahun diberikan di berbagai negara sejak tahun 1979, dengan tujuan untuk memberikan apresiasi kepada individu dan institusi yang memiliki kreativitas, penemuan baru serta memiliki kepedulian terhadap kekayaan intelektual. Sejak 2014, WIPO bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) memberikan empat kategori trophy. Salah satu penerimanya adalah Pertamina untuk kategori Intellectual Property Enterprise. Pertamina dianugerahi penghargaan tersebut, tentunya setelah memenuhi sejumlah kriteria yang disyaratkan oleh WIPO.

Apa upaya yang dilakukan perusahaan untuk melindungi kekayaan intelektual insan Pertamina yang dibuktikan dengan berbagai inovasi?

Perlindungan terhadap kekayaan intelektual adalah dengan mematenkannya. Dalam hal ini, Pertamina telah dan sedang memproses pendaftaran paten terhadap kekayaan intelektual Pertamina yang merupakan hasil inovasi pekerja-pekerjanya ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Berapa banyak kekayaan intelektual yang dihasilkan insan Pertamina sampai dengan saat ini, dan berapa yang sudah dipatenkan?

Jumlah kekayaan intelektual Pertamina sebagai hasil inovasi insan Pertamina saya rasa sangat banyak. Misalnya jumlah risalah inovasi dalam Annual Pertamina Quality Award (APQ Award) tahun ini tercatat sebanyak 3.051 risalah, belum lagi pada APQ Award di tahun-tahun sebelumnya. Sayangnya, baru sebagian hasil inovasi tersebut yang didaftarkan untuk mendapatkan paten. Meskipun demikian, menurut catatan DJKI, Pertamina secara korporat memiliki jumlah paten terbanyak di antara badan usaha yang ada di Indonesia. Kekayaan intelektual Pertamina yang terdaftar sebanyak 134 paten, dimana 41 paten di antaranya merupakan hasil inovasi para researcher di Research & Technology Center, sedangkan sisanya yaitu 93 paten tersebar di seluruh Direktorat di Pertamina.

Dari 134 paten tersebut ada juga paten Pertamina terkait produk TDAE (Treated Distillate Aromatic Extracted) yaitu rubber processing oil yang telah granted secara internasional melalui Patent Cooperation Treaty (PCT) untuk negara-negara Amerika Serikat, Singapura, China dan Jepang. Beberapa paten Pertamina juga telah mempunyai nilai komersial karena telah men-generate revenue, di antaranya adalah paten untuk formulasi Pertamax Racing, paten produk Musicool, yakni refrigeran hidrokarbon sebagai pengganti freon yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi, dan paten untuk produk Smooth Fluid yakni bahan dasar untuk pembuatan lumpur pengeboran yang telah digunakan di internal Pertamina Upstream (APH) maupun Kontraktor Production Sharing lainnya, antara lain VICO, ENI & ConocoPhilips. Kemudian ada juga paten katalis NHT (Naphta Hydro Treating) untuk mendukung secondary process di kilang-kilang Pertamina.

Dengan jumlah kekayaan intelektual yang cukup banyak tersebut, sangat wajar apabila Pertamina secara korporat berhak mendapatkan penghargaan ini. 

Apakah hasil inovasi dari Continuous Improvement Program bisa dikategorikan sebagai kekayaan intelektual juga?

Tentu saja hasil inovasi setiap insan Pertamina ini bisa disebut sebagai kekayaan intelektual Pertamina. Kekayaan intelektual atau hasil inovasi inilah yang perlu kita lindungi dengan cara dipatenkan.

Kita Seharusnya bangga bahwa budaya inovasi di Pertamina telah mengakar sejak lama dan telah berhasil meningkatkan efisiensi & produktivitas unit-unit operasi maupun Pertamina secara keseluruhan. Dulu di awal tahun 1990-an, kita mengenal adanya Gugus Kendali Mutu (GKM) yang mendorong para pekerja untuk berinovasi mencari tools atau metode yang baru maupun melakukan improvement terhadap cara kerja ataupun metode yang digunakan di lingkungan kerjanya masing-masing. Sekarang kita mengenal adanya CIP (Continuous Improvement Program) yang dikelola oleh fungsi Quality System & Knowledge Management (QSKM) dengan tujuan yang kurang lebih sama. Nilai penghematan/efisiensi yang berhasil didapat dari CIP sangatlah signifikan, tercatat di tahun 2016 mencapai Rp 26 triliun, sedangkan di tahun 2017 meningkat menjadi Rp 39 triliun. Tidak mengherankan bila hasil-hasil inovasi pekerja Pertamina ini banyak yang mendapat pengakuan berupa award dari berbagai event, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tentu saja kita tidak ingin berpuas diri sampai pada tahapan mendapatkan award-award tersebut. Yang lebih penting adalah kita harus bisa men-deploy hasil-hasil inovasi tersebut untuk diimplementasikan ke seluruh unit-unit operasi Pertamina & mengkomersialkan ke luar Pertamina sebagai produk maupun lisensi Pertamina yang dapat men-generate revenue bagi Pertamina. Disinilah RTC, sesuai dengan tugas & kewenangannya, akan mengambil peran, tentu dengan bersinergi dengan fungsi QSKM. RTC akan meng-assess technology reference level (TRL) dari hasil-hasil inovasi tersebut dan akan meningkatkannya menjadi TRL 9 yaitu siap untuk komersial atau deployment. Dengan demikian, unjuk kerja dan safety dari hasil-hasil inovasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan sehingga para calon pengguna/konsumen akan lebih confident untuk mengimplementasikannya.

Pertamina menjadi satu-satunya BUMN yang menerima penghargaan ini. Apa harapan Pertamina setelah mendapatkan WIPO Awards 2018?

Penghargaan WIPO IP Enterprise Award ini perlu disyukuri, tidak hanya oleh seluruh inovator bahkan oleh seluruh insan Pertamina. Tentunya perusahaan berharap agar penghargaan ini dapat lebih memotivasi setiap pekerjanya untuk lebih banyak lagi melakukan inovasi yang dapat dikomersialkan, baik untuk internal maupun eksternal Pertamina. Dengan semakin banyaknya paten komersial yang dimiliki, Pertamina dapat mengakselerasi pencapaian visinya sebagai world class company karena salah satu ciri world class company adalah banyaknya jumlah paten komersial yang dimiliki. Semoga.

 

Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 19 Tahun LIV, 7 Mei 2018

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Pertamina Luncurkan Program SATGAS Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI) 2018

migas review Sebagai wujud komitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Indonesia, PT Pertamina (Persero) membentuk tim satuan tugas (satgas) Ramadan-Idul Fitri (RAFI) 2018 yang memfokuskan pada tiga program utama, Pertamina Melayani, Pertamina Berbagi,…