Geliat industri energi dunia terasa begitu dinamis. Upaya
peralihan sumber energi dari bahan bakar berbasis fosil menuju energi ramah
lingkungan dan terbarukan kian masif dilakukan di berbagai belahan dunia.
Sejalan dengan hal tersebut, PT Pertamina Power Indonesia (PPI) hadir guna
menjawab tantangan dunia di sektor clean
energy. Bagaimana peran PPI dalam menghadirkan green energy bagi Indonesia? Berikut penuturan Presiden Direktur PT Pertamina Power Indonesia (PPI) Ginanjar
kepada Energia.
Bisa dijelaskan terkait PPI, baik dalam hal bisnis maupun ruang lingkup dan wilayah kerja PPI itu sendiri?
PPI dibentuk dalam upaya ekspansi value chain bisnis Gas
Pertamina serta sebagai perintis pengembangan energi baru dan terbarukan
Pertamina. Lingkup bisnis PPI meliputi pembangkit listrik berbahan bakar gas
yang terdiri dari gas to power
(mencakup pipeline dan well head) dan LNG to Power (untuk
domestik dan luar negeri), serta New & Renewable Energy (NRE) dengan fokus
bisnis yang mencakup pembangkit listrik tenaga surya, biogas, tenaga angin,
maupun sumber energi masa depan lainnya. Penguatan value chain oleh Pertamina tersebut memberikan competitive advantage secara interaktif di seluruh value chain yang dapat saling
mengoptimalkan baik itu di upstream
(hulu), infrastruktur midstream dan downstream.
PPI hadir juga dalam rangka menjawab trend peralihan
industri energi dunia dewasa ini yang selama ini bersumber dari energi fosil
seperti minyak bumi beralih menjadi sumber energi bersih yang ramah lingkungan.
Munculnya kendaraan bermotor berbasis listrik juga diantisipasi dan merupakan
bukti bahwa kebutuhan dunia menuntut sumber energi yang lebih ramah pada
lingkungan.
Proyek apa saja yang saat ini tengah dikerjakan oleh PPI baik yang berada di dalam maupun luar negeri?
PPI saat ini tengah melaksanakan beberapa proyek, baik yang
berada di Indonesia maupun di luar negeri, terdiri dari Gas/LNG to Power dan
NRE. Di Indonesia saat ini kami tengah menjalankan proyek pembangunan
Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1 berkapasitas total 1.760 MW
yang terintegrasi dengan FSRU (Floating
Storage Regasification Unit) berkapasitas 170.000 m3.
Sedangkan untuk PLTGU di luar negeri, kami juga tengah
menjalankan pengembangan proyek yang dengan konsep seperti proyek Jawa-1, LNG-to-power
di Bangladesh, dengan kapasitas mencapai 1.200 MW. Terdapat beberapa potential
IPP project lainnya namun kami belum bisa paparkan.
Dalam hal NRE, PPI sedang menjalankan Pembangkit Listrik
Tenaga Surya (PLTS) Badak 1 MW dan Badak 3 MW. Kami juga tengah mengerjakan
potensi PLTS Cilacap 4 MW, dan PTPN-3 Sei Mangkei 5 MW, serta Pembangkit
Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) PTPN-3 Sei Mangkei 2.4 MW, dan PTPN-13 6 MW. PPI
juga akan turut serta dalam operation & maintenance PLTBG PTPN-2 2 MW.
Lantas bagaimana dengan perkembangan kedua proyek tersebut?
Kami membagi project
life cycle ke dalam tiga tahap: i) tahap pertama adalah pre-project sampai dengan FC (financial close), ii) tahap kedua construction period dan iii) tahap
ketiga merupakan tahap operational period.
Untuk proyek Jawa-1 sendiri, saat ini proyek sudah dinyatakan mencapai financial close, dimana saat ini kami sudah mendapatkan komitmen dari para
pihak pemberi pinjaman (lenders) yang akan mendanai proyek. Tantangan terbesar
tahap II adalah koordinasi internal konsorsium (sponsors) dan koordinasi dengan
EPC Contractor dan lenders supaya proyek selesai sesuai tata waktu dan on-budget. Tantangan lainnya adalah
managing para stakeholder lainnya mengingat proyek Jawa-1 merupakan proyek
besar yang akan banyak melibatkan aktivitas termasuk dengan pemerintah dan
masyarakat setempat.
Di sinilah kepemimpinan Pertamina akan diuji mengingat peran
Pertamina sebagai pemimpin konsorsium. Sedangkan terkait dengan proyek PPI 1200
MW yang berada di Bangladesh, Alhamdulillah saat ini kami sudah mendapatkan
persetujuan dari Bangladesh Power Development Board (BPDB). Tahap berikutnya
adalah mendapatkan persetujuan dari Perdana Menteri Bangladesh untuk kemudian
dituangkan dalam letter of intent (LoI)
yang merupakan dokumen kesepakatan yang mengikat pihak BPDB dan pihak
Konsorsium Pertamina.
