Hulu Migas, Siapkah Terima Teknologi?

11 December 2018, Editor Anovianti Muharti

facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Dwi Soetjipto atas pengangkatannya baru-baru ini sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Semoga beliau memberikan angin segar untuk industri migas di Indonesia.

Baru-baru ini, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Arcandra Tahar mengatakan, bahwa penemuan minyak raksasa bukanlah sesuatu yang mustahil jika negara memiliki dan siap menerima teknologi baru untuk eksplorasi. Ia juga mengatakan, bahwa hal itu mungkin terjadi jika kita mulai melihat faktor-faktor lain seperti efisiensi, akuntabilitas dan sumber daya manusia yang mumpuni.

Saya pribadi percaya bahwa empat syarat tersebut dapat terpenuhi, teknologi tersedia tetapi tidak diterima saat ini, sumber daya manusia yang mumpuni juga tersedia jika mereka diizinkan untuk bertanggung jawab lebih. Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah efisiensi, meskipun ini datang bersamaan dengan akuntabilitas.

Dengan kata lain, keempat syarat pada dasarnya sudah ada, hanya membutuhkan sedikit penyesuaian. Indonesia memang memiliki banyak orang berpengalaman yang terlatih dan dihormati, namun akan sia-sia jika pengambil keputusan tidak membuat keputusan yang memungkinkan orang-orang ini melakukan apa yang diperlukan untuk memenuhi syarat tersebut. Satu hal yang tidak disebutkan adalah harus adanya perasaan memiliki sebagai bagian dari tim dan tidak hanya diperlakukan sebagai pekerja.

Judul dua artikel terakhir saya adalah Di Mana Menemukan Lahan Minyak & Gas Raksasa Baru dan Berburu Ladang Minyak dan Gas Baru di Indonesia, mencakup pernyataan yang dibuat oleh Arcandra Tahar, di mana artikel tersebut menyatakan, bahwa teknologi telah tersedia. Banyak orang di Indonesia telah sadar bahwa teknologi ini sudah ada walaupun mungkin diantaranya tidak paham betul bagaimana cara kerjanya. Banyak yang menunggu seseorang untuk membuat keputusan diizinkannya penggunaan teknologi ini, teknologi yang telah terbukti di banyak belahan dunia yang lain, yang telah digunakan di Indonesia, namun belum terbukti karena alasan politik.

Diketahui bahwa Badan Geologi ingin melaksanakan survei eksplorasi percobaan dengan biaya sekitar US$ 200.000. Sayangnya, pemerintah tidak memiliki anggaran untuk itu, kontradiktif dengan apa yang baru-baru ini diberitakan bahwa pemerintah telah menyiapkan US$ 2 miliar untuk kegiatan eksplorasi selama sepuluh tahun ke depan. Pernyataan ini sebenarnya kurang begitu jelas, diyakini bahwa sebenarnya anggaran tersebut adalah investasi yang merupakan jumlah kolektif komitmen dari berbagai operator atau pemilik blok (bukan pemerintah). Operator-operator ini tertarik berinvestasi hanya pada blok yang dimilikinya saja dimana mereka juga berkomitmen untuk mengembangkannya. Banyak dari mereka yang tidak tahu persis apakah memang ada sumber daya substantial yang bisa dikembangkan disana, banyak yang hanya berharap.

Area Geologi

Ini High-Risk Venture, bukan mencari Giant Fields. Mencari Giant Fields bukan hanya mencari di daerah yang diduga berpotensi saja, melainkan juga memperluasnya ke daerah-daerah yang secara geologis mungkin tidak mengandung minyak dan gas. Jika kita terus berpikir bahwa suatu area tertentu tidak mengandung sumber daya tersebut, maka akan sangat tidak mungkin kita menemukan apa yang disebut Giant Fields. Kita harus melakukan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita lakukan hari ini. Jika tidak, pastinya kita masih akan terus menerus mencari Giant Fields dalam waktu dua puluh tahun ke depan dimana banyak sekali uang telah dihabiskan dan hilang sia-sia. Tidak ada yang mau rugi secara finansial.

Mantan Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi mengatakan, "Produksi minyak dan gas kita saat ini ada pada tren penurunan karena sebagian besar ladang minyak memang terlalu tua. Sementara itu, konsumsi bertambah cepat. Oleh karenanya, negara perlu memiliki penemuan raksasa sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi kekurangan pasokan minyak ini selain mengimpor".

Kebutuhan bahan bakar minyak saat ini berkisar di 1,6 juta barel per hari dengan produksi rata-rata yang hanya 800.000 barel per hari saja. Setidaknya ada dua cara untuk mengatasi ini, diantaranya adalah menemukan sumber daya baru (Giant Fields yang membutuhkan waktu) dan meningkatkan produksi lapangan-lapangan yang disebut sebagai Mature Fields. Banyak di antaranya yang bisa menjadi seolah-olah lapangan baru jika diketahui secara menyeluruh petroleum system berikut potensi tak ‘terlihat’nya, teknologi memungkinkan ini.

Eksplorasi dan eksploitasi lapangan apapun membutuhkan waktu, bisa lima hingga sepuluh tahun lebih sampai produksinya terjadi, oleh karena itu mencari Giant Fields tidak menjawab masalah hari ini, namun potensi penuh Mature Fields lah.

Dalam waktu lima tahun, apa yang akan menjadi batas antara produksi dan impor? Berapa biayanya untuk negara? Oleh karena itu, teknologi harus diizinkan untuk digunakan untuk pengembangan Mature Blocks yang justru akan membantu negara mengatasi impor ini. Tentu saja tetap membutuhkan waktu, di dalam industri sumber daya alam, tidak ada yang bisa terjadi dalam semalaman. Namun jika peraturan tertentu segera diberlakukan, ada kemungkinan bahwa kita bisa melihat perbaikan terjadi dalam waktu dua belas hingga delapan belas bulan saja.

Pemilik blok berhati-hati dalam membelanjakan uang ketika risikonya tinggi. Apakah pemilik blok melihat kebutuhan negara secara keseluruhan atau hanya melihat kebutuhan sendirinya saja yang mana menghasilkan uang? Apakah menjadi masalah? Tidak juga, selama mereka bisa meningkatkan produksi yang menguntungkan semua pihak. Tetapi apakah mereka mampu meningkatkan produksi jika mereka tidak diizinkan menggunakan teknologi untuk bereksplorasi? Sepertinya tidak.

Baru saja minggu ini disampaikan kepada saya bahwa untuk memiliki peraturan yang memungkinkan teknologi digunakan bukanlah suatu masalah besar. Kabar yang sama yang saya terima dua tahun yang lalu. Sepertinya relevan saya berkata, banyak hal-hal baik telah dikatakan, namun sayangnya belum melihatnya menjadi kenyataan.

 

Ditulis oleh George Barber; penulis adalah Konsultan Eksplorasi independen yang berkonsultasi dengan Terra Energy and Resource Technologies serta pemerintah dan institusi di berbagai negara di Asia Tenggara.

 

 

Artikel Terkait

Teknologi Cerdas Perlu Regulator Cerdas

Berburu Lapangan Minyak dan Gas Baru di Indonesia

Di Mana Menemukan Ladang Minyak & Gas Raksasa Baru

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Di Mana Menemukan Ladang Minyak & Gas Raksasa Baru

Judul opini ini sebenarnya adalah judul dari seminar tiga hari yang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Khusus untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Seminar ini dibuat karena kekhawatiran akan terus melebarnya jurang antara permintaan…