MigasReview, Jakarta - Penemuan cadangan minyak bumi baru
yang besar merupakan solusi untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masyarakat
yang terus tumbuh. Disparitas antara produksi migas nasional dengan kebutuhan
masyarakat juga semakin besar karena meningkatnya kebutuhan masyarakat tidak
diiringi dengan meningkatnya produksi migas nasional. Wakil Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar meyakini, penemuan ladang migas besar
(giant discovery) bukanlah sesuatu
yang mustahil jika beberapa hal dilakukan dalam kegiatan eksplorasinya.
"Giant discovery
akan menjadi kenyataan apabila kita mulai melihat tiga hal. Yang pertama, apabila kita mempunyai
teknologi dan mau menerima teknologi baru, maka ada kemungkinan teknologi
menemukan new discovery, syukur jika itu menjadikan cadangan migas besar. Kedua, sistem yang efisien, transparan
dan akuntabel, maka kita berharap ini akan menjadi pilar untuk ditemukannya
discovery. Dan yang ketiga adalah
human capital yang mumpuni yang bisa merawat cadangan-cadangan atau reserve
kita yang ada di basin-basin di seluruh Indonesia, sehingga kita bisa menemukan
big discovery seperti yang diimpikan kita semua," ujar Arcandra Taharesdm.go.id.
Kebutuhan konsumsi BBM nasional saat ini sekitar 1,6 juta
barel per hari dan akan terus tumbuh seiring dengan tumbuhnya perekonomian.
Sebaliknya, kemampuan produksi BBM nasional rata-rata 800.000 barel per hari
dan 600.000 barel per hari harus impor untuk menutupi kebutuhan yang ada.
"Trend produksi
migas kita itu menurun karena lapangan yang sudah tua, konsumsi kita naik
semakin lama semakin tinggi. Mau tidak mau teman-teman di hulu migas harus
mendapatkan giant discovery, karena itu satu-satunya untuk membantu
Indonesia," ujar Kepala SKK Migas periode 2014-2018 Amin Sunaryadi.
Untuk mendapatkan discovery,
maka diperlukan eksplorasi yang masif dan menyeluruh di wilayah-wilayah yang
berpotensi memiliki discovery. Selain
mengalokasikan anggaran untuk peningkatan produksi migas nasional dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), saat ini Pemerintah juga telah
mengantongi komitmen kerja pasti sebesar US$2 miliar untuk 10 tahun mendatang.
"Sekarang ada
komitmen kerja pasti untuk kegiatan eksplorasi untuk dipergunakan 10 tahun
mendatang yang nilainya US$ 2 miliar. Bentuk komitmen ini berbeda dengan
komitmen wilayah kerja eksplorasi, kalau WK eksplorasi tidak menjalankan
komitmen harus bayar tapi untuk membayarnya itu menagihnya susah, bahkan
sebagian Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sudah hilang. Tapi karena ini
adalah KKKS produksi maka jika tidak melaksanakan komitmen kerja pasti
eksplorasi maka uangnya akan diambil oleh pemerintah," jelas Amin.

Komentar