MigasReview, Bandung - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan pentingnya kebebasan berinovasi dalam
pengembangan teknologi, karena teknologi merupakan pilar penentu
strategi percepatan pembangunan, khususnya dalam pengembangan Energi Baru
Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) di Indonesia.
"Kalau mau
percepatan, tiga pilarnya yaitu, pertama, bisnis proses harus transparan dan
accountable, kedua, human capital yang mumpuni, ketiga, adalah teknologi.
Karena kalau tidak ditunjang teknologi maka percepatan yang terjadi kemungkinan
akan pelan, bahkan malah menjadi perlambatan," kata Arcandraesdm.go.id.
Masalah utama yang menjadi penghambat lahirnya sebuah
inovasi teknologi, khususnya dalam pengembangan EBT, menurut Arcandra
dikarenakan pola pikir di Indonesia yang terlalu kaku dan kurangnya ruang
kebebasan untuk berinovasi. Hal ini menyebabkan inovasi teknologi belum optimal
bahkan sering kali gagal di tengah jalan.
Perspektif Arcandra, dalam melakukan inovasi dan
pengembangan teknologi harus ada kebebasan. Apalagi, lanjut dia, dalam membuat
inovasi terkadang selalu menemui kegagalan. Namun, menurut dia, kegagalan itu
jangan sampai menjadi persoalan dikemudian hari, sehingga membuat para inovator
takut untuk berkreasi.
Pola pikir yang berkembang di masyarakat harus ada toleransi
terhadap kegagalan dalam sebuah pengembangan teknologi dan inovasi.
"Selama ini kita
zero tolerance terhadap kegagalan (dalam berinovasi). Padahal inovasi berasal
dari sebuah kegagalan," katanya.
Di Indonesia, lanjut dia, ada paradigma bahwa segala sesuatu
tidak boleh dilakukan kecuali yang disuruh, hal ini menjadikan setiap terobosan
yang akan dikerjakan perlu ada dasar ketentuannya.
"Kita sangat takut
sekali kalau (berinovasi) menciptakan sesuatu jika tidak ada cantolan hukumnya,
tidak akan ada yang berani. Kalau ini terjadi terus kapan kita bisa maju,"
ungkapnya.
Namun demikian, pemerintah tetap berupaya mendorong inovasi
pemanfaatan EBT untuk melistriki wilayah terluar Indonesia yang belum teraliri
listrik PLN, salah satunya melalui program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi
(LTSHE).
"Satu rumah dapat
empat lampu yang terkoneksi dengan panel surya," tutur Arcandra.
Program ini dibuat agar masyarakat di daerah terpencil
seperti di Papua dan sebagian wilayah Indonesia Timur bisa mendapat akses
listrik. Program LTSHE ini telah berjalan sejak tahun 2016. Pada tahun 2017
realisasinya telah mencapai 79.556 rumah di lima provinsi.
Tahun ini, lanjut Arcandra, realisasinya ditargetkan
mencapai 175.782 rumah di 15 provinsi dan tahun 2019 diproyeksikan sebanyak
150.000 rumah yang dapat teraliri listrik melalui program LTSHE ini.
"Inilah Nawacita
Pak Presiden membangun Indonesia dari pinggiran, dengan membagikan gratis lampu
tenaga surya hemat energi bagi saudara-saudara kita di daerah terpencil,"
pungkasnya.

Komentar