Hari masih pagi, ketika Abah Dindin sibuk berbenah di garasi
Sekretariat Yayasan Kreatif Usaha Mandiri Alami (Kumala) yang terletak di
wilayah Tanjung Priok. Tangannya terampil memilah antara sampah organik dan
anorganik. Kegiatan ini rutin dilakukan Abah Dindin bersama anak buahnya, sejak Yayasan Kumala
membuka Bank Sampah untuk warga sekitar.
Kegiatan Bank Sampah merupakan kegiatan baru Yayasan tersebut, pengembangan dari kegiatan daur ulang sampah kertas dan kayu yang telah mereka lakukan sejak tahun 2003.
“Dengan Bank Sampah ini kami berharap bisa mengubah sampah sehingga mempunyai nilai ekonomis. Masyarakat sekitar juga diuntungkan karena lingkungan menjadi lebih bersih,” tutur Abah Dindin.
Yayasan ini memulai kegiatannya sejak tahun 2003 melalui Gallery K’Qta dan dilegalkan menjadi nama Yayasan Kumala pada tahun 2008 bertujuan untuk untuk menampung anak-anak jalanan di sekitar Tanjung Priok agar tidak lagi beraktivitas di jalanan.
Pada awalnya anak-anak tersebut hanya berfokus pada sampah kertas yang kemudian didaur ulang menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi. Seiring berjalannya waktu, Yayasan Kumala juga memanfaatkan kayu bekas sebagai bahan baku pembuatan alat refleksi, tikar dan berbagai macam produk lainnya.
Pada 2012, Yayasan Kumala bermitra dengan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) untuk mengolah limbah kertas dan kayu yang merupakan sampah dari kegiatan perusahaan tersebut. Hasilnya, berbagai kerajinan menarik seperti tas bingkisan, pigura, alat refleksi yang kemudian sebagian dibeli lagi oleh perusahaan sebagai cinderamata untuk berbagai kegiatan perusahaan.
Anak-anak bisa bergabung dengan Yayasan Kumala asalkan tidak lagi turun ke jalanan, dan juga mengikuti aturan dan jam kerja yang ditetapkan. Bagi anak-anak yang masih sekolah akan mendapatkan pendidikan gratis dan jam belajar mereka juga dihitung sebagai jam kerja.
“Jadi anak-anak itu tetap mendapatkan pendapatan dengan bersekolah di pagi hari dan siang harinya lanjut bekerja di Yayasan,” ujar Abah Dindin.
Sejak berdiri hingga saat ini, Yayasan tersebut sudah menampung lebih dari 50 anak jalanan. Abah Dindin menjelaskan, tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan anak-anak tersebut agar mengikuti aturan yang ada.
“Mereka terbiasa dengan kehidupan jalanan yang tanpa aturan dan mudah untuk mendapatkan uang. Apalagi sebagian dari mereka adalah mantan pelaku kriminal jalanan yang dikenal dengan sebutan Kapak Merah. Itulah mengapa anak-anak ini datang dan pergi,” tuturnya.
Manusia Mandiri
Namun, setidaknya terdapat beberapa anak-anak yang tetap bertahan di Yayasan tersebut dan lepas dari kehidupan jalanan. Mereka bahkan berkembang menjadi manusia yang mandiri, bekerja di berbagai bidang, antara lain sebagai supir, sales, pedagang dan sebagainya.
Anak-anak di Yayasan Kumala saat ini juga tidak hanya berhenti menjadi pengrajin, namun juga menjadi trainer keterampilan daur ulang sampah kertas di berbagai instansi di berbagai daerah dari Aceh hingga Papua. Bahkan, saat ini Yayasan Kumala memiliki cabang di berbagai kota dan bermitra dengan berbagai instansi.
Inovasi anak-anak Yayasan Kumala tidak hanya itu. Baru-baru ini mereka telah menciptakan mesin giant blender sebagai upaya peningkatan produktivitas produksi dan efisiensi energi. Awalnya untuk mendukung produksi kertas daur ulang mereka harus menggunakan empat buah blender dengan kapasitas 1-2 liter dengan daya 350 watt per mesinnya. Dengan inovasi ini (giant blender), mereka mencacah kertas menggunakan blender kapasitas 10 liter dengan daya 450 watt. Selain efisiensi energi, produktivitas kerja anak binaan juga meningkat.
“Perusahaan berharap agar anak-anak Kumala terus menyebarluaskan keterampilan mereka, juga menjadi motivator kepada anak jalanan di daerah lainnya untuk berubah menjadi mandiri dan berguna bagi keluarga dan masyarakat pada umumnya,” ujar Community Development Manager PHE ONWJ Sudaryoko.

Komentar