Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia setiap tahunnya sejalan dengan meningkatnya kebutuhan BBM nasional baik untuk keperluan pribadi maupun industri. Hal ini mendorong Direktorat Pengolahan Pertamina untuk bekerja ekstra dalam memenuhi kebutuhan BBM berkualitas dan ramah lingkungan di Tanah Air. Seperti apa upaya tersebut? Berikut penjelasan Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif kepada Energia.
---
Bisa dijelaskan ruang lingkup tugas dan fungsi Direktorat Pengolahan?
Direktorat Pengolahan Pertamina secara umum memiliki lima tugas pokok utama. Pertama, sesuai dengan namanya, Direktorat Pengolahan memiliki tanggung jawab untuk memproduksi sekaligus memasok BBM melalui kilang nasional Pertamina yang tersebar di seluruh Indonesia. Kedua, mencadangkan minyak mentah dan produk BBM nasional untuk kebutuhan rakyat Indonesia demi menjaga ketahanan suplai energi nasional. Ketiga, menjaga seluruh aset Pertamina khususnya yang terkait dengan peran pengolahan termasuk di dalamnya adalah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dengan tujuan memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan maupun kepada negara dalam hal penyediaan sumber energi. Keempat, tidak hanya sebatas kegiatan bisnis perusahaan Direktorat Pengolahan juga bertugas untuk menjaga kelestarian llingkungan khususnya yang berada di area operasi perusahaan. Kelima, dan terakhir serta tak kalah penting adalah memenuhi kewajiban perundangan yang berkaitan dengan keselamatan kerja di lingkungan operasi Pertamina.
Saat ini, Direktorat Pengolahan Pertamina mengoperasikan 6 kilang minyak. Di antara kilang-kilang tersebut, kilang mana saja yang paling optimal penggunaannya oleh Pertamina?
Jika dilihat berdasarkan kontribusi, seluruh kilang Pertamina sudah beroperasi secara optimal sesuai dengan kapasitasnya. Kecuali Refinery Unit (RU) I di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara yang telah dinonaktifkan sejak tahun 2000 mengingat sudah tidak ekonomis secara kapasitas dan teknologinya. Berdasarkan kapasitas, saat ini Refinery Unit Pertamina yang memiliki kapasitas terbesar adalah RU IV Cilacap (348 Ribu Barrel per hari) dan diikuti oleh RU V Balikpapan (260 Ribu Barrel per hari). Sedangkan dari sisi kompleksitas, Refinery Unit yang memiliki kompleksitas tertinggi adalah RU VI Balongan dengan NCI (Nelson Complexity Index) sebesar 11.9.
Bisa dijelaskan produk-produk apa saja yang dihasilkan dari kilang-kilang tersebut?
Banyak produk yang dihasilkan kilang produksi milik Pertamina baik itu produk BBM maupun produk Petrokimia. Produk BBM (Bahan Bakar Minyak) adalah seperti Premium Research Octane Number (RON) 88, Pertalite RON 90, Pertamax RON 92 dan Pertamax Turbo RON 98, Avtur (Jet A-1), Solar, Perta Dex dan Dexlite. Sedangkan produk Petrokimina adalah seperti Propylene, Solvent, Polypropylene, LubeBase Oil, Green Coke, Asphalt, Benzene, Para xylene, Toluene.
Dari semua produk yang dihasilkan, apakah masing-masing kilang menghasilkan produk yang sama?
Tidak semua kilang menghasilkan produk yang sama. Hal ini dikarenakan setiap kilang memiliki “mode” serta “konfigurasi” yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Sebagai contoh, kilang RU II Dumai dan RU V Balikpapan biasa menghasilkan produk seperti Solar dan Avtur. Kilang RU VI Balongan menghasilkan 80 persen produk gasoline seperti Premium, Pertalite dan Pertamax. Sedangkan kilang RU IV Cilacap banyak menghasilkan produk-produk Petrokimia.
Selain produk BBM yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas saat ini, ada rencana lain dari Pertamina untuk mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan lain kedepannya?
Pada dasarnya Pertamina saat ini pun sudah mampu menggunakan
dan menerapkan bahan bakar yang ramah lingkungan. Pertamina saat ini sudah
memiliki produk yang memenuhi kriteria bahan bakar ramah lingkungan yakni
Pertamax Turbo dengan kadar Sulfur < 50 ppm dimana BBM jenis ini diproduksi
di Kilang RU VI Balongan.
Selain itu, Pertamina juga terus melakukan beragam upaya untuk menciptakan dan mengembangkan sumber energi baru ramah lingkungan. Salah satunya adalah pengembangan Biorefinery untuk mengolah minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) menjadi Green Fuel (Green Gasoline atau Green Diesel). Khusus terkait Biorefinery ini sendiri, Pertamina bahkan sudah melakukan riset untuk menciptakan katalis buatan dalam negeri yang dapat digunakan untuk proses tersebut.
