Juni, PT EMI Targetkan Produksi Wood Pellet Pengganti Batubara

11 February 2015, Editor Cundoko

Fachry Latief/MigasReview.com
facebook
17
twitter
42
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta - PT Energy Management Indonesia (Persero)  siap memproduksi wood pellet atau pelet kayu, bahan bakar ramah lingkungan sebagai pengganti batubara.

Menurut Direktur Utama PT EMI Aris Yunanto, pihaknya masih mengurus kerjasama dan perizinan dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo yang akan menjadi lokasi pabrik wood pellet tersebut.

“Jika perizinan bisa cepat diselesaikan, instalasi mesin serta persiapan lahan dan jalan sudah bisa kami siapkan, maka Juni mendatang kami sudah bisa berproduksi. Targetnya, kami bisa memproduksi sedikitnya 500 ton per bulan, dan akan terus ditambah line produksinya,” kata Aris di Jakarta (11/2) dalam keterangan persnya.

Dikatakannya, wood pellet sudah memiliki pasar yang bagus di Korea Selatan, Jepang, Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada.

Menurut Aris, harga wood pellet di pasar dunia mencapai US$1.500 per ton. Bahkan di Kanada bisa mencapai US$ 3.000 per ton.

“Tapi di dalam negeri, harga jual dari pabrik hanya Rp1.100 per kg atau Rp1,1 juta per ton,” kata dia.

Khusus di Korea, tambahnya, negara ini membutuhkan sedikitnya 100 ribu ton wood pellet per tahun untuk kebutuhan rumah tangga dan industri makanan minuman. Pemerintah Korea menetapkan agar Industri mereka tidak lagi menggunakan batubara tapi wood pellet.

Aris menyebutkan sejumlah keunggulan wood pellet dibandingkan batubara.

“Limbah batubara termasuk kategori B3 atau berbahaya sementara abu wood pellet bisa langsung diaplikasikan ke tanah sebagai pupuk. Batubara susah dibakar dan kalau sudah terbakar harus sampai habis dan mati. Wood pellet sama seperti kayu bakar tapi tingkat kalorinya sama seperti batubara karena sudah melalui proses untuk mengurangi kadar air pada kayunya. Bisa dimatikan jika tidak dipakai, dan dibakar lagi,” kata dia.

Menurut Aris, bahan baku wood pellet yang bagus adalah kayu keras, misalnya kaliandra merah (Caliandra callothyrsus), tanaman yang ‘bandel’ karena bisa hidup di lahan dengan kadar air sangat rendah sampai di tanah subur, baik berlokasi di pantai atau di gunung. Kaliandra merah  juga bisa menyuburkan tanah melalui fiksasi nitrogen dalam tanah.

Tinggi pohon kaliandra merah hanya 2,5 meter sampai 3 meter. Dalam satu tahun, pohon ini memiliki diameter 10 cm dengan tingkat kalori 4.700 kalori.

“Kalau mau lebih bagus lagi, dibikin jadi arang dulu sehingga kalorinya setara dengan 7000-7500 kal. Itu setara dengan batubara kelas terbaik dan tidak mengakibatkan polusi,” kata dia.

Untuk memasarkan di dalam negeri, Aris mengakui bahwa saat ini belum banyak yang bisa dilakukan.

“Kami butuh dorongan pemerintah untuk bisa mengurangi konsumsi energi fosil termasuk batubara oleh industri. Dengan segala polusi yang dihasilkan batubara, sebaiknya batubara digunakan untuk listrik saja. Habiskan dulu batubara. Tapi untuk industri makanan, dorong mereka untuk menggunakan wood pellet atau wood briquettes,” tutup Aris. (cd)

 

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Mirach Berencana Tambah Konsesi di Indonesia

MigasReview, Jakarta – Mirach Energy Limited, Senin (27/4), mengungkapkan rencananya untuk menambah konsesi atau bisnis baru di Indonesia selain Lapangan Kampung Minyak yang sudah berproduksi. “Meski kami melihat stabilisasi pada operasi di Lapangan…