Menghadirkan Energi Bersih Bagi Negeri

10 December 2018, Editor Anovianti Muharti

dok. Oppie Muharti | MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

Geliat industri energi dunia terasa begitu dinamis. Upaya peralihan sumber energi dari bahan bakar berbasis fosil menuju energi ramah lingkungan dan terbarukan kian masif dilakukan di berbagai belahan dunia. Sejalan dengan hal tersebut, PT Pertamina Power Indonesia (PPI) hadir guna menjawab tantangan dunia di sektor clean energy. Bagaimana peran PPI dalam menghadirkan green energy bagi Indonesia? Berikut penuturan Presiden Direktur PT Pertamina Power Indonesia (PPI) Ginanjar kepada Energia.

 ---

Bisa dijelaskan terkait PPI, baik dalam hal bisnis maupun ruang lingkup dan wilayah kerja PPI itu sendiri?

PPI dibentuk dalam upaya ekspansi value chain bisnis Gas Pertamina serta sebagai perintis pengembangan energi baru dan terbarukan Pertamina. Lingkup bisnis PPI meliputi pembangkit listrik berbahan bakar gas yang terdiri dari gas to power (mencakup pipeline dan well head) dan LNG to Power (untuk domestik dan luar negeri), serta New & Renewable Energy (NRE) dengan fokus bisnis yang mencakup pembangkit listrik tenaga surya, biogas, tenaga angin, maupun sumber energi masa depan lainnya. Penguatan value chain oleh Pertamina tersebut memberikan competitive advantage secara interaktif di seluruh value chain yang dapat saling mengoptimalkan baik itu di upstream (hulu), infrastruktur midstream dan downstream.

PPI hadir juga dalam rangka menjawab trend peralihan industri energi dunia dewasa ini yang selama ini bersumber dari energi fosil seperti minyak bumi beralih menjadi sumber energi bersih yang ramah lingkungan. Munculnya kendaraan bermotor berbasis listrik juga diantisipasi dan merupakan bukti bahwa kebutuhan dunia menuntut sumber energi yang lebih ramah pada lingkungan.

Proyek apa saja yang saat ini tengah dikerjakan oleh PPI baik yang berada di dalam maupun luar negeri?

PPI saat ini tengah melaksanakan beberapa proyek, baik yang berada di Indonesia maupun di luar negeri, terdiri dari Gas/LNG to Power dan NRE. Di Indonesia saat ini kami tengah menjalankan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1 berkapasitas total 1.760 MW yang terintegrasi dengan FSRU (Floating Storage Regasification Unit) berkapasitas 170.000 m3.

Sedangkan untuk PLTGU di luar negeri, kami juga tengah menjalankan pengembangan proyek yang dengan konsep seperti proyek Jawa-1, LNG-to-power di Bangladesh, dengan kapasitas mencapai 1.200 MW. Terdapat beberapa potential IPP project lainnya namun kami belum bisa paparkan.

Dalam hal NRE, PPI sedang menjalankan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Badak 1 MW dan Badak 3 MW. Kami juga tengah mengerjakan potensi PLTS Cilacap 4 MW, dan PTPN-3 Sei Mangkei 5 MW, serta Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) PTPN-3 Sei Mangkei 2.4 MW, dan PTPN-13 6 MW. PPI juga akan turut serta dalam operation & maintenance PLTBG PTPN-2 2 MW.

Lantas bagaimana dengan perkembangan kedua proyek tersebut?

Kami membagi project life cycle ke dalam tiga tahap: i) tahap pertama adalah pre-project sampai dengan FC (financial close), ii) tahap kedua construction period dan iii) tahap ketiga merupakan tahap operational period. Untuk proyek Jawa-1 sendiri, saat ini proyek sudah dinyatakan mencapai financial close, dimana saat ini kami sudah mendapatkan komitmen dari para pihak pemberi pinjaman (lenders) yang akan mendanai proyek. Tantangan terbesar tahap II adalah koordinasi internal konsorsium (sponsors) dan koordinasi dengan EPC Contractor dan lenders supaya proyek selesai sesuai tata waktu dan on-budget. Tantangan lainnya adalah managing para stakeholder lainnya mengingat proyek Jawa-1 merupakan proyek besar yang akan banyak melibatkan aktivitas termasuk dengan pemerintah dan masyarakat setempat.

Di sinilah kepemimpinan Pertamina akan diuji mengingat peran Pertamina sebagai pemimpin konsorsium. Sedangkan terkait dengan proyek PPI 1200 MW yang berada di Bangladesh, Alhamdulillah saat ini kami sudah mendapatkan persetujuan dari Bangladesh Power Development Board (BPDB). Tahap berikutnya adalah mendapatkan persetujuan dari Perdana Menteri Bangladesh untuk kemudian dituangkan dalam letter of intent (LoI) yang merupakan dokumen kesepakatan yang mengikat pihak BPDB dan pihak Konsorsium Pertamina.

