MigasReview, Jakarta – Bagi Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini, tugas manusia adalah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sementara hasil adalah tugas Tuhan. Menurut Rudi, hidup itu mengalir saja. Dia tidak punya obsesi karena dia percaya semua sudah diatur oleh Tuhan.
“Ngapain kita repot-repot ngurusin urusan Tuhan. Kita kan percaya dengan takdir. Dan, salah satu Rukun Islam kan takdir. Jadi kita kerja saja, hasil nanti. Biar itu urusan Tuhan. Kalo kita bulet-bulet dengan keinginan kita, akhirnya kita menghalalkan berbagai cara. Itu yang berbahaya. Capek dan cepat tua juga,” kata Rudi.
Pernah menjabat sebagai wakil menteri di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menurut Rudi, tugas di SKK Migas meski lingkupnya lebih kecil, namun lebih menantang.
Berikut penuturannya kepada MigasReview.com yang menemuinya beberapa waktu lalu di kantornya.
Saya bisa masuk ke sektor perminyakan ini adalah sesuatu yang tidak saya rencanakan. Ketika masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) dulu, saya juga mendaftar di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) jurusan fisika. Dua-duanya lolos. Saya masuk juga di politeknik jurusan mechanical, dengan asumsi 2 tahun kuliah, lulus, lalu langsung kerja, entah di Astra atau di mana. Ayah saya hanya seorang mantri. Bisa sekolah saja saya sudah syukur. Saya mendaftar juga di Akabri namun masih proses.
Saya laporkan semua itu ke bapak saya dan beliau menyarankan saya untuk masuk ke ITB saja meski di bandingkan dengan 3 kampus lainnya, di ITB lebih banyak mengeluarkan biaya.
Bayangkan, seorang mantri kesehatan dengan delapan anak, bagaimana membiayai kuliah saya? Makanya, dengan susah payah saya selesaikan kuliah saya. Alhamdulillah, 1 semester sebelum lulus, Total Indonesie melamar saya karena mau mengembangkan gas. Cuma dengan wawancara setengah jam, saya diterima di perusahaan itu. Bulan depannya, saya digaji selama 6 bulan sampai lulus. Wah, senang sekali pada waktu itu. Saya bagi-bagi ke teman-teman.
Setelah lulus, saya diwajibkan untuk ke lapangan selama 2 minggu setelah wisuda. Waktu mau pergi ke lapangan, saya dipanggil dekan. Dia bilang: “Kami butuh pendidik. Mau nggak jadi dosen?”
Saya telepon orang tua saya untuk minta pertimbangan, ditawari jadi dosen dengan gaji Rp80 ribu atau tetap kerja di Total dengan gaji Rp470 ribu. Waktu itu tahun 1985, sehingga angka itu besar sekali. Bapak saya bilang: “Sudah, jadi dosen saja”.
Sebagai anak yang baik, saya turut nasihat orang tua.
Saya jalani menjadi dosen selama 2 tahun. Pada tahun ketiga, saya mendapat beasiswa dari Jerman. Dari 200 orang yang diuji, 11 orang dinyatakan lolos termasuk saya.
Setelah lulus pendidikan di Jerman, saya pulang ke Indonesia ‘dengan gaya’. Tapi apa yang terjadi? Setelah 5 tahun lamanya sejak saya lulus, saya bertemu teman-teman yang sudah kerja di Total, Vico, Unocal, dan lainnya.
Banyak perubahan dalam diri mereka. Sepatu bagus, pakaian keren, ada juga yang sudah mulai mencicil mobil. Saya masih jadi dosen dengan gaji Rp80 ribu. Sempat saya berpikir, kok saya memilih jadi dosen ya? Ah, tapi tidak apa-apa, batin saya.
Lalu, tiba-tiba orang mulai meminta saya untuk jadi trainer, memberi kursus tentang migas, lalu jadi konsultan di mana-mana. Grafiknya memang pelan tetapi terus naik.
Setelah saya jadi dosen, konsultan, dan lainnya, saya hidup tetap seperti biasa. Ini karena untuk mendapatkan semua itu bukan karena jabatan, tetapi karena profesi.
Saya memberi ceramah sebagai konsultan dan mendapat fee. Sekarang, kalau saya memberi ceramah, saya nggak boleh dapat fee. Kan sekarang sudah kepala SKK. Nanti bisa kena kasus gratifikasi.
Tapi itulah hidup. Saya nikmati semuanya.
