George Barber

Di Mana Menemukan Ladang Minyak & Gas Raksasa Baru

02 December 2018, Editor Anovianti Muharti

facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

Judul opini ini sebenarnya adalah judul dari seminar tiga hari yang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Khusus untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Seminar ini dibuat karena kekhawatiran akan terus melebarnya jurang antara permintaan migas dan apa yang diproduksi di dalam negeri, juga karena kekhawatiran akan ekonomi negeri, tepatnya tidak sesuainya ekspektasi pengeluaran dan pembangunan proyek infrastruktur untuk industri sumber daya alam.

Banyak yang beranggapan bahwa melakukan eksplorasi di saat harga minyak per barel sangat rendah tidaklah sepadan, tetapi apa yang terjadi ketika harga minyak ada di level US$ 120 per barel, semuanya berlomba-lomba mengeksploitasi, tetap sedikit yang bereksplorasi. Beberapa perusahaan internasional tetap bereksplorasi di perairan dalam Indonesia Timur walaupun akhirnya merugi hingga lebih dari US$ 1,2 miliar. Harga minyak berfluktuasi setiap hari, dengan melihat apa yang terjadi di dunia saat ini, sangat tidak mungkin harganya stabil di masa mendatang, walaupun begitu, eksplorasi harus tetap terus menerus dilakukan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana cara Pertamina atau perusahaan lain mengembangkan blok baru atau yang sudah ada? Bagaimana cara mereka bereksplorasi untuk menjawab kekhawatiran yang telah disebutkan tadi? Suatu lapangan dikaterogikan raksasa jika ia memiliki cadangan lebih dari 500 juta barel minyak. Sebenarnya, beberapa diantaranya telah ditemukan beberapa tahun lalu, hanya perlu divalidasi dan kemudian dieksploitasi. Sayang, karena alasan politik dan lainnya, lapangan ini masih belum dikembangkan sampai sekarang.

Penulis artikel ini telah menulis beberapa kali bahwasanya Indonesia memang memiliki potensi untuk menyokong kebutuhan energinya sendiri, hanya saja jika pengetahuan akan sumber daya alam negara mumpuni, sayangnya tidak, karena nyatanya 80% daerah di dalam negeri tidak dapat dieksplor jika kita hanya mengandalkan metode eksplorasi konvensional, diperburuk dengan turunnya anggaran eksplorasi untuk 2019 yang sepertinya berlanjut hingga 2022. Wajar dan itulah mengapa, Badan Geologi yang bertanggung jawab untuk seluruh sumber daya alam di Indonesia tidak dapat melakukan survei seismik pada tahun 2019. Oleh karena itu, hal ini membuat saya bingung, bagaimana cara negara ini meningkatkan produksi migas kalau tidak dieksplorasi? Apakah pemerintah mengandalkan investasi lokal dan asing saja? Ini tidak mungkin terjadi kecuali sesuatu diubah, bukan hanya peraturan yang sejujurnya tidak terlalu menyenangkan investor.

Arti Risiko

Yang pasti banyak yang prihatin dengan situasi ini di seminar tersebut, tetapi sangat sedikit (itupun jika ada) orang yang berani untuk mengambil risiko yang terlanjur melekat dengan eksplorasi, yang berani merekomendasikan perubahan peraturan untuk memungkinkan operator migas menggunakan teknologi yang berbeda dari komitmen yang telah dibuat.

Eksplorasi berisiko, apa artinya? Sederhananya, rugi secara finansial. Menurut saya, Indonesia tidaklah berbeda dengan negara lainnya dimana orang-orangnya tidak suka kehilangan uang. Oleh karena itu, mengapa Indonesia berharap investor asing rela kehilangan uang sementara bank dan pengusaha lokalnya sendiri saja tidak siap dengan risiko yang sama?

Saya akan berkata, berinvestasilah di negeri sendiri.

Bagaimana cara meminimalkan risikonya? Jawabannya sederhana, teknologi. Teknologi yang telah dikembangkan oleh orang-orang niaga, yang telah digunakan di berbagai negara dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Indonesia sama dengan negara lain ketika menyangkut geologi. Indonesia memang memiliki geologi yang kompleks seperti gunung berapi di Jawa, perairan dalam di Indonesia Timur dan medan yang sulit di Papua, dimana metode konvensional saat ini memiliki keterbatasan untuk menjangkau dan mengatasinya. Begitupun negara lain, yang bahkan memiliki geologi yang jauh lebih rumit, dimana justru teknologi ini telah berhasil diaplikasikan. Jadi alasan bahwa belum digunakannya teknologi ini di Indonesia yang kemudian disimpulkan belum terbukti tidaklah benar, bagaimana bisa digunakan jika dari awal saja sudah enggan menerimanya?

Inti dari pendapat ini adalah bahwa Indonesia tampaknya siap menerima teknologi baru hanya saja jika ada seseorang mau berinvestasi untuk membuktikannya terlebih dahulu di negeri ini. Ada banyak sekali divisi dalam pemerintahan (ESDM, Pertamina, dsb.), tidak sedikit yang tampak berjalan sendiri dan memiliki kepentingan yang berbeda-beda, tidak bersinergi. Yang bisa menjadi solusinya adalah satu kebijakan sentral dengan lebih sedikit ‘kerajaan’, semuanya harus bersatu.

Orang-orang yang bekerja di industri sumber daya alam selalu menerima teknologi medis apa saja yang dapat menyelamatkan hidup mereka, tidak ada pertanyaan yang diajukan (biasanya), sayangnya respon mereka berbeda ketika menyangkut teknologi untuk eksplorasi, cenderung enggan menerimanya yang padahal tidak hanya meningkatkan tingkat keberhasilan eksplorasi, tetapi juga akan menciptakan lapangan kerja yang secara tidak langsung juga membantu negara.

Indonesia memang memiliki potensi untuk menyokong kebutuhan energinya sendiri, baik untuk memenuhi target yang ditetapkan maupun terlewatkan setiap tahunnya serta peningkatan keberhasilan dan pengefisiensian anggaran, hanya saja dengan syarat jika orang-orang mau menerima teknologi baru dan membuat keputusan untuk memulainya.

Baby Giant Oil and Gas Fields yang akan membantu mengurangi ketergantungan negara pada impor minyak, saat ini sedang menunggu untuk ditemukan dan dieksploitasi.

 

Ditulis oleh George Barber, Country Manager of Terra Energy & Resources Technologies, Inc.


Artikel Terkait

Teknologi Cerdas Perlu Regulator Cerdas

Berburu Lapangan Minyak dan Gas Baru di Indonesia

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Berburu Lapangan Minyak dan Gas Baru di Indonesia

Ini adalah judul seminar yang baru-baru ini diadakan dan dibuka oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, dimana dia berharap adanya perubahan cara menjual blok migas di Indonesia. Judulnya tidak jauh berbeda dengan seminar…