Pertamina EP Hadapi Tantangan Kelola Lebih dari 2.100 Sumur Migas Aktif

11 April 2017, Editor Anovianti Muharti

facebook
10
twitter
google+
1
linkedin
1

MigasReview, Cirebon – Pelaksana Tugas Harian (PTH) President Director PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengatakan, Pertamina EP (PEP) dihadapkan dengan tantangan berupa luasan Wilayah Kerja (WK) Pertambangan yang mencapai seluas 113.614 km2 dan PEP mengelola lebih dari 300 struktur minyak dan gas bumi (migas) serta lebih dari 2.100 sumur migas aktif di seluruh Indonesia.

"Sesuai dengan Undang-undang Migas No. 22 Tahun 2001 tepatnya pasal 66 ayat b, WK PT Pertamina EP adalah WK yang dahulu dikelola oleh PT Pertamina (Persero). Dengan potensi luasan wilayah tersebut dimana mayoritas fasilitas kami merupakan asset yang mature, kami tetap berupaya semaksimal mungkin untuk menjawab tantangan tersebut agar produksi migas yang ditargetkan dapat kami penuhi,” ujar Nanang, Selasa (11/04/2017).

Tidak hanya asset dan fasilitas produksi yang mature yang digarap secara serius. PEP juga juga menggarap beberapa proyek yang on stream dalam tiga tahun terakhir.  Proyek Pengembangan Cikarang Tegal Pacing dengan target produksi gas puncak mencapai 14 MMSCFD, sudah on stream Maret 2017.

Sementara yang on stream April 2017 adalah  Proyek Pengembangan gas Matindok yang menelan biaya US$692 juta  dan  Proyek Pengembangan Paku Gajah yang menelan biaya US$139,7 juta. Kedua proyek tersebut kapasitas produksinya masing- masing 105 MMSCFD dan 45 MMSCFD serta  kondesat 1.100 BOPD.

Satu project lainnya yaitu Project Pengembangan Lapangan Jirak (EOR) yang sudah mencapai progress fisik sebesar 7.6%, ditargetkan akan rampung pada Desember 2018 dengan target tambahan produksi mencapai 2.780 BOPD.

"Diharapkan dengan on streamnya 2 project tersebut, kami dapat melampaui target produksi yang ditetapkan sebesar 85.000 BOPD dan target laba bersih sebesar US$ 596 juta,” jelas Nanang.

Pencarian Cadangan

Selain itu, upaya pencarian cadangan juga  menunjukkan peningkatan signifikan. Kinerja seismik 2D 2016 mencapai 100% yaitu sebesar 953 km dan seismik 3D 2016 mencapai 128% yaitu sebesar 1.008 km. Dan untuk target Seismik 2017 untuk 2D mencapai 883 km dan 3D mencapai 621 km.

"Untuk tren ke depan, menurut kami potensi yang besar letaknya ada di Kawasan Timur Indonesia. Dan kami sudah masuk di Kawasan Timur Indonesia seperti di Papua Barat dengan kegiatan seismik Klamasosa dengan total luasan 500 km yang dikerjakan secara multiyears, untuk tahun 2017 ini target sebesar 200 km dan sisanya 300 km di tahun 2018,” ujarnya.

Nanang menambahkan, bahwa  sebelumnya di sekitar tahun 2014 Pertamina EP  juga mendapatkan temuan eksplorasi di Sumur Piraiba di Tanjung Kalimantan Selatan,

"Melihat potensi dari sumur Piraiba tersebut tahun ini kami masuk kegiatan seismik di Tanjung dengan target total 350 km. Kemudian kami akan menambah data seismik 2D di area Tanjung Area Barat,” jelasnya.

Terkait seismik Kupalanda di Area Bintuni, Papua Barat yang sudah berjalan sejak tahun 2016. Nanang mengatakan, pihaknya menargetkan hasil penemuan di sana harus signifikan.

“Karena apabila temuan cadangannya kecil maka tidak akan ekonomis mengingat upaya yang dilakukan sangat besar karena areanya mayoritas merupakan rawa. Maka dari itu, berangkat dari kegiatan sebelumnya, Kami akan review hasil dari seismik di Kupalanda apakah potensinya sesuai dengan target yang diharapkan,” pungkasnya.

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Peraturan Penyediaan LTSHE Telah Diterbitkan

MigasReview, Jakarta - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo secara resmi telah mengesahkan peraturan terkait penyediaan listrik bagi masyarakat yang berada di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, daerah terisolir dan pulau-pulau terluar. Regulasi…