Ekspor Migas Mei 2015 Turun 6,05%

15 June 2015, Editor Cundoko

skkmigas.go.id
facebook
1
twitter
103
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta – Ekspor migas Indonesia selama Mei 2015 turun 6,05 persen dari US$1,46 miliar menjadi US$1,37 miliar, dipicu oleh melemahnya ekspor hasil minyak sebesar 27,79 persen menjadi US$147,9 juta dan gas 10,11 persen menjadi US$707,4 juta. Sementara itu, ekspor minyak mentah naik 10,40 persen menjadi US$525,0 juta.

Menurut siaran pers Badan Pusat Statistik, Senin (15/6), volume ekspor migas Mei 2015 dibandingkan April 2015 untuk hasil minyak turun 33,25 persen dan gas turun 6,28 persen sedangkan ekspor minyak mentah naik 10,40 persen menjadi US$515,0 juta. Volume ekspor migas Mei 2015 terhadap April 2015 untuk hasil miyak turun 33,25 persen dan gas turun 6,28 persen sementara minyak mentah nauk 6,78 persen.

Di sisi lain, harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik dari US$57,58 per barel pada April 2015 menjadi US$61,86 per barel pada Mei 2015.

Sementara itu, nilai impor migas turun 10,95 persen menjadi US$255,8 juta selama periode yang sama. Penurunan impor migas dipicu oleh turunnya nilai impor minyak mentah sebesar 26,17 persen menjadi US$210,8 juta, hasil minyak sebesar US$33,9 juta (2,55 persen), dan gas US$11,1 juta (5,45 persen).

Untuk nilai impor migas periode Januari-Mei 2015, terjadi penurunan sebesar US$7,88 miliar (42,84 persen). Lebih lanjut, penurunan impor migas disebabkan oleh turunnya impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas, masing-masing sebesar US$2,39 miliar (41,70 persen), US$5,02 miliar (44,36 persen), dan US$471,9 juta (34,87 persen).

Selama 13 bulan terakhir, nilai impor migas tertinggu tercatat pada Juli 2014 dengan niai mencapai US$4,17 miliar dan terendah pada Februari 2015 yaitu US$1,72 miliar. (cd) 

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Pertamina Dikhawatirkan Jadi Broker Jika Diberi Privilege Terlalu Besar

MigasReview, Bogor – Pemberian keistimewaan (privilege) kepada PT Pertamina (Persero) berupa penyerahan sepenuhnya untuk mengelola blok-blok yang akan habis masa kontraknya dikhawatirkan kontra produktif karena malah bisa memicu BUMN migas tersebut…