MigasReview, Jakarta - Kota Dumai memang bukan merupakan
wilayah penghasil migas. Namun, kota tersebut memegang peranan penting dalam
rantai pendistribusian hasil produksi minyak mentah dari lapangan-lapangan
migas di Provinsi Riau. Dumai memiliki pelabuhan di mana kapal-kapal tanker
merapat untuk membawa dan mendistribusikan minyak mentah baik ke dalam negeri
maupun tujuan ekspor ke belahan dunia lain.
“Pelabuhan Dumai yang
dibangun CPI pertama kali dioperasikan pada 1958, atau sejak 60 tahun silam.
Kehadiran pelabuhan ini kemudian turut mendorong perkembangan kota Dumai dan
tumbuhnya industri serta usaha lainnya,” kata Sr. VP Policy, Government, and
Public Affairs Chevron Yanto Sianipar, melalui siaran pers, Rabu
(02/05/2018).
Sebelum dikapalkan, minyak mentah dari lapangan disalurkan
melalui sistem jaringan pipa menuju tangki penyimpan atau disebut Tank Farm
yang berlokasi di Dumai. Tangki penyimpan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI)
berjumlah 16 unit dan memiliki kapasitas total 5,1 juta barel. Dari sana,
minyak kemudian disalurkan ke kilang minyak Pertamina UP II dan ke kapal tanker
yang merapat di pelabuhan. Pelabuhan CPI mampu mengisi empat kapal tanker
sekaligus secara simultan.
Pelabuhan CPI merupakan yang pertama di Indonesia yang
menerima sertifikat standar keselamatan International Ship and Port Facility
Security, atau yang dikenal dengan ISPS Code, dari Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut pada Desember 2004. Pelabuhan Dumai bahkan telah menerima
penghargaan internasional untuk pemenuhan standar yang tinggi Gold Medallion saat diadakan inspeksi
oleh US Coast Guard dan Direktorat Gamat (Penjagaan dan Penyelamatan)
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pada 2005.
Pada pertengahan 1950-an, Dumai yang terletak 180 kilometer
timur laut Kota Pekanbaru dan 61 kilometer timur laut Duri merupakan sebuah
desa nelayan kecil yang dihuni tidak lebih dari 5.000 orang. Saat itu, hubungan
ke tempat-tempat lain masih sangat sulit, kecuali melalui air. Perjalanan
Dumai-Pekanbaru, misalnya, memakan waktu lebih dari satu hari.
Denyut pembangunan mulai terasa sejak 1956 setelah CPI
memutuskan untuk mengalihkan pelabuhan ekspor minyak mentah dari Sungai
Pakning. CPI melirik potensi Dumai sebagai lokasi pelabuhan alternatif. Selain
membangun dermaga minyak yang dapat dimasuki kapal-kapal besar, CPI juga
membangun tangki penyimpanan minyak, perkantoran, kompleks perumahan modern,
lapangan olahraga dan gedung-gedung sekolah.
Pada tahun 1958, PT CPI menyelesaikan pembangunan jalan Duri
– Dumai, menyambungkan jalan raya Pekanbaru – Duri yang telah dibangun CPI
sebelumnya. Selain untuk meningkatkan mobilitas, jalan ini dimaksudkan untuk
mendukung perawatan jaringan pipa minyak yang membentang di satu sisinya dan
jaringan listrik di sisi lainnya. Dalam perkembangannya, jalan Pekanbaru –
Dumai kemudian dimanfaatkan juga oleh masyarakat umum, membuka isolasi dan
memberikan kemudahan akses untuk mencapai berbagai fasilitas umum. Dengan
adanya jalan ini, perjalanan Dumai – Pekanbaru bisa ditempuh hanya dalam tempo
sekitar 4-5 jam.
Komentar