Jadi ketika ditanya, kenapa pilih perminyakan? Saya bilang nggak tahu. Ketika masuk ITB, mulai dari jurusan elektro yang tertinggi sampai perminyakan yang terendah, kalau saya mau, saya bisa masuk ke mana saja. Entah kenapa pada waktu itu, saya merasa perminyakan ini challenging.
Setelah masuk jurusan perminyakan, teman-teman tidak percaya. Kata mereka, biasanya orang pintar itu ambilnya jurusan elektro, nanti kerjanya di PLN. Atau, pilih jurusan mesin sehingga nanti kerjanya di IPTN atau di Astra. Setelah 1 tahun kuliah, orang-orang baru percaya kalau saya ambil jurusan perminyakan. Mereka menganggap saya sudah gila. Mereka pikir, orang pintar kok ambil jurusan perminyakan yang peminatnya paling sedikit. Masuk tahun ke-4, saya dapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan.
Waktu saya kerja jadi dosen pada 1998, saya mendapat penghargaan sebagai dosen teladan. Terus saya membuat banyak hal, alat-alat yang canggih menggunakan komputer. Saya membuat banyak software. Saya juga buat banyak buku mengenai industri migas. Dari situ, akhirnya saya dinobatkan sebagai inovator nasional oleh Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) pada 2003-2004.
Semua itu, di balik hadiah dan reward itu, ada sebuah pekerjaan yang panjang.
Jadi kalau ada orang yang dapat reward, jangan hanya dilihat reward-nya karena di balik itu ada usaha yang sangat panjang. Saya jadi mahasiswa teladan, dosen teladan, dinobatkan jadi inovator nasional, jadi wamen. Semua itu adalah pekerjaan yang panjang yang saya jalani. Dan saya menjalaninya dengan kerja keras dan senang hati.
Ikhlas dan Tegar
Saya selalu berpikir ikhlas dan tegar saat menghadapi segala ‘tembakan’ dari sana-sini, jalan berlika-liku dan segala cobaan. Ketika sudah sampai kepada hasil, apapun hasilnya, kita harus terima dengan ikhlas. Orang yang selalu memikirkan hasil akan sengsara hidupnya.
Makanya, kalau saya ditanya apakah target lifting 840.000 barel per hari dapat dicapai, saya jawab: Insya Allah. Bukan tidak yakin, tetapi itu tadi, tugas saya hanyalah mengerjakan ini semua, hasilnya adalah urusan Tuhan. Yang menjadi performa kerja saya baik atau tidak itu adalah apakah surat-surat saya tandatangani atau tidak, keputusan saya laksanakan atau tidak, prosedur sudah dijalankan atau tidak. Kalau tiba-tiba misalnya (lapangan) sudah dibor tetapi alamnya nggak mau mengeluarkan minyak, salah siapa? Ada campur tangan Tuhan soal masalah hasil. Yang terpenting adalah kerja dengan benar.
Pernah sampai jam 02:00 di DPR, saya ‘ditembaki’ dari sana-sini. Sampai ada yang mengatakan: “ Kepala SKK Migas tidak perlu seorang profesor kalau (hanya) untuk membuat tabel”. Saya tenang-tenang saja. Orang itu takdir Tuhan, saya jadi profesor. Bagi saya, yang penting kerja dengan baik.
Dari sejak saya lahir sampai dengan saat ini, selama bekerja, saya tidak pernah melamar. Jadi dosen di ITB diminta, jadi dirut di PT. Lapi Laboratories diminta, jadi wamen diminta, di BP Migas diminta, jadi kepala SKK Migas pun diminta. Saya tidak pernah melamar. Mereka yang melamar saya. Jadi kalau ada yang minta untuk dibuatkan surat lamaran, saya nggak bisa karena saya nggak pernah buat lamaran. Dan itu semua Tuhan yang menghendaki. Seperti yang tadi saya katakan, yang penting kerja.
Jadi kita kerja saja, hasil nanti. Biar itu urusan Tuhan.
SKK Migas Lebih Menantang
Kalau ditanya lebih berat mana antara jadi wamen atau jadi kepala SKK Migas, ya lebih berat di SKK Migas. Kalau waktu jadi wamen lebih santai. Di sana memang mengurusi semua bidang, (mengatur) listrik, air, dan lain sebagainya. Tetapi itu ‘kulit’ saja. Di sini (SKK Migas) memang kecil (lingkupnya), migas saja, tetapi mengurus sampai dalam. Contohnya, ya sampai ngurusin bupati (yang mempermasalahkan sumur migas). Belum lagi kalau ada kasus. Ditelepon Sekretaris Kabinet: “Pak, ini ada kasus ramai di media. Kasus Chevron kok berkembang seperti ini?” Ya saya harus menerangkan. Untuk bisa menerangkan, saya harus tahu. Untuk tahu, saya harus nanya. Untuk nanya, harus rapat. Itu baru dari satu kasus.
