R. Gunung Sardjono Hadi

Berawal Dari Kerja Praktek, Menuntunnya Menjadi Pimpinan Perusahaan

23 May 2016, Editor Anovianti Muharti

dok. PHE
dok. PHE
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
3

MigasReview, Jakarta – Terjun ke industri atau dunia minyak dan gas (migas), pada awalnya, bukan menjadi target utama. Namun siapa sangka, berawal dari mendapatkan kerja praktek di Pertamina ketika masa kuliahnya, telah menuntun R. Gunung Sardjono Hadi hingga posisi Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Berbagai macam bidang maupun posisi dilaluinya, dan Beliau sangat bersyukur telah dihadapi berbagai tantangan, bahkan sempat juga menjadi seorang jurnalis di salah satu media nasional.

Berikut cerita perjalanannya ketika ditemui MigasReview.com di kantornya, beberapa waktu lalu.

---

Lingkungan keluarga saya jauh dari yang namanya dunia (industri) migas. Orangtua saya bekerja, dulu ada istilah pegawai negara namun bukan pegawai negeri, hingga akhirnya menjadi wiraswasta. Maka, saat itu industri migas sangat asing bagi saya.

Ketika kuliah saya mengambil jurusan Teknik Kimia di Universitas Diponegoro, dan saat memasuki sebagai mahasiswa tingkat dua, mulai adanya kuliah kerja nyata (KKN), saat itulah saya mulai mengenal yang namanya Pertamina, ditempatkan di Pertamina Plaju.

Seiringnya waktu, saya mendapat kesempatan untuk kerja praktek di Pertamina Refinery Unit IV (RU IV), Cilacap. Dan, Alhamdulillah juga saya mendapatkan beasiswa dari Pertamina BKKA (Biro Koordinasi Kontraktor Asing). Semenjak itulah, saya mengenal dunia migas tapi masih di sisi downstream belum upstream. Bahkan, skripsi sayapun mengenai RU IV Cilacap.

Saya sangat berterima kasih dengan para senior di RU IV, ketika mengikuti kerja praktek di RU IV. Mereka berpesan ke saya "Nung, kalau kamu mau kerja di (industri) migas, kamu gak usah masuk pengelolaan. Kamu masuklah ke hulu, karena di hulu tantangannya banyak dan mobilisasinya sangat tinggi dibanding pengelolaan".

Maka ketika lulus, saya lapor ke Pertamina karena dalam perjanjian (kerja praktek) itu memang terdapat terms, ketika sudah lulus agar lapor supaya bila sedang buka lowongan bisa ditempatkan atau diposisikan di Pertamina. Namun pada saat itu (sekitar tahun 1987), ternyata Pertamina belum melakukan recruitment (buka lowongan kerja), sehingga saya mencari ke swasta dulu.

Pernah Jadi Wartawan

Saya pernah diterima kerja di pabrik tekstil (Polysindo), namun tidak lama. Kemudian pindah ke bidang jurnalistik, menjadi wartawan Tempo. Setelah dari Tempo, sekitar awal 1989 ada pemanggilan dari Pertamina, maka saya daftar untuk mengikuti test, baik itu hulu maupun pengelolaan. Alhamdulillah, dua-duanya diterima. Tapi, saya memilih hulu (mengingat pesan senior).

September 1989, pertama kali ditempatkan di Kalimantan di Lapangan Tanjung, sebagai ahli teknik lapangan. Jadi saya istilahnya seperti company man untuk mengawasi rig pemboran sumur di tengah hutan, dan memastikan pemboran tidak terjadi apa-apa (ganguan atau risiko), sehingga dapat menghasilkan minyak dan gas.

Kemudian setelah 5 tahun di Kalimatan, saya pindah ke Jakarta. Ditempatkan di Pengkajian, disekolahkan (S2) untuk belajar simulasi reservoir, sehingga saya bisa mengetahui bagaimana karateristik reservoir. Dua tahun setelah dari Pengkajian, saya pindah ke Eksploitasi menangani reservoir dan produksi selama 2 tahun juga.

Kemudian saya ditempatkan lagi ke lapangan di Prabumulih menangani Perencanaan (Planning and Budgeting). Sekitar 2005, saya kembali lagi ke Jakarta, masih menangani Planning dan Budgeting. Lalu, naik menjadi Vice President Pertamina EP. Pada 2007, saya ditarik ke hulu (Pertamina Pusat) menjadi Senior Vice President, saat itu bu Karen (Karen Agustiawan) Direktur Hulu-nya.

Sekitar 2 tahun setelahnya saya menjadi Direktur Utama Pertamina Gas (Pertagas) hingga 2013. Kemudian menjadi SVP Corporate Share Service (CSS) di Pertamina General Affair, di sini tidak lama sekitar 3 bulan. Tapi saya bersyukur, karena saya salah satu yang mungkin dari segelintir orang bisa menikmati atau pernah kerja yang mana bukan core business saya. Setelah itu saya pindah lagi ke Development & Technology Pertamina Upstream, sekitar 1,5 tahun. Jadi, setelah muter-muter akhirnya ngurusin hulu lagi menjadi Direktur Utama PHE.

Maka, bagi saya exposure sangat penting, dapat dikatakan saya ini satu dari sekian orang yang komplit, artinya merasakan berbagai bidang yang bukan main core business atau latar bidang saya. Memang seyogyanya atau idealnya, sebelum pada posisi tinggi kalau bisa si pekerja melakukan exposure keliling untuk mendapatkan wawasan luas, kompetensi yang lebih luas, dan pengkayaan ilmu.

Bagaimanapun juga pengalaman-pengalaman tersebut, membuat saya ingin mengabdi. Saya merasa punya "hutang", mulai dari saya disekolahkan lagi (beasiswa) sampai ke jenjang S2 oleh Pertamina. Dan, saya melihat bisa sampai posisi saat ini, bisa menyekolahkan anak-anak saya, (tanpa disadari) itu semua dari Pertamina.

Maka, sekarang saya melihat dan berpikir bagaimana bisa memberikan legacy (warisan) yang terbaik untuk perusahaan. Terutama kepada pekerja yang masih muda-muda, bahwa perlu diingat dalam bekerja tidak hanya dengan kerja keras, namun juga perlu cerdas, ikhlas dan kreatif, agar perusahaan sustainable dan growing (tumbuh). Sehingga yang menikmati tidak hanya saya, tetapi anak cucu bangsa dan negara turut menikmati. Ini menjadi target janji saya. (anovianti muharti)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Renegosiasi Kontrak dengan Freeport Adalah yang Terberat

migas review MigasReview, Jakarta – Selama mengabdi sebagai aparat negara, Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara (Minerba) R. Sukhyar selama bertahun-tahun membahas Rancangan Undang-Undang Minerba hingga ditetapkan menjadi UU No. 4 Tahun 2009. Setelah…