Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Dwi Soetjipto atas pengangkatannya baru-baru ini sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Semoga beliau memberikan angin segar untuk industri migas di Indonesia.
Baru-baru ini, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Indonesia Arcandra Tahar mengatakan, bahwa penemuan minyak raksasa bukanlah
sesuatu yang mustahil jika negara memiliki dan siap menerima teknologi baru
untuk eksplorasi. Ia juga mengatakan, bahwa hal itu mungkin terjadi jika kita
mulai melihat faktor-faktor lain seperti efisiensi, akuntabilitas dan sumber
daya manusia yang mumpuni.
Saya pribadi percaya bahwa empat syarat tersebut dapat
terpenuhi, teknologi tersedia tetapi tidak diterima saat ini, sumber daya
manusia yang mumpuni juga tersedia jika mereka diizinkan untuk bertanggung
jawab lebih. Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah efisiensi, meskipun ini
datang bersamaan dengan akuntabilitas.
Dengan kata lain, keempat syarat pada dasarnya sudah ada,
hanya membutuhkan sedikit penyesuaian. Indonesia memang memiliki banyak orang
berpengalaman yang terlatih dan dihormati, namun akan sia-sia jika pengambil
keputusan tidak membuat keputusan yang memungkinkan orang-orang ini melakukan
apa yang diperlukan untuk memenuhi syarat tersebut. Satu hal yang tidak
disebutkan adalah harus adanya perasaan memiliki sebagai bagian dari tim dan
tidak hanya diperlakukan sebagai pekerja.
Judul dua artikel terakhir saya adalah Di
Mana Menemukan Lahan Minyak & Gas Raksasa Baru dan Berburu
Ladang Minyak dan Gas Baru di Indonesia, mencakup pernyataan yang
dibuat oleh Arcandra Tahar, di mana artikel tersebut
menyatakan, bahwa teknologi telah tersedia. Banyak orang di Indonesia telah
sadar bahwa teknologi ini sudah ada walaupun mungkin diantaranya tidak paham
betul bagaimana cara kerjanya. Banyak yang menunggu seseorang untuk membuat
keputusan diizinkannya penggunaan teknologi ini, teknologi yang telah terbukti
di banyak belahan dunia yang lain, yang telah digunakan di Indonesia, namun
belum terbukti karena alasan politik.
Diketahui bahwa Badan Geologi ingin melaksanakan survei
eksplorasi percobaan dengan biaya sekitar US$ 200.000. Sayangnya, pemerintah
tidak memiliki anggaran untuk itu, kontradiktif dengan apa yang baru-baru ini
diberitakan bahwa pemerintah telah menyiapkan US$ 2 miliar untuk kegiatan
eksplorasi selama sepuluh tahun ke depan. Pernyataan ini sebenarnya kurang begitu
jelas, diyakini bahwa sebenarnya anggaran tersebut adalah investasi yang
merupakan jumlah kolektif komitmen dari berbagai operator atau pemilik blok
(bukan pemerintah). Operator-operator ini tertarik berinvestasi hanya pada blok
yang dimilikinya saja dimana mereka juga berkomitmen untuk mengembangkannya.
Banyak dari mereka yang tidak tahu persis apakah memang ada sumber daya
substantial yang bisa dikembangkan disana, banyak yang hanya berharap.
Area Geologi
Ini High-Risk Venture, bukan mencari Giant
Fields. Mencari Giant Fields
bukan hanya mencari di daerah yang diduga berpotensi saja, melainkan juga
memperluasnya ke daerah-daerah yang secara
geologis mungkin tidak mengandung minyak dan gas. Jika kita terus berpikir
bahwa suatu area tertentu tidak mengandung sumber daya tersebut, maka akan
sangat tidak mungkin kita menemukan apa yang disebut Giant Fields. Kita harus melakukan sesuatu yang berbeda dari apa
yang kita lakukan hari ini. Jika tidak, pastinya kita masih akan terus menerus
mencari Giant Fields dalam waktu dua
puluh tahun ke depan dimana banyak sekali uang telah dihabiskan dan hilang
sia-sia. Tidak ada yang mau rugi secara finansial.
Mantan Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi mengatakan, "Produksi minyak dan gas kita saat ini ada pada tren penurunan karena
sebagian besar ladang minyak memang terlalu tua. Sementara itu, konsumsi
bertambah cepat. Oleh karenanya, negara perlu memiliki penemuan raksasa sebagai
satu-satunya solusi untuk mengatasi kekurangan pasokan minyak ini selain
mengimpor".
Kebutuhan bahan bakar minyak saat ini berkisar di 1,6 juta
barel per hari dengan produksi rata-rata yang hanya 800.000 barel per hari
saja. Setidaknya ada dua cara untuk mengatasi ini, diantaranya adalah menemukan sumber daya baru (Giant Fields yang membutuhkan waktu) dan
meningkatkan produksi lapangan-lapangan
yang disebut sebagai Mature Fields. Banyak di antaranya
yang bisa menjadi seolah-olah lapangan baru jika diketahui secara menyeluruh petroleum system berikut potensi tak ‘terlihat’nya, teknologi memungkinkan
ini.
Eksplorasi dan eksploitasi lapangan apapun membutuhkan
waktu, bisa lima hingga sepuluh tahun lebih sampai produksinya terjadi, oleh
karena itu mencari Giant Fields tidak
menjawab masalah hari ini, namun potensi penuh Mature Fields lah.
Dalam waktu lima tahun, apa yang akan menjadi batas antara
produksi dan impor? Berapa biayanya untuk negara? Oleh karena itu, teknologi harus diizinkan untuk digunakan
untuk pengembangan Mature Blocks yang justru akan
membantu negara mengatasi impor ini. Tentu saja tetap membutuhkan waktu, di
dalam industri sumber daya alam, tidak ada yang bisa terjadi dalam semalaman.
Namun jika peraturan tertentu segera diberlakukan, ada kemungkinan bahwa kita
bisa melihat perbaikan terjadi dalam waktu dua belas hingga delapan belas bulan
saja.
Pemilik blok berhati-hati dalam membelanjakan uang ketika
risikonya tinggi. Apakah pemilik blok melihat kebutuhan negara secara
keseluruhan atau hanya melihat kebutuhan sendirinya saja yang mana menghasilkan
uang? Apakah menjadi masalah? Tidak juga, selama mereka bisa meningkatkan
produksi yang menguntungkan semua pihak. Tetapi apakah mereka mampu meningkatkan
produksi jika mereka tidak diizinkan menggunakan teknologi untuk bereksplorasi?
Sepertinya tidak.
Baru saja minggu ini disampaikan kepada saya bahwa untuk
memiliki peraturan yang memungkinkan teknologi digunakan bukanlah suatu masalah
besar. Kabar yang sama yang saya terima dua tahun yang lalu. Sepertinya relevan
saya berkata, banyak hal-hal baik telah dikatakan, namun sayangnya belum
melihatnya menjadi kenyataan.
Ditulis oleh George Barber; penulis adalah Konsultan Eksplorasi independen yang berkonsultasi dengan Terra Energy and Resource Technologies serta pemerintah dan institusi di berbagai negara di Asia Tenggara.
Artikel Terkait
Teknologi
Cerdas Perlu Regulator Cerdas

Komentar