Ini adalah judul seminar yang baru-baru ini diadakan dan dibuka oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, dimana dia berharap adanya perubahan cara menjual blok migas di Indonesia. Judulnya tidak jauh berbeda dengan seminar yang diadakan oleh Satuan Kerja Khusus untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Agustus lalu yang berjudul Di Mana Menemukan Lapangan Raksasa Baru.
Wakil Menteri ESDM Arcandra berujar, "Harapan saya bahwa tata cara dan pola kerja yang selama ini telah kita lakukan harus diubah. Kenapa? Cara-cara lama terbukti kurang efektif dalam menjual blok-blok migas kita, maka dari itu kita harus menemukan cara-cara baru, inovasi, dan ide-ide, sehingga yang kita jual adalah blok-blok migas bukan menjual data."
Sebagai orang yang melihat dari luar, saya diminta beropini mengenai pernyataan ini. Saya telah menyarankan beberapa waktu lalu bahwa ada hal-hal yang perlu dilakukan secara berbeda, teknologi adalah jawabannya, tetapi Naysayers lebih dominan.
Mencoba menjual blok migas itu sulit sebagaimana pemerintah sendiri melihat kurangnya minat pada tender di dua hingga tiga tahun terakhir, meskipun kelihatannya perjanjiannya fleksibel, namun masih banyak yang tidak yakin.
Untuk menarik investor, blok migas harus menunjukkan potensinya dan itu tidak bisa dilakukan dengan mengandalkan data-data lama yang ada, di antaranya bahkan data jaman Belanda. Kondisinya saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui potensi suatu area adalah dengan bereksplorasi menggunakan metode konvensional yang mahal yang sayangnya tidak banyak berhasil.
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengingatkan, perusahaan migas Indonesia untuk segera menemukan cadangan besar baru layaknya penemuan Jatibarang di 1967 dan Bunyu Nibung di 1974 lalu (sudah lama sekali). Sejak saat itu, perusahaan-perusahaan migas Indonesia belum menemukan cadangan serupa, cadangan besar lainnya malah ditemukan oleh perusahaan-perusahaan asing.
Sekarang perusahaan-perusahaan internasional kurang berminat untuk berinvestasi di sektor migas karena banyak alasan, begitupun dengan bank dan pengusaha domestik dikarenakan risiko yang tinggi. Untuk mengatasi kekhawatiran ini, data eksplorasi yang dapat diandalkan harus tersedia. Belum lagi biaya eksplorasi dengan metode konvensional yang sangat mahal dengan tingkat keberhasilan yang sangat rendah, tidak heran jika banyak perusahaan yang tidak tertarik. Kerap investor merugi jika mereka tidak sampai pada tahap produksi.
Tampaknya Pak Arcandra telah sadar bahwa data-data yang dimiliki saat ini tidak menarik, meskipun aksesnya sekarang digratiskan, data tambahan diperlukan untuk menarik investor. Data tambahan harus berasal dari teknologi yang terbukti dan terpercaya. Untuk mewujudkannya, peraturan harus dibuat sedimikian rupa untuk mendukung teknologi ini dan keputusan harus dibuat tertulis agar jelas. Masalahnya, orang yang berada di posisi untuk membuat keputusan takut untuk membuat keputusan saat ini, walau sudah banyak pembicaraan, tetapi tetap saja sedikit tindakan yang dilakukan. Sebaliknya, pemerintah justru seharusnya memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang bertanggung jawab ini untuk berinovasi tanpa takut akan tanggung jawab perdata maupun pidana.
Berpikiran Terbuka
Geosaintis Indonesia juga harus berpikiran terbuka mengenai teknologi baru, sedikit diantaranya yang mengikuti perkembangan teknologi. Mungkin hal ini juga dikarenakan silabus perkuliahan yang tidak mengikuti perkembangannya. Saya terkejut dengan minimnya pengetahuan banyak orang tentang dasar-dasar remote sensing dan satelit untuk eksplorasi. Meskipun pengetahuan mereka mumpuni akan metode eksplorasi konvensional, ide-ide play dan sebagainya, tetapi banyak sekali yang tidak memperhatikan teknologi baru yang padahal berguna untuk mendukung ide-ide mereka sendiri.
Mereka harusnya berinisiatif untuk mencari informasi tentang teknologi baru dari sumber yang terpercaya. Karena saat ini, mereka hanya bergantung pada alat eksplorasi yang telah digunakan selama 50 tahun terakhir yang hanya menawarkan tingkat keberhasilan 20% saja dan mereka menerima ini sebagai hal yang normal karena mereka tidak tahu perbedaannya dengan teknologi baru yang sudah ada ini.
Pernyataan berikut dibuat oleh dua orang Indonesia yang sangat disegani, keduanya berkontribusi di sektor migas,
Dr. Ir. Andang Bachtiar, MSc mengatakan, jika kita menempatkan lima puluh geosaintis di satu ruangan, tidak akan pernah ada kesepakatan. Satu-satunya cara untuk membuktikan teknologi adalah dengan mencobanya, jika terbukti itu sebaik atau bahkan lebih baik dari metode konvensional, maka itu berhasil, tidak perlu terlalu khawatir mengenai “bagaimana”-nya. Hasil adalah buktinya.
Sangat disayangkan, bahwa itu bukanlah cara berpikir mayoritas geosaintis dan pengambil keputusan di Indonesia.
Geolog yang juga tenaga ahli SKK Migas Ir. Awang Harun Satyana menyatakan, "Suatu saat kita punya teknologi yang mujarab, subvolcanic play di Jawa akan diterpecahkan". Dia juga menyatakan bahwa 80% area Indonesia tidak dapat dieksplor dengan metode konvensional.
Jika ini masalahnya, bagaimana bisa Indonesia menemukan ladang minyak dan gas baru tanpa adanya teknologi? Ada hal-hal yang harus diubah, keputusan harus segera dibuat, komitmen perusahaan harus dijaga, tetapi setidaknya mereka harus diizinkan untuk berinovasi untuk mencapai tujuan, yaitu memproduksi minyak dan gas. Yang diperlukan hanyalah seseorang yang mampu membuat keputusan dan mengubah peraturan agar lapangan minyak dan gas baru segera ditemukan.
Ditulis oleh George Barber, Country Manager of Terra Energy & Resources Technologies, Inc.
Artikel Terkait

Komentar