Tidak ada rencana dalam hidup Gde Pradyana untuk bekerja di pemerintahan mengurusi sektor minyak dan gas. Adrenalinnya yang tertantang oleh tingkat kesulitan membuat konstruksi platform minyak dan gas (migas) di lautan dan gelombang setinggi 100 meter di Laut Utara (North Sea) yang akhirnya menceburkan dirinya dalam dunia ini. Itu sejalan dengan filosofinya yang tidak mau terjebak dalam zona nyaman. Dia ingin jalan hidupnya berliku namun dia juga memohon kepada Tuhan untuk diberi kekuatan dalam menerjang tantangan itu.
Berikut penuturan Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradyana kepada MigasReview.com di kantornya baru-baru ini.
Saya menghabiskan masa SMA di Bandung. Saat itu tidak terpikir untuk bekerja di sektor migas. Saya banyak memiliki om. Ada yang menjadi tentara, dan yang menjadi insinyur cukup banyak. Nah, dari sekian banyak om saya, yang berlatar belakang insinyur sipil, menurut saya, hidupnya lumayan. Lulus SMA, saya mendaftar di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik sipil. Saya ingin mencari bidang di teknik sipil yang paling sulit. Usia 18-21 tahun itu betul-betul saya mencari tantangan. Bagian teknik sipil mana yang aneh, yang tidak banyak orang di situ, tidak banyak saingan, dan paling keren dari kacamata anak muda.
Tantangan itu saya lihat di konstruksi fasilitas produksi perminyakan. Bikin anjungan, platform. Hitungannya rumit. Rumus matematika paling sulit. Ketika lulus pada 1984, saya bekerja di Tripatra Engineering, perusahaan konstruksi engineering yang bekerja untuk oil company. Kami dapat banyak proyek di Tripatra. Anjungan di Laut Jawa itu sebagian saya yang mendisain.
Tertantang Gelombang 100 M
Suatu ketika, saya baca literatur tentang tempat yang paling sulit untuk buat konstruksi, yaitu Laut Utara dengan gelombang setinggi 100 meter. Bandingkan dengan Laut Jawa yang hanya 33 feet atau 10 meter. Ini serem juga. Saya mau ke sana. Saya lalu mencari bea siswa dan dapat dari Bank Dunia. Awal 1988, saya berangkat ke Inggris untuk mengambil master teknik lepas pantai.
Lulus 1989, saya teruskan mengambil S3 di ke Oxford karena di sana petroleum study-nya bagus. Lagi pula, siapa sih yang tidak mau ke Oxford? Kalau saat mengambil master, saya belajar tentang anjungan yang fixed, saat mengambil doktor, saya belajar tentang anjungan yang terapung. Ini sangat matematik, bagaimana membuat model matematik dari sebuah bangunan fisik.
Dulu saat mendisain anjungan di Tripatra pada 1984-1985, saya memakai kalkulator untuk menghitung koordinat titik-titik sambungan. Di titik mana akan ketemu. Setelah dapat koordinatnya, baru saya entri ke komputer. Sekarang, ini sudah kayak main playstation saja. Kalau saya lihat program engineering sekarang dibandingkan dulu…..jauh!
Itulah kemajuan teknologi. Tapi bagi saya, yang penting adalah siapa yang mengendalikan teknologi itu. Secanggih apapun komputernya, kalau yang entri data salah, ya akhirnya salah juga. Kalau yang menginterpretasikan hasil komputer salah, pelaksanaan di lapangan akan salah juga. Jadi yang penting adalah orangnya. Dulu sibuk menghitung, sekarang sibuk menginterpretasikan hasil hitjungan. Itulah perubahan paradigma engineering.
Lulus doktor, saya pulang tahun 1992, dan bingung mau ke mana. Akhirnya saya balik ke ITB jadi dosen. Tak lama kemudian Pak Rudi (Rubiantara-Kepala SKK Migas) pulang dari Jerman. Dia orang perminyakan, pakar sub surface. Kami sering kerja bareng. Dia mengerjakan bawah permukaan tanah, saya orang fasilitas, mengerjakan yang di atas permukaan tanah seperti pipeline dan anjungan. Kalau mengebor cari minyak itu kerjaannya Pak Rudi.
