GIS 2017

Kebutuhan Gas Akan Terus Meningkat

12 April 2017, Editor Anovianti Muharti

migas review
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
3

MigasReview, Jakarta - Di tengah tren harga minyak rendah, tentunya akan berdampak terhadap harga gas yang merupakan energi yang berasal dari fosil. Tentunya, turut mempengaruhi perkembangan industri gas, namun dengan kondisi tersebut bukan berarti berinvestasi di industri ini tidak menarik.

Senior Conference Producer of dmg::events Asia Pacific Rekha Kaur mengatakan, meski mengalami penurunan permintaan dalam pasar utama (global), akan tetapi kebutuhan gas untuk perekonomian dan energi akan terus meningkat, baik sebagai tenaga listrik (energi sekunder), maupun industri yang menggunakan bahan baku atau bahan bakar gas.

Berikut penjelasannya kepada MigasReview.com.

---

Bagaimana dengan perkembangan industri gas (upstream and downstream) secara global, dan Indonesia pada khususnya?

Penurunan harga minyak dan perlambatan ekonomi telah mempengaruhi sektor LNG secara global, sehingga menimbulkan tekanan terhadap harga LNG. Di sisi hulu/suplai, peningkatan proyek Australia yang baru dan proyek ekspor LNG AS merupakan tema utama. Di sisi pasar, permintaan LNG dalam pasar utama yang umum seperti Jepang dan Korea Selatan sedang menurun, sedangkan permintaan di China tidaklah tumbuh secepat yang diperkirakan. Pasar LNG yang baru muncul, seperti negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara - termasuk Indonesia, menjadi semakin penting. Tonggak utama bagi Indonesia tahun ini adalah FID (Final Investment Decision / Keputusan Akhir Investasi) Tangguh Train 3, yang diaktifkan terutama oleh permintaan LNG negara yang meningkat

Apakah masih menarik berinvestasi di industri gas?

Untuk Indonesia, tentu saja! Kebutuhan gas di Indonesia akan terus meningkat, karena dorongan kebutuhan ekonomi dan energi yang terus meningkat. Permintaan di masa mendatang terlihat cukup kuat, baik dari sisi tenaga listrik dan industri.

Apa tantangannya?

Untuk memenuhi permintaan, pengembangan dan perluasan infrastruktur gas domestik sangat diperlukan. Pasokan gas dalam pipa yang sudah ada terus menurun, sehingga peran LNG akan menjadi lebih besar. Infrastruktur LNG dan volume LNG terkait juga akan semakin dibutuhkan.

Menurut Anda, dengan kondisi gas di Indonesia, infrastruktur seperti apa yang dibutuhkan? mengingat secara geografis adalah kepulauan atau lautan?

Indonesia membutuhkan berbagai cabang infrastruktur, karena beragam secara geografis. Pusat-pusat permintaan utama yang terletak di Jawa dan Sumatera membutuhkan terminal impor LNG skala besar. Infrastruktur sistem pembangkit mereka mantap. Di Indonesia Tengah dan Timur, ada banyak permintaan daerah terpencil oleh pembangkit listrik terdistribusi yang terletak di beberapa pulau yang membentuk solusi LNG skala kecil yang tepat

Secara rata-rata, berapakah harga gas?

a. Gas pipa: US$5-8/mmbtu

b. LNG kontrak: 11-13% dari JCC (tidak termasuk regas)

c. LNG spot: sekitar US$4 – 5/mmbtu pada saat ini (tidak termasuk regas)

Pada setiap lapangan gas memiliki karateristik yang berbeda, berapakah minimal (rata-rata) investasi yang diperlukan?

Hal ini sangat tergantung pada ladang gas yang berbeda-beda, baik pantai versus (vs) lepas pantai, perairan dangkal vs laut dalam, asosiasi vs non asosiasi, cadangan besar vs marginal, tinggi gas CO­­2, dan lain-lain

Apa yang menjadi dasar menentukan kemudian didistribusikan melalui LNG, CNG, LPG ataupun dengan pipa?

Ukuran permintaan, pipa lepas pantai tidak ekonomis untuk pengiriman dalam jumlah sedikit. Pembatasan jarak, misalnya CNG tidak dapat mencakup pengiriman jarak jauh, kondisi geografis, pantai vs lepas pantai dan pertimbangan biaya.

Apa yang diharapkan para pemangku kepentingan dalam di pertemuan Gas Indonesia Summit 2017 nanti?

Agenda program Gas Indonesia Summit & Exhibition (GIS 2017) disusun dengan bantuan para pemangku kepentingan utama di pasar gas Indonesia seperti Pertamina, PGN, PLN, SKK Migas, Medco Power, Total E&P Indonesia, Osaka Gas, Wood Mackenzie, AG&P, GTT, IIF, PwC Indonesia, Anglo Euro Energi dan Esso Indonesia untuk menanggapi kondisi pasar saat ini dan masa mendatang serta perkembangan di Indonesia.

GIS 2017 menyediakan platform sentral bagi para pemain utama di Indonesia dan internasional dengan kepentingan strategis di pasar gas dan LNG di kawasan ini agar terhubung dalam jaringan dan saling bertukar hubungan bisnis terutama bagi mereka yang ingin berinvestasi dalam infrastruktur energi di Indonesia, menjual gas/LNG kepada pemain utama Indonesia serta menyediakan produk teknis dan jasa di seluruh rantai nilai Indonesia (eksplorasi, transportasi pantai/lepas pantai, regasifikasi, saluran pipa, penyimpanan serta pemasaran dan distribusi).

Untuk informasi lebih lanjut tentang Gas Indonesia Summit & Exhibition 2017, silahkan kunjungi www.gasindosummit.com.

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Ubah Tenaga Angin Jadi Energi Berkelanjutan

migas review MigasReview, Jakarta - Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan dalam membangun infrastruktur terutama bidang kelistrikan. Energi terbarukan bisa memainkan peranan dalam memecahkan masalah kekurangan pasokan…