MigasReview, Jakarta - Beberapa perusahaan dan badan pelatihan dari Selandia Baru membantu Indonesia mengembangkan industri panas bumi dengan target yang ambisius yaitu pertumbuhan hingga empat kali lipat dalam lima tahun mendatang.
Perwakilan dari pelaku industri dan kalangan pemerintahan dari kedua negara menghadiri World Geothermal Congress di Melbourne yang berlangsung pada 20-24 April, termasuk 130 delegasi dari Indonesia serta 200 delegasi dari Selandia Baru.
Seusai kongres tersebut, dua perwakilan dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, khususnya dari Direktorat Panas Bumi, mengikuti pelatihan di Taupo, Selandia Baru (26 – 28 April) untuk mempelajari bagaimana Selandia Baru mengembangkan dan menerapkan regulasi terkait industri panas bumi.
Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tisnaldi, mengungkapkan, Indonesia memiliki visi untuk meningkatkan kapasitas panas bumi sebesar 6600 megawatt pada akhir 2020. “(Untuk itu,) Indonesia bekerjasama secara aktif dengan berbagai perwakilan dari pelaku industri dan pemerintah negara lain, seperti Selandia Baru, Islandia dan negara-negara lainnya untuk mencapai tujuan tersebut,” kata Tisnaldi dalam siaran pers, Selasa (28/4).
Komisier Perdagangan Selandia Baru untuk Indonesia Tim Anderson mengatakan bahwa pihaknya menegaskan kembali komitmennya untuk mendampingi Indonesia dalam pengembangan produksi panas bumi di berbagai bidang, antara lain; reformasi regulasi, pelatihan dan edukasi, serta eksplorasi dan pengoperasion lahan panas bumi.
“Dukungan keahlian dari Selandia Baru pada 1980-an sangat konstruktif dalam membantu Indonesia menyiapkan dan membangun kemampuan dalam industri panas bumi dan kami sangat gembira dapat terlibat dalam pertumbuhan industri ini di masa mendatang – kami ingin menjadi mitra Indonesia dalam mencapai tujuannya,” kata Anderson
Dukungan Selandia Baru dalam industri panas bumi Indonesia antara lain:
Dana sebesar NZ$10 juta untuk bantuan teknis bagi Energi Panas Bumi Pertamina, BUMN pemerintah Indonesia, membantu menggelontorkan pinjaman dari Bank Dunia sebesar US$300 untuk membantu peningkatan kapasitas produksi panas bumi hingga 150MW. AECOM, salah satu perusahaan dari Selandia Baru, telah dikontrak oleh PGE untuk memberikan bantuan tersebut, dengan dukungan dari Geothermal Institute, Auckland University.
NZ Crown Research Institute GNS Science saat ini tengah memberikan pelatihan di seputar energi panas bumi serta program pengembangan kemampuan para guru di Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Program dan pelatihan ini akan berlangsung selama lima tahun. Lebih dari 100 orang telah mengikuti pelatihan ini.
Perjanjian Kemitraan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia untuk Kegiatan Pelatihan Sumber Daya Manusia bagi Industri Panas Bumi telah ditandatangani. Kegiatan ini akan mengembangkan strategi bagi peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan program kerja dalam rangka peningkatan keahlian dan mengurangi kesenjangan pengetahuan di berbagai sektor terkait.
Selandia Baru juga memberikan dukungan dalam bentuk pemberian beasiswa dalam program New Zealand-ASEAN Scholarships untuk bidang studi panas bumi di Geothermal Institute, University of Auckland.
Salah satu perusahaan dari Selandia Baru, yaitu Hawkins Infrastucture, baru-baru ini menandatangani kontrak senilai lebih dari NZ$110 juta untuk dua proyek panas bumi di Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan total produksi sebesar 85MW. Kedua proyek dijadwalkan akan selesai pada akhir 2016. Hawkins Infrastructure juga telah melibatkan sejumlah besar perusahaan Selandia Baru untuk menyukseskan kedua proyek tersebut. Selain itu, Hawkins Infrastructure pun bekerja sama dengan mitra lokal BCK yang memberikan dukungan besar di dalam negeri.
Delegasi dari Selandia Baru yang hadir pada 2015 World Geothermal Congress terdiri atas 17 perusahaan, badan riset dan institusi pendidikan yang menggelar pameran bersama di paviliun Selandia baru yang dikelola oleh New Zealand Trade and Enterprise.
Kongres diselenggarakan setiap lima tahun, dan Indonesia bertindak sebagai tuan rumah pada kongres sebelumnya yang berlangsung pada 2010. (cd)

Komentar