Terkait aspek Health, Safety, Security, Environment (HSSE), bagaimana upaya Direktorat Pengolahan dalam menerapkan nilai-nilai HSSE di seluruh wilayah operasi Pertamina?
Hal yang paling utama adalah meyakinkan bahwa kilang berada
dalam kondisi yang aman. Untuk mencapai hal itu banyak cara yang dapat
dilakukan seperti program pembinaan Safetyman untuk pengawasan aktivitas
pekerjaan di seluruh area Kilang. Direktorat Pengolahan juga membuat HSSE Demo Room di seluruh unit sebagai sarana
sosialisasi dan peningkatan pemahaman aspek HSSE terhadap seluruh pekerja dan
tamu perusahaan yang akan memasuki area Kilang.
Physical Condition
Compliance dilakukan secara berkala berupa inspeksi ke seluruh area kerja
pada hari libur oleh petugas on duty.
Terdapat juga Impressive Management Walk
Through (i- MWT) berupa kunjungan Tim Manajemen Kantor Pusat ke seluruh
unit untuk mengecek aspek HSSE serta aspek operasional lainnya. Ada juga Safety Walk and Talk (SWAT) berupa
kunjungan Tim Manajemen Unit ke dalam kilang untuk membahas aspek HSSE dengan
pekerja front line yang diagendakan
satu kali setiap minggu. Terakhir adalah Pengamatan Keselamatan Kerja (PEKA)
yang merupakan program bagi seluruh pekerja di unit operasi untuk mengawasi dan
melakukan intervensi terhadap kondisi dan tindakan yang tidak aman. Caranya
adalah dengan mengisi formulir PEKA yang nantinya akan dikumpulkan sehingga
kondisi tidak aman (unsafe condition) maupun tindakan tidak aman (unsafe
action) dapat segera ditindaklanjuti dan kecelakaan kerja dapat dicegah.
Direktorat Pengolahan juga senantiasa menjunjung 3 Golden Rules (patuhi, intervensi, peduli) serta 11 Life Saving Rules dalam setiap kesempatan menjalankan operasi kilang. Semua hal itu adalah berdasarkan pada visi dan misi perusahaan yakni zero fatallity di seluruh area kerja Pertamina. Penerapan sistem reward and punishment kepada seluruh pekerja di area kerja Pertamina juga dilakukan guna meningkatkan awareness pekerja terhadap aspek HSSE ini.
Dalam melaksanakan kegiatan pengolahan adakah pengalaman terkait keselamatan di kilang-kilang Pertamina dan upaya apa yang dilakukan untuk mengatasinya?
Pengalaman yang menurut saya paling berkesan adalah ketika
mengelola manpower dalam jumlah besar dengan tingkat pemahaman yang
berbeda-beda pada aktivitas Turn Around
(TA) Kilang.
Beberapa upaya yang dilakukan dalam menghadapi tantangan
tersebut di antaranya dengan menjalankan berapa program seperti memberikan
pemahaman kepada seluruh pekerja melalui HSSE Demo Room, Safety Paspor sebagai barrier untuk pekerja yang akan memasuki area kilang. Penambahan Safetyman dan Safety Inspector juga dilakukan untuk melakukan pengawasan
pelaksanaan pekerjaan serta melaksanakan Medical
Check Up (MCU) bagi seluruh pekerja guna meyakinkan bahwa pekerja tersebut
berada dalam kondisi Fit To Work.
Satu lagi, ketika saya masih bertugas di RU VI Balongan
tahun 2013 sebagai General Manager, Saat itu terjadi banjir yang merendam
pemukiman pekerja. Guna menghindari hal yang tidak diinginkan, saya
mengevakuasi para pekerja dan keluarga ke gedung yang dinilai aman. Namun
banjir menjadi semakin besar, sehingga saya berkoordinasi dengan seluruh
manajemen untuk segera mengevakuasi ke sejumlah hotel yang berada di sekitar
daerah operasional kerja. Selain di lingkungan internal, dilakukan koordinasi
dengan stakeholders Kabupaten Indramayu untuk penyediaan perahu karet, MCK
darurat serta bantuan alat berat untuk membuat sodetan Sungai Tarum Timur. Hal
itu saya lakukan karena menyangkut keselamatan para pekerja dan keluarga,
sekaligus menjaga agar para pekerja tetap fokus dengan pekerjaannya dan tidak
terbebani dengan kejadian banjir tersebut.
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan seluruh stakeholders di wilayah operasi menjadi
amat sangat penting, sehingga dalam kejadian apapun kita akan mudah mendapatkan
bantuan maupun support yang
diperlukan. Diantara para stakeholder
adalah tentu saja perangkat pemerintahan daerah (Muspida, TNI, Polri) serta
juga masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 49 Tahun LIV, 3
Desember 2018

Komentar