Sesuai dengan tekadnya untuk tetap menjadi geologist merdeka, Andang hingga saat ini tidak mau terikat dengan isntitusi apapun. Tapi dia tetap bersedia turun tangan jika dimintai bantuan.
Cerita tentang ketertarikannya kepada geologi juga menjadi kisah menarik. Hanya karena markas mahasiswa geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dipenuhi oleh anak-anak berambut gondrong yang hobinya main gitar, Andang merasa ‘klik’ dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke jurusan itu.
Berikut penuturan Andang kepada MigasReview.com yang menemuinya beberapa waktu lalu di sela kesibukannya sebagai konsultan di berbagai institusi namun masih tetap cinta dengan dunia kepecinta-alaman ini.
Saya nggak ngerti geologi waktu SMA. Lulus SMA, saya mendaftar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan langsung dimarahi bapak saya. Serius. Semasa SMA di Malang, saya adalah penggiat teater, juga keluyuran ke sana-kemari, dan mendaki gunung. Karena tidak diperbolehkan masuk IKJ, ya saya nurut. Bapak saya menyarankan agar saya masuk Sastra Inggris di IKIP Malang.
Belum genap satu semester, baru tiga bulan, saya berhenti dan masuk ITB. Karena apa? Waktu itu kita masih menganut sistem SKALU alias Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas. Ini adalah sistem ujian masuk secara serentak di mana para calon mahasiswa tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk menempuh beberapa ujian masuk perguruan tinggi negeri favorit pada waktu dan tempat yang berbeda demi meningkatkan kemungkinan diterima.
Jadi, waktu itu ada teman yang tidak jadi tes. Terus dia mengajak saya. Intinya, saya dapat formulir gratis pada waktu itu. Langsung saja bapak menyuruh saya masuk ITB dan saya lulus tes.
Sebelum masuk penjurusan, mahasiswa baru menempuh perkuliahan umum. Biasanya, mereka memilih jurusan favorit seperti elektronika dan mesin. Tapi saya milih geologi. Karena apa? Sebelumnya, saya seringkali lihat anak-anak geologi, tambang, perminyakan ngumpul di belakang kampus bagian pojok. Namanya ‘Timur Jauh’. Isinya anak-anak gondrong. Nah, yang gondrong di ITB itu cuma dua. Kalau nggak anak geologi, ya anak seni rupa. Gondrong, nggak pernah mandi, pakai jaket, gitar-gitaran saja. Saya merasa ‘Wah, asyik nih”. Akhirnya saya masuk kesitu. Ya, saya kenal geologi dari gondrong dan gitar-gitaran itu. Tapi saya tetap main drama, tetap ke mana-mana, ngamen ke sana-sini. Pada waktu kuliah, saya juga aktif juga di kegiatan kampus, di dewan mahasiswa waktu itu.
Saya lulus kuliah pada 1984 dan langsung kerja di perusahaan migas Huffington Company dan bertahan di sana selama 17 tahun.
Saya betah sampai 17 tahun bukan karena saya mikir fasilitas dan macem-macemnya. Saya hanya berpikir kalau saya suka dengan geologi, ya sudah, saya lakukan itu. Setelah keluar dari Huffco pun, saya murni geologist, padahal teman-teman saya sudah jadi kepala divisi, manajer, dan vice manager. Tapi saya tidak pernah mau mengambil jalur itu.
Saya suka riset, saya suka geologi sampai sekarang. Saya memutuskan keluar dari Huffco yang sekarang menjadi Vico pada 2000. Di sana ‘terlalu kecil’ bagi saya, dalam artian, saya nggak bisa gerak melihat Indonesia karena daerahnya cuma di Kalimantan saja.
Geologist Merdeka
Setelah bekerja 17 tahun, saya keluar dan memproklamirkan diri sebagai geologist merdeka. Dan, sampai sekarang saya masih ngerjain geologi, yang mungkin teman-teman saya sudah tidak melakukannya lagi. Setua ini saya masih ngerjain geologi. Saya mengajar, saya riset, dan saya survei. Bagi saya, geologi itu ya ke lapangan, melihat batu dan merekonstruksi sejarahnya untuk bermacam-macam kepentingan. Misalnya untuk prediksi bencana, mencari emas, batubara, minyak dan gas. Itu yang saya lakukan sampai sekarang. Jadi, sejak 2000 sampai sekarang, selama 13 tahun saya jadi geologist merdeka. Saya juga menjadi konsultan, punya laboratorium petrografi dan petrologi di sini. Ya, mengalir saja sih.