Apa yang melatarbelakangi PPI memilih Bangladesh masuk dalam wilayah kerjanya?
Secara realistis dari sisi bisnis kami melihat Bangladesh
sebagai pasar potensial mengingat Bangladesh adalah Negara dengan pertumbuhan
ekonomi yang selama 10 tahun ini stabil di atas 7%. Bangladesh juga merupakan
negara berkembang yang membutuhkan sumber energi masa depan yang ramah
lingkungan.
Proyek ini merupakan realisasi dari Memorandum of Understanding G to G antara PT Pertamina (Persero)
dan Bangladesh Power Development Board (BPDB) juga telah ditandatangani di
hadapan Presiden RI dan Prime Minister Bangladesh.
Di antara proyek yang tengah dikerjakan, mana yang memiliki potensi paling besar?
Kami sangat selektif dalam menentukan Proyek yang akan kami
kembangkan. Dengan kata lain, Proyek yang diinisiasi oleh PPI adalah
proyek-proyek yang diyakini akan “fly”.
Proyek Jawa-1, Bangladesh, dan NRE yang sekarang dikembangkan semuanya agar PPI
dapat memberikan kontribusi kepada Pertamina sebagai korporasi. Proyek NRE
mungkin memiliki lebih banyak tantangan baik dari segi kapasitas maupun
keekonomian, namun itu justru akan menjadi fokus kami ke depan dan kami tidak
akan menyerah.
Apakah PPI yakin proyek yang saat ini tengah dikerjakan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk ke depannya?
Proyek Jawa-1 justru dikembangkan sesuai dengan program
35.000 MW Pemerintah dan PLN. Kami senantiasa siap memenuhi kebutuhan domestik
akan clean energy. Terkait NRE, kita
sendiri tentunya yang harus menyiapkan diri untuk perkembangannya di masa-masa
yang akan datang, termasuk misalnya juga dalam kaitannya dengan berkembangnya
dan pengembangan electric vehicle.
Adakah tantangan atau kendala yang dihadapi dalam proyek ini? Jika ada bagaimana solusi untuk mengatasinya?
Dari semua proyek-proyek PPI, kami selalu berkolaborasi
dalam partnership. Tidak mudah menyatukan dan memimpin konsorsium yang terdiri
dari 3-5 perusahaan dengan latar belakang bisnis, negara, dan culture perusahaan yang berbeda. Dalam
semua proyek yang digarap PPI saat ini, kami selalu menjadi leader konsorsium.
Dengan demikian, leadership kita juga diuji.
Strategi apa yang Anda terapkan di PPI?
Key strategy kami
adalah partnership. Pemilihan partner yang tepat menjadi kunci sukses karena
akan berdampak pada soliditas tim, kapabilitas tim, kreativitas, serta daya
tahan dan daya juang tim dalam menghadapi permasalahan baik internal maupun
eksternal.
Faktor penting lain adalah leadership. Bicara tentang partnership, ini bukan hanya tentang
partner konsorsium, namun juga supporting
partner. Oleh karena itu, kita harus cerdas dan cermat dalam membangun
sistem dan kriteria pemilihan partner dan supporting
partner.
Bagaimana membina hubungan yang baik di antara rekan kerja
maupun partner bisnis adalah hal yang juga perlu diperhatikan. Tidak cukup
sampai disitu, kita juga harus profesional. Salah satu parameter profesional
adalah tranparansi di lingkungan kerja PPI maupun dengan rekan bisnis PPI. Soul
dari strategi partnership itu adalah professional, logic dan transparan.
Apa harapan untuk PPI serta bisnis clean energy di Indonesia ke depan?
PPI harus menjadi leading
green energy company. PR kami menjadikan PPI sebagai perusahaan well respected green energy company di
Indonesia dan di tatanan internasional. 5-10 tahun ke depan NRE akan menjadi
sektor penting sumber energi nasional, bahkan beberapa negara sudah sangat
masif dalam pengembangannya. Kalau tidak mengembangkan NRE dari sekarang, kita
akan ketinggalan dan hanya menjadi penonton.
Tekanan serta kesadaran atas isu lingkungan juga menjadi
pendorong dan memaksa negara-negara dan perusahaan-perusahaan untuk terus
mengembangkan NRE. Banyak perusahaan otomotif yang saat ini sudah mulai
melakukan pengembangan teknologi untuk beralih dari bahan bakar fosil menjadi
penggunaan baterai, bahkan sudah ada perusahaan otomotif yang memutuskan sudah
tidak memproduksi kendaraan berbahan bakar minyak lagi dalam 1-2 tahun ke
depan. Kita harus mempersiapkan diri untuk itu.
Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 50 Tahun LIV, 10
Desember 2018

Komentar