MigasReview, Jakarta - Pemerintah mendukung pembangunan
terminal mini LNG dengan moda transportasi truk di berbagai wilayah Indonesia,
terutama Indonesia bagian timur. Infrastruktur ini tepat digunakan untuk
Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
“Terminal mini LNG
untuk listrik di Sambera, berhasil diwujudkan. Ini pertama kalinya sejak
republik ini berdiri, kita menggunakan mini LNG,” ujar Direktur Jenderal Minyak
dan Gas Bumi Djoko Siswantomigas.esdm.go.id.
Dia mengatakan, Indonesia masih mengekspor LNG ke berbagai
negara. Peluang inilah yang dimanfaatkan agar LNG dapat digunakan bagi
kebutuhan domestik.
“Daripada terus
ekspor, kita gunakan untuk dalam negeri. Kita ganti ke gas, dari yang
sebelumnya menggunakan BBM,” katanya.
Pembangunan terminal mini LNG, menurut Djoko, merupakan
salah satu capaian Kementerian ESDM tahun 2018 yang manfaatnya dapat langsung
dirasakan masyarakat. Selanjutnya, pada tahun 2019 juga akan dibangun 5 mini
LNG. Rencananya terminal mini LNG dengan
moda transportasi truk yang dibangun PT
Pertamina akan diresmikan lagi di Jayapura, Kendari, Ternate, Nabire dan
Flores. Pasokan LNG berasal dari Kilang Bontang. Sedangkan PT PGN akan
membangun di Papua dengan LNG yang dipasok dari Kilang Tangguh.
Terminal mini LNG telah digunakan untuk Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG) Sambera, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. PLTG Sambera
berkapasitas 2×20 MW merupakan pembangkit listrik pertama yang menggunakan
regasifikasi LNG dengan moda transportasi truk di Indonesia. Setiap hari,
sebanyak 24 truk bergantian mengisi PLTG setiap 2 jam sekali.
Dengan masuknya LNG, biaya energi primer yang dihemat
sebesar Rp 70 miliar per tahun. Penggunaan LNG juga dapat menurunkan biaya
pokok produksi (BPP) pembangkit sebesar 38%.
Artikel terkait
Tantangan Distribusi Gas di Negara Kepulauan
Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Dapat Perkaya Keragaman Energi Indonesia
Teknologi LNG, Persyaratan Infrastruktur Hasilkan Solusi Kolaboratif untuk Gas Alam

Komentar