Agus Guntoro, Prediksi Tsunami Aceh 2 Tahun sebelum Kejadian

19 July 2013, Editor admin

Direktur Pusat Kerjasama Minyak dan Gas Universitas Trisakti, Agus Guntoro
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0
Dengan rambut sepanjang pinggang dan aksesori yang melekat di leher dan sepatu boot kulit di kakinya, Agus Guntoro lebih mirip rocker ketimbang direktur di sebuah universitas terkemuka. Namun ketika mendengar dia berbicara mengenai ilmu kebumian, barulah dia terdengar sebagai seorang pakar yang paham betul akan hal-hal yang berkaitan dengan isi perut bumi.
Bagi Agus, pergerakan bumi adalah sesuatu yang mutlak diperlukan agar kehidupan tetap ada dan terus berjalan di planet ini. Semua aktivitas yang berkaitan dengan pergerakan bumi seperti gempa dan gunung meletus sebenarnya adalah hal yang seharusnya disyukuri karena itu adalah anugerah Tuhan. Mengapa begitu? Ketika Aceh dilanda gempa bumi kuat yang disusul tsunami pada 26 Desember 2004, Direktur Pusat Kerjasama Minyak dan Gas Universitas Trisakti itu sudah memprediksikannya dua tahun sebelumnya.

Berikut penuturan pria yang terakhir kali memangkas rambutnya 7 tahun lalu itu kepada MigasReview.com yang menemuinya di kantornya di kawasan Grogol, Jakarta Barat.

Saya pikir, siapapun orang yang pernah sekolah pasti tahu jargon yang mengatakan bahwa Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam. Kita dari kecil sudah tahu dengan yang namanya Freeport, dengan yang namanya Pertamina. Saya tahu Pertamina sejak kelas 5 SD karena saya tinggal di Tanjung Priok dekat Plumpang. Ada Depot Plumpang di sana punya Pertamina.
Dari situ saya tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan kekayaan sumber daya alam kita. Akhirnya saya memutuskan untuk menekuni ilmu kebumian. Setelah lulus, saya menjadi dosen di Trisakti. Saya memegang mata kuliah tektonik, yakni proses-proses yang menyebabkan perubahan pada permukaan muka bumi akibat gaya-gaya di dalam bumi. Proses-proses itu yang sebenarnya membawa material-material bahan tambang seperti minyak, emas, dan lain sebagainya ke permukaan.
Proses-proses yang menyebabkan terjadinya gempa bumi dan vulkanisme itu adalah anugerah dari Tuhan. Tanpa melalui proses ini, selesai sudah tugas bumi. Tidak akan lagi ada kehidupan. Karena itulah bumi selalu bergerak. Pergerakan ini menandakan masih adanya aktivitas hidup. Seperti kalau kita batuk, itu menunjukan bahwa kita masih hidup. Nah, bagaimana bumi menunjukan kalau dia hidup? Yaitu dari gempa bumi dan aktivitas vulkanismenya.
Indonesia berada di dalam suatu rangkaian pertemuan tiga buah lempeng yang memang aktif. Sehingga, yang namanya gempa bumi vulkanik adalah keseharian kita. Melalui proses itulah, bahan-bahan tambang naik ke permukaan, termasuk pembentukan minyak bumi tentunya. Tugas kitalah untuk mencarinya, mengeksplorasinya.

Ramal Tsunami Aceh

Jadi, akhirnya saya masuk ke dalam industri ekstraktif. Salah satunya adalah minyak dan barang-barang tambang lain. Tapi saya juga concern dengan masalah geological hazard. Saya kebetulan pernah ikut tim Java Trench. Saya ikut masuk ke Palung Jawa pada 2002. Kemudian, dari situlah kami dapat memetakan patahan-patahan di sana. Saya melihat adanya suatu patahan di sana. Itu kemudian saya simpulkan dalam tulisan saya di Kompas. Saya ingat betul, pada waktu itu 30 November 2002. Saya memprediksi akan terjadinya tsunami, yang pada waktu itu belum terkenal istilah tersebut. Di tulisan itu, saya bilang: Awas bahaya tsunami dari pantai barat Aceh sampai ke Pangandaran. Dan, itu terjadi setelah 2 tahun kemudian. Terjadi semua kan? Di Aceh terjadi, di Pangandaran juga terjadi.
Bagi kami, para geologist, tidak ada yang aneh karena kami memahami dampak dari geotektonik Indonesia terhadap pergerakan lempeng, juga dampaknya pada gempa bumi, tsunami, dan gunung api. Jika kita memahami dan ini dijadikan suatu acuhan, seharusnya kita bisa meminimalkan korban manusia.
Memang gempa bumi tidak bisa diramalkan kapan persisnya akan terjadi. Tapi diramalkan dalam pengertian keilmuan di sini adalah memakai statistik. Berapa lama daurnya? Gempa terjadi tiap berapa tahun? Ketika gunung api meletus, di bawahnya mulai terjadi peningkatan pressure. Dia meletus lagi dan prosesnya dimulai lagi dari awal.
Jadi, gempa bisa diramalkan dari sifat-sifat seperti ini. Itulah indahnya geologi. Jadi, kami bukan dukun karena bisa memprediksi.

Paradoks

Dalam perjalanan saya selanjutnya, saya masuk di Tim Ditjen Migas dan tugas saya sebagai ahli geologi ekstraktif tentunya mencari sumber-sumber daya alam. Kami melihat potensi yang luar biasa pada sumber daya alam kita. Salah satunya yakni shale gas.
Kebetulan pada waktu itu saya juga masuk dalam LEAD atau Leadership Environment and Development, sebuah organisasi yang diketuai oleh Emil Salim. Jadi memang ada sesuatu yang paradoks di situ. Di satu sisi, saya bergerak di bidang industri ekstraktif yaitu bagaimana mencari sumber-sumber daya alam kemudian mengeksplor, membongkarnya. Tapi di sisi lain, saya belajar tentang bagaimana me-maintain masalah lingkungan. Nah, dari sinilah kemudian saya belajar bagaimana mengintegrasikan dan kemudian meminimalisasi dampaknya pada lingkungan. Kita tidak bisa mengatakan kalau kita tidak butuh minyak. Kita tidak bisa bilang tidak butuh besi. Tidaklah. Itu omong kosong.
Tetapi bukan berarti ketika kita masih membutuhkan itu, kita menutup mata dan menghancurkan segala yang ada. Di sinilah kita harus bisa memililah-milah, yakni mencari sumber daya alam yang dampaknya minimal dalam hal proses pembakaran maupun proses pencariannya. Dalam perjalanan itulah, saya melihat adanya shale gas yang pada saat itu memang sedang mencuat. (jamal saripudin/cundoko aprilianto)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Tahan Penurunan Produksi Blok Mahakam

Total Exploration & Production menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager Total E&P Indonesie (TEPI) dan Group Representative untuk Indonesia yang baru menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa…