George Barber

Teknologi Cerdas Perlu Regulator Cerdas

13 November 2018, Editor Anovianti Muharti

facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

Judul artikel ini terbesit ketika saya menonton konferensi Bali Fintech yang baru-baru ini diadakan, dimana Presiden Indonesia membuat pidato yang luar biasa yang sangat diapresisasi oleh para hadirin. Presiden mengangkat "The Game of Thrones", ia berkata “Ada banyak keluarga besar, bertempur satu sama lain untuk menguasai 'Tahta Besi'”


Dia juga membuat pernyataan berikut:

"Cegah interferensi pemerintah yang berlebihan yang terlalu dini dalam proses inovasi."

"Beri kepercayaan untuk berinovasi tanpa rasa takut akan tanggung jawab pidana."


Di sebuah artikel yang baru-baru ini diterbitkan oleh Jakarta Post mengacu pada panasbumi, Bapak Prijandaru Effendi, ketua Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) menepis klaim pemerintah soal cerita sukses panasbumi. Ia mengatakan bahwa setidaknya membutuhkan lebih dari tiga dekade untuk berhasil di sektor ini.


Saya memiliki empat pendapat mengenai ini. Tak perlu diragukan lagi bahwa banyak regulasi dan campur tangan pemerintah yang berlebihan menghambat inovasi dan teknologi di banyak sektor industri di negara ini, termasuk industri eksplorasi. Ada rasa takut yang dirasakan oleh pembuat keputusan di negara ini jika suatu bisnis gagal dan merugikan secara finansial, padahal hal tersebut dilakukan sebagai bentuk upaya inovatif untuk membantu meningkatkan impor minyak dan gas di Indonesia dan juga mengembangkan investasi panasbumi yang sangat potensial.


Pengembangan panasbumi memang membutuhkan waktu, rata-rata dari tahap awal produksi dapat memakan waktu delapan tahun atau lebih, bahkan sampai 15 tahun. Oleh karena itu, jika memperoleh kepercayaan investor saja bahkan juga memerlukan waktu yang lama, termasuk sejumlah uang untuk berinvestasi (banyak diantaranya investor telah merugi), bukanlah sesuatu yang benar. Ini berarti ada tanda-tanda kekhawatiran dari para investor akan target yang ditetapkan oleh pemerintah untuk energi terbarukan yang sangat mungkin tidak terpenuhi, Wajar, karena sebelumnya pemerintah memang telah merencanakan pembangunannya di 2025 namun sekarang berubah menjadi 2030.


Kepercayaan Investor

Cukup wajar untuk mengatakan bahwa pemerintah Indonesia saat ini belum berinvestasi sebagaimana seharusnya untuk sumber daya alam. Perlu digarisbawahi, kepercayaan investor di masa lalu tidak selalu sama di masa depan.


Banyak pembangkit listrik tenaga panasbumi yang telah dikembangkan saat ini, saya berani berkata bahwa dari banyak potensi yang ada, yang termudahlah yang telah dikembangkan. Investasi panasbumi itu kompleks, berbeda dengan batubara yang telah dan masih terus berkembang. Perbedaan biaya investasi pembangkit listrik di antara keduanya luar biasa besar. Investasi pembangkit listrik geothermal mencapai US$ 8 juta per 1 MW sedangkan untuk daya yang sama, investasi pembangkit listrik batubara hanya berkisar antara US$ 2-3 juta. Butuh sekitar US$ 400 juta untuk pembangkit listrik geotermal berdaya 50 MW.


Keempat pernyataan tersebut menyoroti apa yang terjadi dan tidak terjadi di industri panasbumi, minyak dan gas di Indonesia, yang pastinya turut menyeret deretan inkumben yang merupakan bagian dari "Game of Thrones" di Indonesia. Mereka terkesan memperlambat atau bahkan menghambat apa yang diharapkan Presiden.


Ada juga masalah lain yang juga dipaparkan di konferensi Fintech, "Geopolitik menjadi lebih penting saat ini daripada energi itu sendiri", tampak akan terus terjadi sampai pemilu di April tahun depan.


Baru-baru ini di sebuah pertemuan yang saya hadiri, saya memperoleh informasi bahwa anggaran eksplorasi untuk 2018 berkisar Rp 60 miliar (lebih kecil dari yang dianggarkan untuk 2019), atau sekitar US$ 4,1 juta. Jumlah ini sangatlah kecil mengingat berapa biaya metode eksplorasi konvensional. Kita sudah mendengar begitu sering bahwa Indonesia membutuhkan investasi, lalu bagaimana cara kita menarik investor-investor tersebut?


Bahkan ada orang lain menyampaikan kepada saya bahwa tampaknya Indonesia telah kehilangan hasrat untuk bereksplorasi, jika memang begitu, mengapa mengeluh tentang biaya impor minyak untuk kebutuhan negeri? Mengapa tidak berusaha untuk menolong diri sendiri dengan berswadaya bereksplorasi?


Akses Data Migas

Belakangan ini, peraturan baru telah dibuat. Untuk melakukan akses paket data migas di suatu wilayah kerja tertentu, sebelumnya investor dikenakan biaya sekitar US$ 80,000. Peraturan ini kemudian dicabut, aksesnya kini digratiskan, sebagai langkah untuk menarik lebih banyak investor di sektor hulu,


Ini merupakan langkah yang menarik, tetapi apakah itu akan benar-benar menarik lebih banyak minat? Sejauh yang saya ketahui, kualitas data yang tersedia saat ini sering kali tidak bagus, investor tetap akan berhadapan dengan resiko tinggi ketika melakukan penawaran suatu blok berdasarkan data-data ini. Yang pasti harga US$ 80.000 dianggap kecil dan investor tentunya tertarik jika memang data yang disodorkan dapat diandalkan. "Kepahitan akan kualitas yang buruk akan tetap berlangsung lama setelah manisnya harga minyak yang rendah dilupakan".


Secara pribadi, saya tidak melihat bahwa pemerintah melihat masalah yang sebenarnya, masalah ketidaktertarikan investor ini. Mengeluarkan biaya untuk mengakses paket data migas seperti menggaruk permukaan masalahnya saja, tidak mengangkatnya. Yang perlu dilakukan sederhana, eksplorasi dengan teknologi yang didukung oleh metode eksplorasi konvensional, berinovasi. Mengetahui potensi penuh dari setiap area itu penting. Lapangan migas raksasa, lapangan migas yang menua, potensi geotermal yang tersembunyi, semuanya berpotensi, kita hanya perlu tahu di mana mereka dan apa yang dikandungnya.


Mengapa pemerintah tidak mencoba mengembangkan daerah yang telah teridentifikasi mengandung sumber daya besar, seperti misalnya di Lampung yang mengandung satu miliar barel minyak, atau daerah lain yang dilaporkan memiliki 40 miliar barel minyak? Seseorang yang disegani menyebutkan ini kepada saya lalu saya bertanya, siapa yang mendengarkan, dia menjawab tak ada seorang pun. Peraturan bisnis yang kondusif diperlukan, teknologi cerdas diperlukan, keduanya berjalan beriringan, hal ini tampak tidak terjadi di Indonesia saat ini.


Teknologi dan proses pendanaan adalah dua sisi yang berbeda dari sebuah koin. Penyedia teknologi TIDAK seharusnya mencari pendanaan. Saat ini, pemerintah mengharapkan keduanya.

 

Ditulis oleh George Barber, Country Manager of Terra Energy & Resources Technologies, Inc.

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Perkembangan Harga Minyak dan Implikasinya

migas review Habis Lebaran, ketika kita di Tanah Air mulai sibuk halal bihalal, pasar minyak menunggu berlangsungnya sidang OPEC ke-174 di Wina (22 Juni 2018). Sebelum sidang, akan diawali dengan acara yang cukup prestigious, yaitu OPEC Seminar ke-7 (20 –…