BP Pangkas Investasi di Indonesia

10 April 2015, Editor Cundoko

LNG Tangguh di Wiriagar, Berau dan Muturi Kontrak Production Sharing (PSC) di Teluk Bintuni, Papua Barat. (Sumber foto : ©www.bp.com)
facebook
6
twitter
102
google+
4
linkedin
0

MigasReview, Jakarta - British Petroleum (BP) Indonesia akan melakukan efisiensi dengan merevisi Work Plan and Budgeting (WPNB) yang berarti pengurangan investasi sebagai akibat dari dampak rendahnya harga minyak dunia, yang kini berada di kisaran US$55-60 per barel.

Meski demikian, Country Manager BP Indonesia Dharmawan Syamsu enggan menyebutkan berapa besaran pengurangan investasi tersebut. Kendati demikian, dia memastikan, tidak ada proyek yang dibatalkan pada 2015 ini.

"Investasi kurang berapa saya belum bisa share itu. Yang dibatalkan tidak ada. Yang ada lebih disimpelkan saja," kata Dharmawan di Jakarta, Jumat (10/4).

Untuk produksi, Dharmawan mengungkapkan, bahwa tidak akan ada penurunan.

Dalam WPNB 2015 BP Indonesia, produksi minyak ditetapkan 6 ribu barel per hari dan gas sebanyak 179,6 mmscfd.

Keterlambatan FEED

Selain itu, Dharmawan mengakui, saat ini Kilang LNG Tangguh Train III mengalami keterlambatan Front End Engineering Design (FEED).

"Kami masih on the track. Terlambat 6-7 bulan tapi kami masih menargetkan bisa FEED di 2016 meski ada hal-hal yang harus diselesaikan bersama," Dharmawan.

Saat ini perusahaan tengah berupaya membereskan masalah keberlanjutan financing dan buyer-nya.

Meskipun terjadi keterlambatan, kata Dharmawan, Kilang LNG Tangguh Train III tetap ditargetkan on stream pada 2020.

Saat ini, baru PT PLN (Persero) dan perusahaan asal Jepang, Kansai Electric yang siap membeli LNG Tangguh, di mana. PLN siap menyerap 1,5 juta metrik ton sedangkan Kansai 1 juta ton. BP Indonesia tengah menunggu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang akan mengoperasikan pembangkit listrik milik Pemda Bintuni, Papua, yang akan menyerap 20 mmscfd gas dari Kilang LNG Tangguh.

"Bintuni ini dalam taraf pembentukan BUMD sebagai penerima 20 juta kaki kubik untuk pembangkit listrik di Bintuni, Fak Fak, Manokwari, dan beberapa tempat lain yang mungkin akan ditunjuk," pungkasnya.

Tidak Rugikan Negara

Sementara itu, Kementerian ESDM mengklaim, harga jual LNG Tangguh ke Fujian, China, hingga 2017 tidak menyebabkan kerugian bagi negara meski harganya masih di bawah rata-rata harga gas dunia.

Ketua Tim Unit Pengawasan Kinerja Kementerian ESDM Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, pemerintah tidak akan merenegosiasi harga LNG Tangguh ke Fujian karena sebelumnya telah dilakukan negosiasi.

Widyawan menuturkan, untuk 2015 harga LNG Tangguh ke Fujian sebesar US$10,5 per mmbtu, pada 2016 naik menjadi US$12,5 per mmbtu dan pada 2017 kembali naik menjadi US$13,5 per mmbtu.

Bahkan, menurut Widyawan, harga tersebut sudah terbilang cukup bagus, karena berbeda dengan amandemen harga LNG Tangguh sebelumnya.

Kepala Divisi Komersial LNG SKK Migas Arief Riyanto membenarkan jika harga LNG Tangguh setiap tahunnya mengalami peningkatan. Dan itu menurutnya sudah menjadi nilai positif bagi gas Tangguh itu sendiri. (aw)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Pertamina Lakukan Lifting Pertama Minyak Banyu Urip

MigasReview, Jakarta   - PT Pertamina EP Cepu (PEPC) melaksanakan lifting pertama dari Kapal Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang di Surabaya, Minggu (12/4). FSO ini merupakan tempat penampungan minyak mentah yang diproduksi dari…