MigasReview, Jakarta – Menyusul turunnya lifting minyak nasional, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini menaruh harapan pada Blok West Madura Offshore (WMO) yang kini dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Namun, tidak mudah menghadapi faktor alam yang begitu besar, yang berdampak pada penurunan produksi, selain faktor masa transisi kontrak yang segera berakhir.
Oleh karena itu, PHE terus berupaya meningkatan produksi meskipun harus menghadapi berbagai macam pandangan dan perbandingan dengan blok-blok lainnya. Berikut gambaran Blok WMO yang dipaparkan Sekretaris Perusahaan PHE Wahidin Nurluzia kepada MigasReview.com yang menemuinya di PHE Tower, Jakarta.
---
Ada yang mengatakan bahwa Blok WMO bisa menjadi salah satu tulang punggung produksi migas, dengan tingkat kesulitannya yang lebih mudah dibandingkan blok lain. Apakah begitu keadaannya?
Setiap blok migas memiliki karateristik geologi yang berbeda sehingga perlakuan pada masing-masing blok juga berbeda. Masalah paling utama yang di Blok WMO adalah decline rate yang bisa sampai 40 persen, lebih disebabkan faktor alamnya. Dan, dengan cara apapun untuk meningkatkan produksi sesuai target, perlu effort yang lebih besar. Dibandingkan onshore, decline rate hanya 15-20 persen. Ini yang biasanya orang tidak mau melihat maupun disinggung. Untuk menstabilkan agar produksinya sama, katakanlah kenaikan produksi 5 persen, artinya dibutuhkan effort 45 persen. Untuk membuat steady, perlu 40 persen.
Mengetahui seperti itu, apa yang PHE lakukan?
Kita harus berusaha. Kalau ditugaskan meningkatkan produksi atau stabil sesuai target, mau tidak mau harus lebih banyak mencari lagi sumur baru atau mengurasnya lebih cepat. Nah, kita main cepat-cepatan dengan mengurasnya. Kalau hanya mengandalkan satu sumur saja tidak mungkin bisa tercapai target produksinya karena minyak yang keluar butuh tekanan. Sedangkan ini, ada kondisi decline rate yang sangat besar. Tekanannya pasti berkurang dengan cepat. Pada akhirnya kita butuh mengebor sumur baru.
Selain itu apa permasalahannya?
Saat hands over blok WMO dari Kodeco Energy telat, seakan dadakan, itu rig-nya lepas semua karena Kodeco Energy selama 2 tahun nyaris tidak melakukan investasi baru. Produksi Blok WMO langsung turun drastis dari 26.000 barel per hari (bph) menjadi sekitar 13.000 bph di 2011, dan ditambah kondisi decline rate, makin turun terus. Sekarang produksi sudah di posisi kurang lebih 15.000 bph dari sebelumnya pada saat hands over sekitar 6000-7000 bph. Kalau sudah begini keadaannya, ya yang menetapkan target produksi realistis tidak? Tapi diharapkan targetnya masih optimis 20.000 bph dengan 4 rig. Mudah-mudahan dari sumur 38A bisa memberikan peningkatan. Sumur 38A termasuk yang approval-nya (dari SKK Migas) sangat cepat, hanya 9 bulan, padahal biasanya butuh 1 tahun. Terlebih lagi, pada saat kita agresif mencari rig, pas di pasar lagi sulit, ditambah cuaca buruk. Itu juga yang menyebabkan produksi Blok WMO turun. Namun sekarang, begitu sudah settle. Keliatan sudah mulai naik terus. Dua bulan ke depan kemungkinan akan ada tambahan sekitar 2.000 bph lagi.
Ada berapa tambahan pengeboran pengembangan di Blok WMO?
Pengeboran pengembangan WMO planning 21 sumur, yang on going 2 sumur, yang sudah selesai 4 sumur. Enam sumur di kuartal satu, lumayanlah. Kita terus akan lakukan pengembangan. Terlebih lagi prediksi Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Muhammad Husen, Jawa Timur ini akan jadi penggantinya Riau, tapi trennya memang gas.
Kira-kira untuk pengeboran 1 sumur diperlukan investasi berapa?
