Komaidi Notonegoro

Api di Dada dan di Dapur harus Sejalan

06 March 2013, Editor admin

Deputy Director Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0
Bagi Komaidi Notonegoro, bekerja harus dengan hati. Idealisme tetap tersalurkan tapi di sisi lain, tuntutan kebutuhan hidup juga tidak sampai terkorbankan. Dengan bergabung bersama Reforminer Institute, Komaidi merasa telah menemukan dunianya. Menyebut bidang yang digelutinya sebagai ‘pertarungan jalanan’ yang hanya dimasuki oleh orang-orang ‘setengah gila’, Komaidi merasa memiliki arti bagi perjuangan bangsa ini untuk menuju masa depan yang lebih baik di sektor energi. Dan, doa yang selalu diucapkannya adalah jangan sampai terbeli untuk kepentingan yang bertolak belakang dengan nurani.
Berikut penuturan Deputy Director Reforminer Institute Komaidi Notonegoro kepada MigasReview.com yang menemuinya beberapa waktu lalu.

Latar belakang saya sebenarnya bukan dari ilmu yang berhubungan dengan perminyakan atau energi. Saya dari Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga angkatan 2002. Saya lahir tahun 1982. Apa yang membuat saya tertarik ke ekonomi? Motifnya sederhana. Sebenarnya, saya dulu sempat mendapat rekomendasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Airlangga karena beberapa kali menjuarai kejuaraan karya tulis. Tapi kalau saya masuk FK, saya tidak bisa nyambi bekerja mengingat sejak SMA, Bapak sudah meninggal. Akhirnya pada tahun pertama, saya putuskan untuk melepasnya dan masuk ke Fakultas Ekonomi. Saya lalu bergabung dengan bimbingan belajar buat adik-adik yang mau mempersiapkan diri menghadapi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Setiap pulang kuliah, saya mengajar di Primagama. Kalau masih ada waktu, saya memberi les privat untuk murid SMP dan SMA. Sesederhana itu motifnya.
 Setelah lulus S1, saya berkarir di Bursa Efek Indonesia selama 3 tahun. Pertemuan dengan Mas Pri Agung Rakhmanto, Direktur Reforminer, membuat saya akhirnya terjun ke bidang ini. Sebelumnya dan sampai sekarang, saya menjadi tenaga ahli di parlemen meskipun hanya bantu-bantu menyiapkan materi sejak 2009. Tapi saya tidak pernah intens di sana, hanya di balik layar supaya seimbang antara kemampuan eksekutif dan legislatif. Saya mengambil master ilmu ekonomi di Universitas Trisakti dan kini tengah dalam proses mengambil doktor. Rencananya, mungkin ke Belanda atau Inggris untuk mendalami ekonomi energi.
Saya ingin ke sana karena menurut cerita teman-teman, meski ilmunya tidak beda jauh dengan yang ada di dalam negeri, tapi pengalaman hidup dan berhadapan dengan berbagai kasus langsung bisa didapatkan di sana. Kualitas pengajar sebenarnya lebih pada bagaimana dosen mengajarkan pada anak didik. Di sana, anak didik dilepas. Diberi referensi, belajar sendiri, yang tidak tahu, besok ditanyakan. Banyak mandirinya. Lebih banyak praktik daripada teori. Dikasih literatur, akses mudah ke perpustakan, Internet di kasih link-link-nya. Kampusnya berlangganan e-book. Jadi, semua tergantung pada kemampuan dan kemauan kita untuk membaca.

