MigasReview, Jayapura - Menteri Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) Rini M Soemarno meresmikan tiga infrastruktur kelistrikan di Jayapura,
Papua. Pengoperasian tiga infrastruktur kelistrikan itu akan memperkuat sistem
kelistrikan Papua sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Tiga infrastruktur tersebut merupakan sistem 150 kV pertama
di Papua yang terdiri dari Gardu Induk (GI) 150 kV Jayapura, GI 150 kV
Holtekamp dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Holtekamp-Jayapura
milik PT PLN (Persero).
Rini mengungkapkan, ketiga infrastruktur ini akan
menyalurkan listrik yang dihasilkan pembangkit sehingga semakin banyak warga
yang bisa menikmati listrik dan pada akhirnya bisa mendorong kesejahteraan
masyarakat.
Dia berharap keberadaan gardu induk dan SUTT 150 KV ini bisa
meningkatkan rasio elektrifikasi Papua dan nasional. Saat ini rasio
elektrifikasi Provinsi Papua dan Papua Barat tercatat di level 53,62 persen dan
merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah di Indonesia.
“Keberadaan
infrastruktur ini sangat penting bagi penyaluran listrik di wilayah ini, jadi
pemerintah tentu sangat mendukung dan mengapresiasi upaya yang telah dilakukan
PLN. Sebagai BUMN yang bertanggung jawab bagi kelistrikan di Tanah Air, saya
terus mendorong agar PLN terus meningkatkan perbaikan infrastruktur kelistrikan
karena listrik merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” ungkapnyapln.co.id.
Tak hanya untuk melistriki warga, Menteri Rini berharap
semakin handalnya listrik di Jayapura bisa menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru
dan memudahkan investor yang ingin berinvestasi di Papua.
Di tempat yang sama, Direktur Bisnis Regional Maluku-Papua PLN Ahmad Rofik mengatakan, pengoperasian 2 gardu induk dan SUTT 150 KV ini bisa mengoptimalkan pengoperasian pembangkit listrik tenaga gas (PLTMG) Jayapura.
Sebelumnya, PLTG Jayapura hanya dapat memproduksi listrik
sebesar 30 megawatt (MW) karena jaringan transmisi dan distribusi yang
menyalurkan listrik ke warga masih belum siap. Dengan peningkatan kapasitas
infrastruktur penyaluran ini, listrik dari PLTMG Jayapura dapat disalurkan
secara penuh yaiu sebesar 50 MW.
Ketiga infastruktur yang baru beroperasi ini juga dapat
menyalurkan listrik dari PLTMG Jayapura Peaker 40 MW yang kini sedang dalam
proses pembangunan.
Menurut Rofik, tambahan suplai ini dapat disalurkan untuk
penambahan daya pasang baru atau pasang sementara bagi rumah tangga dan
industri. Jumlah rumah tangga yang dilistriki tercatat 600 ribu pelanggan yang
mencakup sistem Jayapura, Sentani dan Genyem.
Dengan beroperasinya PLTMG, Ia memperkirakan PLN bisa
menghemat biaya produksi listrik hingga Rp 8,7 miliar per bulan.
“Potensi penghematan
ini dihitung berdasarkan penurunan specific fuel consumption dan penghentian
mesin sewa dari sistem kelistrikan Jayapura,” ujarnya.
Pembangunan ketiga infrastruktur ini dibangun dalam kurun waktu 2 tahun memakan biaya investasi sebesar Rp 341 miliar dengan sumber dana berasal dari anggaran PLN. Pembangunan ketiga infastruktur ini juga telah melibatkan 400 pekerja, di mana lebih dari 100 orang pekerja merupakan pekerja lokal. Sebelumnya, pemerintah juga telah meresmikan GI Jayapura dan SUTT 70 kV Holtekamp-Jayapura. GI Jayapura mendapat tambahan trafo 150 kV, sedangkan SUTT 70 kV Holtekamp-Jayapura mendapat tambahan insulator dan konduktor tegangan 150 kV.

Komentar