Multi Disiplin Ilmu
Dunia migas itu multi disiplin ilmu. Dari awal mencari minyak hingga pengangkutannya membutuhkan banyak tenaga ahli dari berbagai bidang. Teman dari teknik kimia yang mendisain mendisain pabrik, teknik mesin untuk equipment, teknik elektro untuk listriknya. Pengeboran tidak bisa dikerjakan kalau tidak ada orang geofisika yang bisa membaca gambar seismik. Merekalah yang menyurvei daerah lalu gambarannya diinterpretasikan, titik mana yang mau dibor. Tapi itu tidak akan bisa jalan kalau tidak ada orang geologi yang memperkirakan kira-kira surveinya di situ. Orang teknik perminyakan mengambil core, apakah mengandung minyak atau tidak. Kalau positif, datanglah orang keuangan yang akan menghitung, apakah ekonomis atau tidak. Setelah sepakat, datanglah orang sosial dan komunikasi yang akan menyosialisasikannya kepada masyarakat. Ada juga ahli komputer untuk kontrol sstemnya. Multi disiplin betul.
Untuk bisa menghasilkan minyak dari discovery sampai first production butuh waktu paling cepat lima tahun, tapi umumnya 10 tahun. Ini mulai dari pembebasan tanah yang tidak mudah. Kalau mau mengebor di laut juga harus bicara dulu dengan nelayan, Angkatan Laut, sampai Ditjen Hubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Kagumi Jenderal McArthur
Untuk falsafah hidup, saya suka dengan apa yang dikatakan Panglima Armada Amerika Serikat di Asia Pasifik Jenderal Douglas McArthur. Dia membuat puisi yang menurut saya sangat inspiratif tentang doa untuk anak. Puisi itu berbunyi seperti ini: “Tuhan, berikanlah anak saya jalan yang berliku, penuh tantangan dan hambatan, tapi berikan dia kekuatan untuk menempuh jalan tersebut. Dan berikan dia kelembutan hati agar bisa bergaul dengan masyarakat”.
Puisi itu begitu mengena di hati saya. Apalagi waktu itu saya masih jadi aktivis di kampus, memiliki idealisme yang tinggi dan memegang teguh ideologi untuk bagaimana membuat bangsa dan negara ini maju. Sejelek-jeleknya bangsa ini, saya masih percaya sebagian besar dari orang kita adalah orang baik.
Saya masih percaya kita akan menjadi negara yang sangat baik. Saat saya memberi pembekalan, saya selalu katakan, kalau kita mencari kekayaan, itu tidak ada limit-nya. Di atas langit masih ada langit. Tapi saya juga tidak bicara muluk-muluk, misalnya, mengatakan bahwa kalau kalian ingin kaya, jangan kerja di sini, jadilah pengusaha. Saya katakan bahwa kekayaan itu bukan utama yang harus dicari tapi bagaimana hidup ini bisa berguna bagi orang lain. Itu yang selalu saya tanamkan pada mereka. Kalau orientasi mereka materi, bisa bahaya. Di tempat ini bisa gawat. Dampaknya besar kalau mereka salah bikin keputusan atau sengaja bikin keputusan yang salah. Dampaknya besar dari sisi nilai uang. Bukan yang dikorupsi, tapi nilai uang yang multiplier seperti kehilangan produksi, peralatan tidak bisa berfungsi, dan lainnya. Mereka haruslah orang-orang yang memiliki integritas baik. Selain itu, basic need mereka harus terpenuhi.
Saya katakan, kalau kita hanya mencari kekayaan, kita akan seperti dibawa lari oleh kuda yang akan lari ke mana-mana. Keinginan harus dikendalikan. Kalau tidak, kita yang akan terbunuh oleh keinginan yang tidak ada habisnya. Itulah falsafah hidup saya. Mudah-mudahan tidak salah.
Gde Pradnyana dilantik sebagai sekretaris SKK Migas pada 8 Februari 2013 setelah sebelumnya menjabat sebagai Deputi Pengendalian Operasi pada Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas). Pria kelahiran Klungkung, Bali, 28 April 1960 ini meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung pada 1984. Gde kemudian melanjutkan pendidikan sampai meraih gelar Master of Science in Ocean Engineering, University College London, pada 1988 dan Doctor of Philosophy in Offshore Engineering, University of Oxford, pada 1992. Pada 2010, Gde mengikuti Program Pendidikan Reguler pada Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Selama 25 tahun lebih perjalanan karirnya di industri hulu minyak dan gas bumi, Gde telah berpengalaman menangani proyek-proyek penting, di antaranya proyek West Seno TLP, Kilang LNG Tangguh, serta Proyek Anjungan Kerisi dan North Belut.
(cundoko aprilianto)
Total Exploration & Production menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager Total E&P Indonesie (TEPI) dan Group Representative untuk Indonesia yang baru menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa…

Komentar