Migas Lebih Miris

Bekerja di Reforminer adalah kombinasi dari panggilan hati yang kemudian klik dengan kondisi saat ini. Saat dulu bekerja di bursa, saya ditempatkan di bagian manajemen surat utang negara. Akhirnya saya tahu seperti apa pengelolaan utang kita, yang menurut saya tidak baik manajemennya. Sebagai anak bangsa, saya menjadi miris. Ketika bertemu Mas Pri Agung, dia bilang, sektor migas lebih miris dari itu. Akhirnya saya bergabung dengan dia dan belajar migas dari dia yang lulusan Teknik Perminyakan ITB, juga secara otodidak, baca buku. Ketika di parlemen, saya juga banyak tahu data soal ini karena saya di Komisi VII yang membidangi energi.
Betul saja. Begitu saya mendalami bidang ini, benar apa yang dikatakan Mas Pri Agung. Sektor migas ini sudah darurat, sudah kritis, tapi sense of crisis pemerintah kita tidak ada. Pasokan energi kita dan cara berpikir government kita krisis.
Kebutuhan BBM bersubsidi kita sudah mencapai 1,3-1,4 juta kiloliter per hari, sementara produksi hanya 800-900 barel per hari. Kalau diambil 60 persennya, kita dapat cuma 540 bpd. Itu gross, yang diolah cuma 75 persen dari itu. Sisanya kita harus impor rata-rata 750-850 ribu bpd.
 Itu yang menyebabkan defisit neraca pembayaran dan perdagangan. Impact-nya pada stabilitas nilai tukar yang diasumsikan pada Rp9.000 yang sekarang sudah cukup jauh di atas itu. Ini tidak sederhana. Karena saya orang ekonomi, saya tahu ini bahaya. Di sisi lain, struktur ekonomi sekarang sudah bergeser. Kalau dulu basisnya ekstraktif yaitu pertanian dan pertambangan, sekarang industri dan jasa.
Kami pernah melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi energi kita per hari saat ini, termasuk BBM, dibandingkan 1990-an dalam menghasilkan PDB yang sama, butuh energi dua tiga kali lebih besar. Ini bukan karena penggunaannya yang tidak efisien tapi karena semua sektornya sudah lekat dengan energi. Kalau sekarang tidak ada BBM, industri tidak bergerak, sementara mobil juga tambah banyak.
Makanya, kita defisit pasokan energi. Di Asia Pasifik, kita paling rentan. Per hari, kilang mereka surplus, tapi kilang Indonesia defisit padahal kita juga bagian dari Asia Pasifik. Konsumsi minyak di Asia Pasifik per hari dengan meningkatnya ekonomi China dan India sudah mencapai 65 persen dari total konsumsi dunia sementara cadangan di Asia Pasifik cuma 30 persen. Oleh karena itu, bagi China, India, dan Jepang, mainan mereka sudah di Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah. Kalau kita, berkutat di konteks domestik saja tidak selesai-selesai.

Setengah Gila

Reforminer ini kami bikin pada 2008. Dan, lembaga riset seperti kami ini, yang lebih mengarah ke kebijakan, tidak banyak orang yang mau menekuninya. Yang mau adalah orang-orang ‘setengah gila’. Rata-rata teman di kampus yang memiliki kemampuan bagus memilih bekerja di tempat yang besar. Model seperti ini bukan pilihan mereka. Teman-teman yang juga keluar dari BEI, memilih untuk bekerja di World Bank atau Bank Indonesia. Saya milih jadi petarung jalanan setengah gila ini. Tapi yang menjadi masalah di kita adalah seringkali antara api di dada dan api di dapur tidak balance. Saya ingin mengubah paradigma itu, bahwa sesungguhnya api di dada bisa disejalankan dengan api di dapur. Ini saya buktikan waktu zaman kuliah, saya menyambi kerja.
Sekarang di Reforminer dengan idealisme ini, bagi saya sendiri, untuk urusan api di dapur, saya tidak mau kalah dengan mereka yang bekerja di World Bank dan Bank Indonesia. Tapi yang saya jual adalah kualitas individu saya. Saya dipakai di Komisi VII, juga jadi advisor di beberapa perusahaan. Saya bisa ke mana-mana. Selain itu, saya punya kemerdekaan waktu. Yang penting, apa yang saya nikmati ini saya dapat dengan cara yang halal.
Saya yakin, kalau masing-masing dari kita punya kualitas, kita akan dipakai di mana-mana asalkan yakin dengan pilihan kita. Sebagai Muslim, saya percaya, Allah itu memberi kita rezeki dari 70-80 pintu. Di Reforminer ini, saya yakin pintunya bukan di sini saja, tapi syaratnya saya konsisten di sini. Kalau saya membuat statement, itu adalah untuk kebaikan bangsa. Apa yang saya tahu, saya sampaikan ke publik. Kalau belum memberi impact sekarang, pernyataan saya bisa menjadi catatan di masa depan bahwa dulu saya pernah ngomong seperti ini. Dan doa saya, semoga saya tidak pernah terbeli untuk kepentingan yang bertolak belakang dengan nurani. (cundoko aprilianto)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Tahan Penurunan Produksi Blok Mahakam

Total Exploration & Production menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager Total E&P Indonesie (TEPI) dan Group Representative untuk Indonesia yang baru menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa…