Judul artikel ini terbesit ketika saya
menonton konferensi Bali Fintech yang baru-baru ini diadakan, dimana Presiden
Indonesia membuat pidato yang luar biasa yang sangat diapresisasi oleh para
hadirin. Presiden mengangkat "The
Game of Thrones", ia berkata “Ada
banyak keluarga besar, bertempur satu sama lain untuk menguasai 'Tahta Besi'”
Dia juga membuat pernyataan berikut:
"Cegah interferensi pemerintah yang
berlebihan yang terlalu dini dalam proses inovasi."
"Beri kepercayaan untuk berinovasi tanpa rasa
takut akan tanggung jawab pidana."
Di sebuah artikel yang baru-baru ini
diterbitkan oleh Jakarta Post mengacu pada panasbumi, Bapak Prijandaru Effendi,
ketua Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) menepis klaim pemerintah soal cerita
sukses panasbumi. Ia mengatakan bahwa setidaknya membutuhkan lebih dari tiga
dekade untuk berhasil di sektor ini.
Saya memiliki empat pendapat mengenai ini.
Tak perlu diragukan lagi bahwa banyak regulasi dan campur tangan pemerintah
yang berlebihan menghambat inovasi dan teknologi di banyak sektor industri di
negara ini, termasuk industri eksplorasi. Ada rasa takut yang dirasakan oleh pembuat
keputusan di negara ini jika suatu bisnis gagal dan merugikan secara finansial,
padahal hal tersebut dilakukan sebagai bentuk upaya inovatif untuk membantu
meningkatkan impor minyak dan gas di Indonesia dan juga mengembangkan investasi
panasbumi yang sangat potensial.
Pengembangan panasbumi memang
membutuhkan waktu, rata-rata dari tahap awal produksi dapat memakan waktu
delapan tahun atau lebih, bahkan sampai 15 tahun. Oleh karena itu, jika memperoleh
kepercayaan investor saja bahkan juga memerlukan waktu yang lama, termasuk sejumlah
uang untuk berinvestasi (banyak diantaranya investor telah merugi), bukanlah
sesuatu yang benar. Ini berarti ada tanda-tanda kekhawatiran dari para investor
akan target yang ditetapkan oleh pemerintah untuk energi terbarukan yang sangat
mungkin tidak terpenuhi, Wajar, karena sebelumnya pemerintah memang telah
merencanakan pembangunannya di 2025 namun sekarang berubah menjadi 2030.
Kepercayaan Investor
Cukup wajar untuk mengatakan bahwa
pemerintah Indonesia saat ini belum berinvestasi sebagaimana seharusnya untuk
sumber daya alam. Perlu digarisbawahi, kepercayaan investor di masa lalu tidak selalu
sama di masa depan.
Banyak pembangkit listrik tenaga panasbumi
yang telah dikembangkan saat ini, saya berani berkata bahwa dari banyak potensi
yang ada, yang termudahlah yang telah dikembangkan. Investasi panasbumi itu
kompleks, berbeda dengan batubara yang telah dan masih terus berkembang. Perbedaan
biaya investasi pembangkit listrik di antara keduanya luar biasa besar. Investasi
pembangkit listrik geothermal mencapai US$ 8 juta per 1 MW sedangkan untuk daya
yang sama, investasi pembangkit listrik batubara hanya berkisar antara US$ 2-3
juta. Butuh sekitar US$ 400 juta untuk pembangkit listrik geotermal berdaya 50
MW.
Keempat pernyataan tersebut menyoroti
apa yang terjadi dan tidak terjadi di industri panasbumi, minyak dan gas di
Indonesia, yang pastinya turut menyeret deretan inkumben yang merupakan bagian
dari "Game of Thrones" di
Indonesia. Mereka terkesan memperlambat atau bahkan menghambat apa yang diharapkan
Presiden.
Ada juga masalah lain yang juga dipaparkan
di konferensi Fintech, "Geopolitik
menjadi lebih penting saat ini daripada energi itu sendiri", tampak
akan terus terjadi sampai pemilu di April tahun depan.
Baru-baru ini di sebuah pertemuan yang saya hadiri, saya memperoleh informasi bahwa anggaran eksplorasi untuk 2018 berkisar Rp 60 miliar (lebih kecil dari yang dianggarkan untuk 2019), atau sekitar US$ 4,1 juta. Jumlah ini sangatlah kecil mengingat berapa biaya metode eksplorasi konvensional. Kita sudah mendengar begitu sering bahwa Indonesia membutuhkan investasi, lalu bagaimana cara kita menarik investor-investor tersebut?
Bahkan ada orang lain menyampaikan kepada
saya bahwa tampaknya Indonesia telah kehilangan hasrat untuk bereksplorasi, jika
memang begitu, mengapa mengeluh tentang biaya impor minyak untuk kebutuhan
negeri? Mengapa tidak berusaha untuk menolong diri sendiri dengan berswadaya
bereksplorasi?
Akses Data Migas
Belakangan ini, peraturan baru telah
dibuat. Untuk melakukan akses paket data migas di suatu wilayah kerja tertentu,
sebelumnya investor dikenakan biaya sekitar US$ 80,000. Peraturan ini kemudian
dicabut, aksesnya kini digratiskan, sebagai langkah untuk menarik lebih banyak investor
di sektor hulu,
Ini merupakan langkah yang menarik, tetapi
apakah itu akan benar-benar menarik lebih banyak minat? Sejauh yang saya
ketahui, kualitas data yang tersedia saat ini sering kali tidak bagus, investor
tetap akan berhadapan dengan resiko tinggi ketika melakukan penawaran suatu
blok berdasarkan data-data ini. Yang pasti harga US$ 80.000 dianggap kecil dan
investor tentunya tertarik jika memang data yang disodorkan dapat diandalkan.
"Kepahitan akan kualitas yang buruk
akan tetap berlangsung lama setelah manisnya harga minyak yang rendah
dilupakan".
Secara pribadi, saya tidak melihat
bahwa pemerintah melihat masalah yang sebenarnya, masalah ketidaktertarikan
investor ini. Mengeluarkan biaya untuk mengakses paket data migas seperti menggaruk
permukaan masalahnya saja, tidak mengangkatnya. Yang perlu dilakukan sederhana,
eksplorasi dengan teknologi yang didukung oleh metode eksplorasi konvensional,
berinovasi. Mengetahui potensi penuh dari setiap area itu penting. Lapangan
migas raksasa, lapangan migas yang menua, potensi geotermal yang tersembunyi, semuanya
berpotensi, kita hanya perlu tahu di mana mereka dan apa yang dikandungnya.
Mengapa pemerintah tidak mencoba mengembangkan
daerah yang telah teridentifikasi mengandung sumber daya besar, seperti misalnya
di Lampung yang mengandung satu miliar barel minyak, atau daerah lain yang
dilaporkan memiliki 40 miliar barel minyak? Seseorang yang disegani menyebutkan
ini kepada saya lalu saya bertanya, siapa yang mendengarkan, dia menjawab tak
ada seorang pun. Peraturan bisnis yang kondusif diperlukan, teknologi cerdas
diperlukan, keduanya berjalan beriringan, hal ini tampak tidak terjadi di
Indonesia saat ini.
Teknologi dan proses pendanaan adalah
dua sisi yang berbeda dari sebuah koin. Penyedia teknologi TIDAK seharusnya mencari pendanaan. Saat ini, pemerintah
mengharapkan keduanya.
Ditulis oleh George
Barber, Country Manager of Terra Energy & Resources Technologies, Inc.

Komentar