MigasReview, Jakarta.Ketika memperoleh amanat untuk melakukan tugas pengangkatan LIMA flowstation (anjungan lepas pantai) Laut Jawa, saat itulah Project Senior Manager PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) Taufik Aditiyawarman merasakan beban yang amat berat, suatu pertaruhan besar antara harga diri dan karier.
Kalau berhasil, kebanggaan yang tiada tara akan dia rasakan. Sebaliknya, kalau gagal, kariernya berada di ujung tanduk.
Bagi Taufik, pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman itu adalah bahwa manusia dituntut untuk selalu mencari terobosan dan berani ambil risiko, meski tentu saja keberanian itu harus terukur.
Keberhasilan pengangkatan anjungan itu adalah satu dari dua pengalaman Taufik yang menurutnya paling berkesan selama menjalani karier di sektor minyak dan gas (migas).
Pengalaman lain yang juga mengesankan baginya adalah ketika membuat platform dengan memakai bahan-bahan dari platform bekas.
Berikut penuturan Taufik kepada MigasReview.com saat ditemui di Jakarta akhir pekan lalu.
Saya kerja pertama kali di sektor migas yaitu ketika masuk ke Atlantic Richfield Company (Arco) setelah lulus pada 1992 dari Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB).
Saya ditawari dua pilihan, mau masuk produksi (operation) atau di konstruksi (project). Saya memilih di project. Pekerjaan saya adalah perencanaan development untuk konstruksi, mulai dari pengawas lapangan untuk platform sampai memasang platform di tengah laut.
Pada 1999, menjelang pengambilalihan Arco oleh BP (British Petroleum) saya sempat sekolah S-2 di Universitas Indonesia (UI) mengingat saat itu tidak banyak kegiatan.
Setelah BP masuk pada 2000, saya disuruh ngurusin proyek pengembangan yang tidak terlalu banyak. Sempat juga saya diberi kesempatan belajar manajemen proyek ala BP di Manchester. Pada 2009, saya masuk Pertamina sampai sekarang.
Platform Bekas
Waktu di Arco pada 1997, kami membuat platform dengan memakai platform bekas. Kami potong-potong platform di level base dan kemudian kami pindahkan ke tempat baru. Jadi, anjungan minyak yang nggak terpakai itu kami potong-potong, untuk kemudian dimanfaatkan di Balongan. Saat itu kan gas mulai dilirik. Gas mulai ada nilai uangnya, sehingga pengembangan lapangan gas mulai booming pada 1997.
Daripada fasilitas-fasilitas yang sudah tidak berproduksi tidak dipakai, ya lebih baik dimanfaatkan.
Kalau bikin baru atau beli baru itu gampang. Karena saya orang konstruksi, ya itu menarik karena di situlah tantangannya. Belum pernah ada orang yang melakukan relokasi seperti itu.
Lapangan Arco itu kan di Pulau Seribu sampai di atas Indramayu (dalam peta). Waktu itu, kami memindahkan dari lapangan Mike-Mike ke Lapangan Lima. Tapi dari Mike-Mike kami bawa dulu ke Balongan untuk fabrikasinya. Kami benerin. Kami konversi ke pemrosesan gas baru di pasang lagi di laut. Kami pasang lagi di lokasi baru di daerah Lima dan lepas pantai laut Jawa.
Ya, menariknya itu karena kami tidak bikin baru. Lumayan, bisa hemat sekitar 30 persen dibanding dengan bikin baru. Untuk ukuran kekuatan, buktinya sampai sekarang masih berdiri.
Pengangkatan LIMA Flowstation
Pengalaman paling mengesankan kedua adalah pengangkatan LIMA Flowstation. Pengangkatan konstruksi semacam itu bisa dibilang adalah yang pertama kali dilakukan. Tetapi saya tidak mau bilang pertama di dunia karena pada 1987 di North Sea itu sudah dilakukan meski metodenya berbeda. Nah, metode di LIMA itu adalah yang pertama di dunia.
Pengangkatan lima struktur secara bersama ini merupakan aplikasi teknologi terbaru dengan skala terbesar yang pertama di seluruh dunia. Proyek ini dilaksanakan karena anjungan lepas pantai di LIMA Flowstation mengalami penurunan (subsidence) dasar laut yang disebabkan oleh kompaksi batuan jauh di dalam tanah. Agar dapat beroperasi dengan baik dan aman dalam jangka panjang, anjungan perlu ditinggikan (deck raising).
Platform itu sudah ada sejak 1973 dan kami mulai merasakan penurunan dasar laut 12 cm per tahun.
Sebenarnya, tantangan bagi saya sendiri adalah bahwa itu merupakan hal yang baru.
Persiapan
Proses pengangkatannya hanya dua jam, tapi persiapannya itu enam bulan karena memasang alat-alatnya cukup susah. Anjungan dinaikkan sampai 4 meter karena anjungan yang terendam akan menyulitkan orang bekerja. Sampai dengan 2026, diharapkan ini bisa tetap kuat.
Proses persiapan selama enam bulan seperti memasang dongkrak hingga sebanyak 100 buah. Bayangkan saja, berat satu dongkrak saja hingga 5 ton.