Memang ada berapa kasus? Ratusan kasus. Itu yang non-rutin. Belum yang rutin. Harus ada orang membangun, harus ada POD, harus ada yang di tandatangani, harus ada izin produksi, dan banyak lagi. Belum lagi kalau ada courtessy call. Itu kan mengantre. Harus wawancara dengan wartawan. Tapi kalau wawancara dengan wartawan itu kan pelipur lara. Semua harus kebagian dan saya tidak membeda-bedakan. Semua saya berikan porsi yang sama. Mau wartawan kek, mau CEO dari Amerika, saya kasih porsi yang sama.
Intinya, dengan segala kesibukan ini, saya sangat senang karena bisa memberikan tenaga dan pikiran untuk siapapun.
Bayangkan, dulu saya masih mengajar di UPN Yogyakarta. Saya diberi ongkos untuk kereta api, padahal untuk ke sana saya harus pakai pesawat terbang. Nombok dong. Tetapi itu saya jalani karena memang sudah menjadi tugas saya pada waktu itu ketika masih menjadi dosen ataupun konsultan.
Sekarang dengan posisi kepala SKK Migas, emangnya tidak nombok? Kadang-kadang nombok, untuk misalnya memberi sumbangan. Kalau mau dibuat perbandingan, paling enak dulu waktu jadi konsultan. Penghasilan saya bisa beberapa kali dibandingkan di SKK Migas. Bisa berlipat-lipat kali dibandingkan gaji wamen. Tapi begitulah, hidup ini memang menarik.
Makanya saya suka joke sama teman-teman. “Pak Rudi, jangan begini, nanti umurnya di sini (SKK Migas, red) sebentar. Nanti dipecat”. Terus, waktu di DPR saya dibilang agar baik-baik sama DPR. Kalau tidak nanti didongkel atau dikasih mosi tidak percaya. Kata saya: “Terus kenapa kalau begitu? Nggak ada masalah”.
Hidup itu tidak ditentukan oleh jabatan sama sekali. Dan kebahagiaan tidak ditentukan oleh jumlah harta kekayaan. Kadang-kadang waktu saya nongkrong di (kantor) ini, terdengar suara adzan dari bawah. Dari atas sini, kelihatan bapak-bapak dan ibu-ibu pergi ke masjid mau pengajian. Kadang-kadang suka trenyuh hati ini. Orang lain sore-sore sudah bisa mandi, pakai kaos, pakai kopiah dan pergi ke masjid untuk mempelajari ilmu agama. Sementara saya masih harus jungkir balik di kantor. Kadang kadang saya merasa iri sama mereka. Tapi kalau kata orang yang di bawah itu, mungkin begini: “Wah, enak si bapak yang berkantor di atas sana itu. Pakai jas, dasi, ruangannya ber-AC”.
Jadi pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga lebih hijau itu memang benar. Saya merasakan di semua level. Makanya, saya sering dimarahi ketika naik ojek. Saya dimarahin staf saya karena tidak pakai ajudan. Terus kenapa kalau tidak pakai ajudan? kata saya. Bagi saya, itu biasa saja.
Tapi ya, inilah hidup. Saya nikmati saja. Nanti setelah dari sini saya mau kemana, saya nikmati saja. Kalau ada orang bertanya kepada saya: “Pak Rudi, obsesinya apa?” Saya jawab: “Saya nggak pernah ada obsesi”. Yang terpenting bagi saya, besok saya melakukan apa. Dalam hidup ini, kita harus siap dengan apa yang kita miliki saat ini. Apakah itu anak, istri, harta, atau jabatan. Anytime itu bisa berubah dan bisa lepas. Kalau bukan mereka yang meninggalkan kita, mungkin kita duluan yang akan meninggalkan mereka. Jadi, ya hidup ini dijalani santai saja. Semua itu urusan Tuhan. (jamal saripudin/cundoko aprilianto)
Total Exploration & Production menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager Total E&P Indonesie (TEPI) dan Group Representative untuk Indonesia yang baru menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa…

Komentar