MigasReview, Jakarta
- PT Pertamina (Persero) mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) dengan meningkatkan campuran bioethanol ke bahan bakar minyak (BBM) jenis
Premium berbahan dasar tebu.
"Kita banyak menghasilkan tebu yang merupakan solusi untuk mengurangi
impor BBM," ujar Manager Technology and
Product Development Direktorat Energi Baru Terbarukan PT Pertamina (Persero)
Andianto Hidayat di Jakarta, Kamis (9/4).
Untuk
menghindari tumpang tindih penggunaan tebu sebagai komoditas makanan dan
sebagai bahan bakar,
lanjut Andianto, Pertamina juga akan mulai memanfaatkan bahan baku rumput gajah.
"Kami ingin mendekat ke sana. Kami ingin benar-benar
bebas dari penggunaan jenis
tanaman yang berhubungan dengan makanan. Makanya sekarang kami sedang mengembangkan
rumput gajah untuk bahan baku bioetanol," jelas Andianto.
Apalagi pemerintah yang kini tengah menerapkan mandatori biodiesel 15 persen (B15) juga tengah menjajal generasi kedua mandatori dengan
bioethanol meski baru
2 persen.
Andianto mencontohkan Brasil yang sukses dalam pemanfaatan bioethanol
dan kini campuran untuk BBM sejenis Premiumnya sudah mencapai
80-90 persen (E80 dan E90). Yang menarik, mesin
produksi Toyota di Indonesia yang mampu
mengonsumsi BBM dengan campuran bioethanol dan diekspor
ke Brasil memiliki ongkos produksi paling
murah.
"Sedangkan di Indonesia, kita
punya ethanol namun produksinya dipakai orang luar sementara kita tetap pakai
minyak," ungkap Andianto.
Sebagai catatan, Brasil adalah negara produsen bioethanol terbesar
kedua di dunia dan banyak
mengekspor sumber energi tersebut. Brasil dan Amerika
Serikat saat ini menguasai 87,8 persen produksi ethanol dunia.
"Sedangkan di Indonesia, pemerintahnya baru menerapkan
mandatori bioethanol sebesar 2 persen, jauh
dibandingkan Brasil yang telah 80 persen. Seharusnya pemerintah kita lebih berani lagi,” kata dia. (aw)

Komentar