MigasReview, Jakarta – Pengamat minyak dan gas dari Universitas Indonesia (UI) Iwa Garniwa menilai, tidak tepat jika Indonesia kembali aktif dalam Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) karena tidak memiliki kriteria yang sesuai.
“Kenyataannya, Indonesia adalah net importer minyak. Dilihat dari cadangan migas kita, berdasarkan stastistik cadangan migas yang terbukti tidaklah besar. Meski Indonesia saat ini mengekspor LNG, di tahun-tahun ke depan, negara ini akan mengimpor LNG,” ucap Iwa kepada MigasReview beberapa waktu lalu.
Menurut Iwa, Indonesia tidak perlu aktif menjadi anggota OPEC jika hanya sekadar ingin mendapatkan jaminan pasokan minyak. Agar lebih efektif, hal ini dilakukan dengan meningkatkan hubungan bilateral dengan negara-negara penghasil minyak. “Seperti yang dilakukan Presiden Joko Widodo saat membeli minyak dari Angola,” ucapnya.
Seperti diketahui, pemerintah menginginkan kembali aktif dalam OPEC karena saat ini merupakan eksportir LNG. Namun dalam empat tahun mendatang, Indonesia akan menjadi impor sumber energi ini.
Indonesia keluar dari keanggotaan OPEC pada 2008 karena telah berubah menjadi net importer minyak bumi. Namun, Menteri ESDM mengatakan, Indonesia masih layak aktif dalam OPEC karena saat ini merupakan net exporter gas.
Praktisi migas John Karamoy membenarkan bahwa Indonesia bisa aktif dalam OPEC sebagai eksportir LNG. "Kalau LNG masuk dalam golongan petroleum, Indonesia mungkin saja masuk sebagai negara eksportir," ucapnya.
Sedangkan Ketua Unit Pengendalian Kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widyawan Prawiraatmaja mengatakan, jika mengacu pada data 2014, pasokan gas dalam negeri hanya mencapai 2.064 mmscfd dari total kebutuhan sebesar 2.871 mmscfd. Artinya, terjadi defisit sebanyak 807 mmscfd. "Tentu saja, pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang kebutuhan akan meningkat, yang mana jika tak dapat diimbangi oleh pasokan gas yang mencukupi maka defisit kian melebar," ujar Widhyawan. (ty)

Komentar