MigasReview, Jakarta - Pemanfaatan batubara sebagai sumber
energi pembangkit listrik terus diupayakan lebih ramah lingkungan. Berbagai
teknologi dan langkah-langkah pengelolaan lingkungan juga dikelola sedemikan
rupa sehingga pengoperasian pembangkit listrik dapat berjalan beriringan
bersama dengan lingkungan yang baik. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1x660
MW Cirebon telah menggunakan teknologi Supercritical Boiler untuk
mengoperasikan pembangkitnya. PLTU peraih ASEAN Federation Organizations (AFEO)
untuk pelopor penerapan teknologi batubara bersih ini juga menerapkan berbagai
langkah agar pembangkit tidak membawa dampak buruk bagi masyarakat sekitar.
"Enam langkah
kita lakukan, sehingga PLTU Cirebon berbeda dengan PLTU-PLTU lain. Langkah pertama yang kami lakukan adalah penggunaan
teknologi untuk pembangkit, kita gunakan Supercritical Boiler dan pemanfaatan
batubara rendah kalori serta sulfur yang tidak menghasilkan limbah B3 gypsum.
Di Indonesia, kami bersama PLTU Paiton III merupakan pionir yang menggunakan
teknologi supercritical boiler untuk mengoperasikan pembangkit," ujar Environmental
Manajer Cirebon Power Edi Wibowoesdm.go.id.
PLTU Cirebon, lanjut Edi, menghasilkan gas rumah kaca atau
emisi yang lebih rendah karena menggunakan teknologi yang tinggi dan efisien
tersebut. Langkah ketiga, penggunaan sumber daya alam yang efisien. Total penggunaan energi berada di top 25% perusahaan sejenis. Cooling tower menghemat
penggunaan air hingga 86% dibanding Once Through. Keempat, pemantauan udara
ambien selama 24 jam.
"Alat Pemantau
Udara Ambien/Ambient Air Monitoring Station beroperasi aktif dan online 24 jam
terus dilakukan perawatan hingga saat ini. Ini penting kami sampaikan, karena
setiap PLTU mempunyai alat ini sejak awal tetapi alat ini tidak bertahan lama
karena alat ini sangat rentan sekali. Dan alat di PLTU Cirebon masih beroperasi
dengan baik karena terus kita rawat setiap hari," ujar Edi.
Langkah berikutnya adalah pemanfaatan limbah B3 secara
optimal, dimana 99,3% itu dimanfaatkan (bukan ditimbun) oleh perusahaan
pemanfaat berizin. Ini menjadi kelebihan buat perusahaan karena limbah B3 dari
PLTU itu yang paling besar adalah Fly Ash dan Bottom Ash.
"Kita perusahaan
pembangkit batubara yang tidak mempunyai landfill, berbeda dengan PLTU lain
yang umumnya mempunyai landfill yang sangat besar. PLTU kita 100% fly ash dan
bottom ash tersebut dimanfaatkan oleh pabrik semen," jelas Edi.
Langkah terakhir, PLTU Cirebon tidak memiliki limbah bahang.
"PLTU Cirebon
adalah PLTU pertama yang menggunakan cooling tower sehingga membuat suhu air
limbah yang keluar tidak jauh berbeda dari suhu air laut yang masuk (28oC
– 31oC) sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada biota laut,"
pungkas Edi.

Komentar