MigasReview, Jakarta - Pemerintah tetap menjalankan komitmen
target bauran energi baru terbarukan (EBT) yang sebesar 23% pada tahun 2025.
Demikian dituturkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius
Jonan.
"Komitmen 23% itu
kita tidak ubah sampai hari ini, yaitu tetap di tahun 2025," tegasnyaesdm.go.id.
Komposisi bauran EBT sebesar 23%, jelas Jonan, terdiri dari
sektor pembangkit tenaga listrik dan juga di sektor transportasi. Sampai saat
ini, komposisi bauran EBT, khususnya pembangkit listrik, baru mencapai 13%,
karena itu menurutnya, mencapai target 23% bukanlah suatu hal yang mudah.
"Menurut saya
tidak mudah untuk mencapai 23%. Sekarang ada beberapa hal yang sudah dijalankan
yang harapannya nanti mencapai lebih dari 20%," ujar Jonan.
Jonan memiliki keyakinan bahwa target tersebut akan dapat
terpenuhi. Dia mengungkapkan Kementerian ESDM telah melakukan beberapa inisiatif
untuk mencapai target bauran EBT, yaitu diantaranya adalah dengan mendorong PT
PLN (Persero) dan Independent Power Producer (IPP) untuk masuk ke pembangkit
energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit
listrik tenaga panasbumi (PLTP).
"Di Jawa Barat,
PLN ikut mendukung penuh terkait reform sungai Citarum untuk bisa dimanfaatkan
sebagai PLTA baru dan yang sudah ada tidak terganggu. Mengenai geothermal juga,
Flores kita dorong untuk menjadi pulau geothermal karena potensinya yang besar,
itu semua untuk meningkatkan bauran energi terbarukan," imbuhnya.
Inisiatif lainnya, Jonan telah meminta PLN mengganti seluruh
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan total kapasitas 3.200 megawatt
(MW) menggunakan 100% minyak kelapa sawit.
"Kalau itu
(memakai 100% minyak kelapa sawit) bisa dalam 5 tahun, nanti bauran energi
terbarukannya bisa bertambah 5%," jelas Jonan.
Inisiatif baru lainnya adalah penggunaan Rooftop Solar
Photovoltaic (PV) atau rooftop panel surya. Jonan mengusulkan untuk menerapkan
penggunaan rooftop panel surya kepada konsumen PLN jenis tertentu, seperti
rumah tangga golongan 1 (R1) hingga R4 dan juga golongan bisnis.
"Kalau ini
ditawarkan ke pelanggan PLN yang golongannya itu R, R1 mungkin sampai R4, dan mungkin
bisa golongan bisnis. Mungkin dalam 5-10 tahun bisa nambah 10.000 MW, itu bisa
nambah lebih dari 5%, selesai sudah kerjaan saya yang 23%," tutup Jonan.
Sebagaimana diketahui, pemerintah telah mengesahkan Rencana
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2018-2027. Dalam RUPTL tersebut,
Pemerintah menetapkan target bauran energi pembangkit hingga akhir 2025, dimana
untuk batubara sebesar 54,4%, EBT 23,0%, gas 22,2% dan Bahan Bakar Minyak (BBM)
0,4%.
Potensi Panasbumi
Pemerintah Indonesia mempunyai impian besar terhadap
pengembangan sumber energi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Bukan hal
yang mustahil bauran EBT khususnya energi terbarukan (ET) akan melejit
mengungguli negara-negara lain mengingat Indonesia memiliki potensi energi
terbarukan dari ujung barat hingga ujung timur negeri.
Impian tersebut juga pantas terealisasi usai melihat potensi
panasbumi (geothermal) Indonesia yang
mencapai 28.508 Mega Watt electrical (MWe) dengan cadangan sebesar 17.435 MWe.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi
Energi (EBTKE) Rida Mulyana menyampaikan, bahwa panasbumi menjadi andalan dalam
memenuhi target Kebijakan Energi Nasional (KEN) tersebut.
"Sampai tahun
ini, geothermal menempati urutan pertama. Sumber daya modalnya sudah ada,
Sumber Daya Manusia (SDM) mumpuni, regulasi makin lengkap, penerimaan
masyarakat semakin bagus, koordinasi juga makin kuat. Sepertinya geothermal
punya peluang (sebagai andalan)," jelas Ridaesdm.go.id.
Keyakinan Rida juga didasari atas penambahan kapasitas dari
pengoperasian atau Commercial Operation Date (COD) PLTP Lumut Balai 55 MW di
Provinsi Sumatera Selatan, dan PLTP Sorik Marapi 40 MW di Provinsi Sumatera
Utara. Pemerintah sendiri menargetkan pengembangan panasbumi pada tahun 2025
mencapai 7.241,5 MW.
"Saat ini sumber
EBT yang baru dimanfaatkan adalah sebesar 1.948,5 MW," ungkap Rida.
Dia menambahkan, hingga saat ini, panasbumi telah menjadi
penyumbang terbesar dalam bauran energi EBT. Terlebih, saat ini masyarakat
makin terbuka atas kegiatan pemanfaatan panasbumi sebagai sumber energi primer
mereka.
Guna mewujudkan capaian tersebut, Rida berharap dukungan
serta kerja sama yang kuat dengan para stakeholder
terkait.
"(Stakeholder)
adalah pemicu dan pemacu dalam mencapai target, melengkapi regulasi yang
mendukung hal tersebut," jelasnya.
Sebagai gambaran, kapasitas terpasang panasbumi terus
mengalami peningkatan sejak tahun 2014. Dari yang hanya sebesar 1.403,5 MW (2014)
terus menunjukkan tren positif menjadi 1.438 MW (2015), 1.643,5 MW (2016)
hingga 1.808,5 MW (2017).

Komentar