MigasReview, Jakarta – Produksi batubara diproyeksikan tumbang 24 persen tahun ini karena para produsen tidak lagi berupaya meningkatkan produksi, hanya berkonsentrasi pada stabilitas bisnis.
Berlebihnya pasokan global telah memangkas harga-harga batubara Asia acuan lebih dari 20 persen selama 12 bulan terakhir dan makin menyulitkan banyak perusahaan.
Sebelumnya, para produsen meningkatkan produksi demi mempertahankan aliran dana dan membayar utang sehingga memperburuk kondisi kelebihan pasokan ini dan memperparah penurunan harga. Namun menurut ketua baru Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Pandu Sjahrir seperti dilansir Reuters akhir pekan lalu, kondisi telah berubah.
“Mereka tidak lagi mengejar cashflow, atau meningkatkan angka EBITDA pada laporan keuangan. Sekarang mereka lebih fokus untuk menjaga stabilitas bisnis di mana mereka harus memiliki cukup dana tersedia," kata Sjahrir.
Artinya, kata dia, mayoritas pemain harus mulai mengurangi produksi, apalagi produksi juga tidak menguntungkan. ”Produksi batubara bisa anjlok antara 350 hingga 400 juta ton pada 2015 dari 458 juta pada 2014. Itu akan menjadi dua tahun berturut-turut di mana produksi turun setelah naik selama setidaknya 30 tahun,” kata Pandu.
Perbandingan antara volume masa batuan yang dibongkar dengan batubara yang diambil (stripping ratio) dan pengupasan lapisan tanah tertutup (removal of overburden) telah turun 15 hingga 20 persen, mengindikasikan bahwa penurunan produksi lebih lanjut sudah bisa diperkirakan. “Anda bisa lihat banyak pemain telah mengurangi stripping ratio mereka sekitar 15 persen secara keseluruhan," kata Pandu.
Permintaan batubara dalam negeri tahunan saat ini sekitar 90 juta ton dan industri ini tengah memantau program pemerintah untuk menambah kapasitas listrik sebesar 35 gigawatt (gw) sampai dengan 2019.
“Dalam enam hingga sembilan bulan ke depan, kita akan tahu seperti apa permintaan dalam negeri. Bahkan jika hanya setengah yang terwujud, atau 17 gw, katakanlah sekitar 60 persennya adalah berbahan bakar batubara, itu artinya 150-200 juta ton batubara tambahan akan dibutuhkan,” kata Pandu.
Jika para produsen menandatangani kesepakatan jual beli listrik tahun ini, pembangkit listrik mereka akan butuh 2 hingga 2,5 tahun untuk dirampungkan.
“Indonesia adalah swing factor terbesar di dunia. Jika permintaan dari Indonesia bisa meningkat dari 90 juta ton menjadi 200 atau 250 juta ton. Itu akan bisa memengaruhi harga Newcastle. Tapi itu masih tanda tanya besar," kata dia mengacu pada patokan harga batubara Asia.
Dengan return tahunan proyek listrik tersebut hanya 10-12 persen, kata Pandu, Indonesia masih harus bekerja keras menarik investor. (cd)

Komentar