Waktu saya keluar itu bersamaan dengan pendaftaran dalam pemilu ketua IAGI. Saya ingin mengurus geologi Indonesia. Sebelum masa saya, IAGI dipimpin oleh orang-orang yang umurnya 55 tahun ke atas. Begitu saya pegang pada 2000 sampai 2005, saya rombak semua. Waktu itu, umur saya masih sekitar 38-39 tahun. Ketika saya pegang, pengurusnya beranggotaan anak muda semua. Lima tahun saya pegang IAGI, dan sekarang saya duduk di dewan penasihat IAGI.
Ogah Disogok
Selama bergerak di bidang ini, banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan. Macem- macem. Tapi yang saya mau cerita adalah saya pernah dimintai ‘tolong’ oleh seorang senior. Sambil menyodorkan duit, dia bilang,“Ndang, tolong, saya mau jualan blok nih. Saya tahu kamu dipakai oleh klien kamu untuk mengevaluasi blok saya. Tolong jangan dijelek-jelekin lah bloknya”.
Kemudian saya jawab,”Wah Mas, kalau seperti ini caranya, saya nggak akan bertahan 11 tahun (di geologi). Saya akan evaluasi sesuai dengan kenyataan”.
Yang seperti itu tidak hanya sekali. Berkali-kali saya ditawari seperti itu. Saya kan mengevaluasi blok-blok di Indonesia karena saya tahu isinya berapa, blok ini isinya berapa.
Kali lain ada salah satu pengusaha yang mau bekerjasama dengan sebuah BUMD di salah satu provinsi dengan sistem 75:25. Saya dimintai tolong oleh sang gubernur untuk mengevaluasi apakah si pengusaha itu bisa masuk atau tidak. Nah, si pengusaha itu dengan membawa dolar segepok bicara ke saya,” Pak, ini oleh-oleh dari kami. Jadi, tolong deh nanti bisa dipertimbangkan.”
Kalau saya menerima yang seperti ini, saya tidak akan selamat kerja sampai sekarang. Dan, hal-hal kayak gini banyak terjadi di oil and gas kita.
Seringkali saya arahkan anak-anak di sini. Saya bilang,”Kalau saya tahu kalian melakukan hal-hal semisal hanky-panky, saya cabut deh. Nggak bisa saya seperti itu”.
Saya selama ini 13 tahun survive karena saya tidak melakukan itu semua. Orang butuh saya karena kemampuan saya, bukan karena saya bisa disogok. Makanya, di beberapa company, saya di-backlist dengan alasan ‘Andang tidak pernah memberi kickback’. Saya hanya memberi jasa yang high quality.
Sebagai orang merdeka, saya berani ngomong ke sana ke mari tanpa takut. Pernah salah satu murid saya mengatakan, “Pak Andang itu kalau ngomong di facebook, di TV, dan di koran, selalu mengkritik ini-itu”.
Saya tidak mengkritik. Saya cuma ngomong apa yang benar dan apa yang salah. Saya tidak takut tidak dapat project. Saya survive kok selama 13 tahun ini. Pengetahuaan saya tentang hal-hal teknis dipakai bener sama orang. Dengan pengetahuan itu pula saya akan ngomong secara legal dan moral. Insya Allah, saya akan tetap seperti itu. Ya, karena inilah hidup saya. Saya akan mempertahankan integritas itu.
Bebas Atur Jadwal
Sebagai geologist merdeka, saya bisa mengatur jadwal sendiri. Makanya, saya seperti ini saja. Saya mengajar geologi di ITM sebagai dosen tetap, di UI sebagai dosen luar biasa untuk oil and gas. Selebihnya ya riset, banyak bimbingan juga.
Sampai sekarang, saya juga membina kelompok pecinta alam di Malang, yang beranggotakan anak SMA dan mahasiswa. Selama lima tahun terakhir ini, kelompok tersebut saya arahkan ke mitigasi bencana dan memetakan daerah pengungsian.
Saya juga aktif di forum konsultasi daerah penghasil migas yang dibentuk pada 2001. Di sini, daerah-daerah penghasil migas seluruh Indonesia berkonsolidasi. Kalau ada masalah diomongin dan diperjuangkan. Di sini saya sudah bertahun-tahun. Jarang orang yang tahu seluk beluk industri ini mau di situ. Saya ya voluntir saja di situ. Tapi saya jadi dekat sama mereka. Kalau ada apa-apa, saya dipanggil ke sana-kemari. Di Komisi Amdal Pusat Kementerian Lingkungan Hidup, sejak 1991 saya juga sudah di sana. Di situ saya mengurus masalah pencemaran air tanah. Itu dulu adalah disiplin yang saya pelajari tetapi tidak saya praktikkan sehari-hari di profesi oil and gas.
Di beberapa perusahaan besar, status saya adalah on call. Saya selalu bilang ke mereka: ”Saya tidak bisa kalian ikat. Kalau kalian butuh, saya datang”. Jadi, saya tidak pernah dijadikan pegawai di manapun. Bener-bener merdeka! (jamal syarifudin/cundoko aprilianto)

Komentar