Wamen ESDM: EBT Adalah Keharusan, Keekonomiannya Harus Diutamakan

31 July 2017, Editor Anovianti Muharti

facebook
10
twitter
google+
1
linkedin
1

MigasReview, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menekankan bahwa untuk saat ini pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) adalah sebuah keharusan, bukan lagi sebuah pilihan. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Halal Bihalal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, di Jakarta, Minggu (30/07/2017).

"Apakah kita akan mendorong renewable energy? renewable energy adalah keharusan bukan lagi pilihan apakah kita memilih fosil atau renewable energy," tegas Arcandra.

Menurut dia, ada beberapa program kerjasama bidang EBT antara Balitbang Kementerian ESDM dengan UPN yang sudah berjalan, yakni pengembangan biofuel dari kemiri sunan dan shorghum. Dalam hal ini, kata Arcandra, faktor keekonomian menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.

"Yang terpenting adalah keekonomiannya. Jangan sampai kita mengembangkan sesuatu tapi yang kita kembangkan mahal sekali," ungkap Arcandra.

Selanjutnya, Arcandra mengajak para alumni dan pengajar UPN untuk bersama-sama memberikan pemahaman bahwa suatu saat untuk energi fosil kita tidak bisa memproduksikannya lagi, bukan habis seperti pemahaman yang sebelumnya ada.

"Seandainya cadangan terbukti minyak kita 3,6 miliar barel dengan tingkat produksi 800 ribu per hari dan konstan, itu (dulu dikatakan) dalam waktu 12 tahun lagi akan habis. Itu yang harus kita ubah, yang benar adalah bukan habis, tetapi tidak bisa memproduksikan minyak," terangnya.

Arcandra menjelaskan, kenapa tidak habis, karena di bawah (perut bumi) sana belum ada teknologi yang bisa menguras minyak bumi sampai 100%.

"Teknologi saat ini baru dapat menguras paling banyak 40-50% minyak yang ada, sehingga masih ada sekitar 60% di bawah sana," ujarnya.

Menurut Arcandra, itu adalah tantangan kita, dan suatu saat nanti apabila ada teknologi baru cadangan tersebut bisa kita ambil.

Pada kesempatan tersebut Acandra juga berharap dengan kekuatan alumni yang mencapai 59.000, UPN Yogyakarta dapat membantu Kementerian ESDM dalam menjalankan program-programnya, terutama bagi masyarakat di pulau terluar Indonesia, sebagaimana yang digaungkan Presiden Jokowi dalam Nawacita-nya.

"Misalnya bersinergi dalam program yang ada di Kementerian ESDM mengingat hampir di seluruh Indonesia ada alumni UPN, bahkan termasuk inspektur tambang, di kota maupun pelosok," pungkas Arcandra.

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Kunjungi AS, Menteri ESDM Dorong Investasi Migas dan Percepatan Perundingan Freeport

migas review MigasReview, Jakarta - Dalam rangka mendorong peningkatan investasi perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi (migas) Amerika Serikat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, telah melakukan lawatan ke Houston, Amerika Serikat (AS),…