Opsi pengangkatan diambil karena di sana masih ada potensi cadangan sampai 2026 hingga 2030. Saya evaluasi, kira-kira metode apa yang paling ekonomis. Opsi bikin platform baru, jelas nggak mungkin karena harganya US$ 1 miliar. Kami nggak punya duit. Lalu ada opsi bikin mobile production unit (MOPU) tapi itu operating cost-nya tinggi karena tiap lima tahun sekali selama tiga bulan harus dilakukan perawatan khusus sehingga berpotensi menghambat produksi. Ada banyak opsi. Lalu saya coba metode jack up. Saya search opsi itu di web. Di Amerika Serikat pernah dilakukan namun cuma satu platform. Saya kejar terus, siapa penyedia jasanya. Sampai-sampai, untuk meyakinkan diri, kami teleconference dengan project manager yang dulu melakukannya di Meksiko.
Nah, berarti opsi ini yang paling dekat dengan kasus yang ada di laut Jawa ini, pikir saya. Saya eksplorasi, saya presentasikan kepada manajemen. Kami kalkulasi semua kemungkinan, semua risiko kegagalan, sampai katakanlah, skenario kalau ambruk bagaimana.
Saya pikir, kalau ambruk, saya harus resign karena kredibilitas sudah habis, karir juga habis. Banting stir, nggak di migas lagi. Mesti jadi buruh atau jadi petani saja.
Jadi saya ambil tanggung jawab itu bukan tanpa risiko. Saya bilang itu taruhannya kepada manajemen. Tapi kalau manajemen tidak mendukung, ini tidak akan pernah terjadi. Problem pasti ada tapi opportunity itu harus kita manfaatkan.
Keberhasilan pengangkatan platform itu terus terang menjadi kebanggaan semua pihak. Saya bangga karena bisa merealisasikan seperti itu dan aman. Selain itu, pekerjaan ini dikerjakan mayoritas oleh kontraktor nasional, kecuali penyedia teknologinya.
Pelajaran dari situ sebenarnya adalah kita dituntut selalu mencari terobosan dan berani mengambil risiko, tapi tentunya risiko yang terukur. Jangan kita hanya melihat ilmu engineering karena engineer kan bilang ‘jangan’. Tapi, jangan sampai kita hanya melihat text book saja, melihat apa yang kita pelajari di kuliah dulu dan buku-buku referensi. Itu tidak ada kreasinya.
Kalau manajemen mendukung, karena semua tahu ada kalkulasinya. Proyek ini kami asuransikan, jaga-jaga kalau ambruk.
Dengan modifikasi ini, biayanya US$ 130 juta, bandingkan dengan bikin baru yang sampai US$ 800 juta. Efisiensinya jauh benar.
Produksi Tetap Jalan
Di tengah proyek ini, kami tetap bisa mempertahankan produksi, paling turun sedikit. Tadinya, kekhawatiran terbesar adalah kehilangan produksi.
Tadinya saya minta shutdown 60 hari. Ini yang pertama di Indonesia. Biasanya kalau shutdown, orang paling minta 10 hari. Ini nggak populer. Orang SKK Migas sempat bingung. Ternyata shutdown cuma 6 hari. Tapi dalam 30 hari, kami melakukan jumper aliran minyaknya.
Tentang Deck Raising LIMA Flowstation
PHE ONWJ telah melaksanakan pengangkatan dek/deck raising yang kedua pada LIMA Subsidence Remediation Project pada Rabu (19/9/2013). Pengangkatan kedua setinggi 3 meter yang berlangsung selama 2 jam 22 menit ini merupakan lanjutan dari pengangkatan pertama setinggi 1 meter yang telah dilaksanakan pada 4 September 2013.
LIMA Subsidence Remediation Project adalah proyek pengangkatan anjungan LIMA Flowstation (3 platform , 1 platform bridge, dan 1 flare bridge) setinggi 4 meter secara bersama-sama dengan metode “Synchronized Hydraulic Jacking System”.
Pengangkatan 5 struktur secara bersama ini merupakan aplikasi teknologi terbaru dengan skala terbesar yang pertama di seluruh dunia. Proyek ini dilaksanakan karena anjungan lepas pantai di LIMA Flowstation mengalami penurunan (subsidence) dasar laut yang disebabkan oleh kompaksi batuan jauh di dalam tanah. Agar dapat beroperasi dengan baik dan aman dalam jangka panjang, anjungan perlu ditinggikan (deck raising).
Setelah deck raising ini, pekerjaan selanjutnya adalah hook up guna penyambungan fasilitas untuk dikembalikan ke posisi awal.
Lapangan LIMA, terletak di Laut Jawa, sekitar 100 mil timur laut Jakarta, terdiri atas anjungan LIMA dan beberapa NUI (normally unattended installation/unmanned platform). Lapangan LIMA berada di wilayah kerja ONWJ yang dimiliki dan dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ.
Lapangan LIMA, termasuk ke 12 NUI, telah mengalami jalani penurunan dasar laut sejak 1997. Pengukuran penurunan di wilayah LIMA sudah menunjukkan tingkat penurunan sedalam 3,1 meter, dan penurunan anjungan NUI mencapai 5 m.
Lapangan ini menghasilkan 4000 barel minyak per hari dan 20 juta kaki gas per hari (mmscfd), dengan 75 mmscfd dihasilkan dari cadangan L-Parigi (Pertamina EP). (aw/cd)
MigasReview, Jakarta – Berkecimpung di sektor migas merupakan hal yang relatif baru bagi Kristanto Hartadi yang didapuk menjadi head of Department for Media Relations di PT. Total E&P Indonesie. Dia baru aktif di situ setelah puluhan tahun menjadi…

Komentar