Apa yang melatarbelakangi PPI memilih Bangladesh masuk dalam wilayah kerjanya?

Secara realistis dari sisi bisnis kami melihat Bangladesh sebagai pasar potensial mengingat Bangladesh adalah Negara dengan pertumbuhan ekonomi yang selama 10 tahun ini stabil di atas 7%. Bangladesh juga merupakan negara berkembang yang membutuhkan sumber energi masa depan yang ramah lingkungan.

Proyek ini merupakan realisasi dari Memorandum of Understanding G to G antara PT Pertamina (Persero) dan Bangladesh Power Development Board (BPDB) juga telah ditandatangani di hadapan Presiden RI dan Prime Minister Bangladesh.

Di antara proyek yang tengah dikerjakan, mana yang memiliki potensi paling besar?

Kami sangat selektif dalam menentukan Proyek yang akan kami kembangkan. Dengan kata lain, Proyek yang diinisiasi oleh PPI adalah proyek-proyek yang diyakini akan “fly”. Proyek Jawa-1, Bangladesh, dan NRE yang sekarang dikembangkan semuanya agar PPI dapat memberikan kontribusi kepada Pertamina sebagai korporasi. Proyek NRE mungkin memiliki lebih banyak tantangan baik dari segi kapasitas maupun keekonomian, namun itu justru akan menjadi fokus kami ke depan dan kami tidak akan menyerah.

Apakah PPI yakin proyek yang saat ini tengah dikerjakan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk ke depannya?

Proyek Jawa-1 justru dikembangkan sesuai dengan program 35.000 MW Pemerintah dan PLN. Kami senantiasa siap memenuhi kebutuhan domestik akan clean energy. Terkait NRE, kita sendiri tentunya yang harus menyiapkan diri untuk perkembangannya di masa-masa yang akan datang, termasuk misalnya juga dalam kaitannya dengan berkembangnya dan pengembangan electric vehicle.

Adakah tantangan atau kendala yang dihadapi dalam proyek ini? Jika ada bagaimana solusi untuk mengatasinya?

Dari semua proyek-proyek PPI, kami selalu berkolaborasi dalam partnership. Tidak mudah menyatukan dan memimpin konsorsium yang terdiri dari 3-5 perusahaan dengan latar belakang bisnis, negara, dan culture perusahaan yang berbeda. Dalam semua proyek yang digarap PPI saat ini, kami selalu menjadi leader konsorsium. Dengan demikian, leadership kita juga diuji.

Strategi apa yang Anda terapkan di PPI?

Key strategy kami adalah partnership. Pemilihan partner yang tepat menjadi kunci sukses karena akan berdampak pada soliditas tim, kapabilitas tim, kreativitas, serta daya tahan dan daya juang tim dalam menghadapi permasalahan baik internal maupun eksternal.

Faktor penting lain adalah leadership. Bicara tentang partnership, ini bukan hanya tentang partner konsorsium, namun juga supporting partner. Oleh karena itu, kita harus cerdas dan cermat dalam membangun sistem dan kriteria pemilihan partner dan supporting partner.

Bagaimana membina hubungan yang baik di antara rekan kerja maupun partner bisnis adalah hal yang juga perlu diperhatikan. Tidak cukup sampai disitu, kita juga harus profesional. Salah satu parameter profesional adalah tranparansi di lingkungan kerja PPI maupun dengan rekan bisnis PPI. Soul dari strategi partnership itu adalah professional, logic dan transparan.

Apa harapan untuk PPI serta bisnis clean energy di Indonesia ke depan?

PPI harus menjadi leading green energy company. PR kami menjadikan PPI sebagai perusahaan well respected green energy company di Indonesia dan di tatanan internasional. 5-10 tahun ke depan NRE akan menjadi sektor penting sumber energi nasional, bahkan beberapa negara sudah sangat masif dalam pengembangannya. Kalau tidak mengembangkan NRE dari sekarang, kita akan ketinggalan dan hanya menjadi penonton.

Tekanan serta kesadaran atas isu lingkungan juga menjadi pendorong dan memaksa negara-negara dan perusahaan-perusahaan untuk terus mengembangkan NRE. Banyak perusahaan otomotif yang saat ini sudah mulai melakukan pengembangan teknologi untuk beralih dari bahan bakar fosil menjadi penggunaan baterai, bahkan sudah ada perusahaan otomotif yang memutuskan sudah tidak memproduksi kendaraan berbahan bakar minyak lagi dalam 1-2 tahun ke depan. Kita harus mempersiapkan diri untuk itu.

 

Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 50 Tahun LIV, 10 Desember 2018

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Maksimalkan Produksi BBM untuk Penuhi Konsumsi Dalam Negeri

migas review Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia setiap tahunnya sejalan dengan meningkatnya kebutuhan BBM nasional baik untuk keperluan pribadi maupun industri. Hal ini mendorong Direktorat Pengolahan Pertamina untuk bekerja ekstra dalam memenuhi…