Satu sumur baru hitungannya sekitar US$3-7 juta. Ini baru ngebor saja, belum lain-lainnya. Kalau work over tidak sampai sebesar itu. Memang ada mitos, untuk menaikkan produksi harus dilakukan pengeboran. Itu benar sekali, tapi bukan satu-satunya. Kalau mau dapat ikan kakap besar, ya harus lakukan pengeboran. Kalau hanya work over, misalkan dengan teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery) bisa menghasilkan sekitar 500-1.500 barel per satu sumur, tapi dalam satu blok kan ada ratusan bahkan ribuan sumur. Artinya, kalau dikalkulasikan bisa mendapatkan puluhan ribu barel juga. Pada 2013, capital expenditure PHE mencapai US$1,38 miliar, sementara operational expenditure US$840,9 juta.
Kasus hands over ini tentu bisa terjadi dengan kontrak-kontrak yang mau berakhir. Sebenarnya apa yang perlu dilakukan menghadapi kontrak-kontak tersebut?
Seharusnya minimal 5 tahun sebelum kontrak berakhir sudah harus ada kepastian, dan mulai dipersiapkan. Pemerintah harus memastikan dan memutuskan pada saat itu juga. Kalau kontrak mau habis, perintahkan Pertamina masuk dulu. Entah bagaimana caranya, harus ada masa transisi sehingga tidak terkaget-kaget kayak Blok WMO itu. Tapi masalahnya, tidak pernah ada kata-kata itu dari pemerintah
PHE memiliki beberapa joint operating body (JOB). Apakah setelah kontrak-kontrak itu berakhir, blok-blok itu bisa dimiliki PHE kembali?
Masih ada JOB karena itu kontrak-kontrak lama dan menggunakan PSC. Kalau Pertamina kan mendapatkan priviledge. Harapan kami, JOB yang habis masa kontraknya diberikan atau kembali ke Pertamina. Tapi kita harus menyadari, satu blok itu juga tidak bisa 100 persen. Minimalnya konsepnya begini: Kalau seperti Kodeco, Total dan Inpex yang sudah puluhan tahun berada di sini, apakah masuk akal jika pada saat habis, kontraknya diberikan kepada Pertamina dan tiket masuk mereka dengan signature bonus yang notabene paling banter US$10 juta, dan itu dibagi proposional. Padahal itu, kalau diberikan 100 persen ke Pertamina, kemudian Pertamina menawarkan lagi ke mitra yang lain, ya sifatnya B-to-B, jual 10 persen saja, kita bisa dapat US$100-250 juta. Begitu maksudnya. Katakanlah, Pertamina hanya menguasai 60 persen, kemudian 40 persen dilepas ke pasar. Dari sini kan kita sudah bisa dapatkan cash money yang sudah besar. Maka, jangan anggap Pertamina itu seolah-olah investor.
Kalau Pertamina EP lebih menggarap lapangan yang merupakan warisan, dan tidak mungkin menggarap lapangan baru, artinya PHE yang kemungkinan terbesar yang akan mengelolanya?
Iya, 95 persen Pertamina (Persero) akan mengutuskan PHE untuk menggarapnya. Dibentuknya PHE, sejauh itu kepemilikan Pertamina 100 persen. Dalam arti, Persero 98 persen dan sisanya dimiliki anaknya Persero supaya tidak ada kepemilikan pihak luar manapun yang memiliki anak-anaknya Pertamina. Jadi turunannya langsung, tidak ada blasteran. Supaya kita ini dianggap Pertamina walaupun cuma anak perusahaan. Selain itu agar pemerintah bisa memberikan priviledge yang sama dengan Pertamina
Pada 2018, target PHE menjadi perusahan world class. Apa yang perlu disiapkan?
World Class pada 2018 ini kan perlu kriteria dan standar. Paling tidak bicara produksi di level berapa, HSE (Health, Safety, and Environment) bagaimana dengan sertifikasinya. Definisi world class yang kita targetkan mulai dari produksi, revenue, net income, management excellent-nya, setidaknya minimal setara dengan kelas regional, kita masih optimis. Karena PHE mainnya di portofolio, untuk menuju ke situ, potensinya lebih besar, bagaimana PHE bisa memanfaatkan peluang portofolio dan melakukan strategi bisnis.
(anovianti muharti)

Komentar