Laba Bersih 1Q2015 Adaro Anjlok 55%

01 May 2015, Editor Cundoko

Ilustrasi. (Sumber foto : http://www.adaro.com/)
facebook
2
twitter
101
google+
0
linkedin
1

MigasReview, Jakarta - Laba bersih PT Adaro Energy Tbk selama tiga bulan pertama 2015, menurun 55 persen menjadi US$59 juta dan EBITDA operasional yang tumbang 32 persen akibat penurunan harga batubara dan kondisi pasar yang sulit.

Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan, kesulitan dan tantangan yang terjadi di pasar batubara masih berlanjut. Pasar masih dilanda kelebihan pasokan dan juga mencatat pertumbuhan permintaan terendah dalam lima tahun terakhir, yang mengakibatkan harga batubara tetap rendah.

“Walaupun kami memperkirakan bahwa pasar batubara masih akan sulit  sampai tahun 2015, kami yakin bahwa hal ini merupakan bagian dari penurunan yang sesuai siklus sedangkan fundamental jangka panjang sektor batubara dan energi tetap kuat,” kata Garibaldi dalam laporan kinerja kuartal pertama 2015, Kamis (30/4).

Dalam situasi harga batubara yang lemah ini, Adaro akan terus berfokus untuk menjaga modal, efisiensi biaya dan mengurangi utang. Strategi yang diambil untuk mengembangkan bisnis non pertambangan batubara telah membantu untuk bertahan dalamkondisi pasar batubara yang masih lemah.

Kondisi ini makin memotivasi Adaro untukmengembangkan bisnis non pertambangan batubara, serta meningkatkan kontribusinyaterhadap perusahaan.

“Kami tetap bertahan di posisi yang baik untuk menciptakan nilai maksimum dari batubara Indonesia, termasuk membayar dividen tunai setiap tahunnya dan bersumbangsih terhadap pembangunan negara,”  kata Garibaldi.

Pasar batubara pada 1Q15 masih sulit karena harga masih mengalami tekanan akibat kondisi kelebihan pasokan yang terus berlanjut serta penurunan pertumbuhan permintaan dari China.

Harga jual rata-rata Adaro pada 1Q15 turun 14 persen dari periode yang sama tahun lalu. Produksi yang berasal dari PT Adaro Indonesia (AI) maupun Balangan Coal melalui PT SemestaCentramas (SCM) turun 6 persen menjadi 13,2 Mt. Volume penjualan turun 3 persen menjadi 13,4 Mt, yang bersama dengan penurunan harga menyebabkan penurunan pendapatan usaha sebesar 16 persen menjadi US$711 juta.

Penjualan batubara menyumbangkan 93 persen dari pendapatan usaha perusahaan, sedikit menurun dari 2014.

Adaro menurunkan nisbah kupas aktual 1Q15 sebesar 3 persen menjadi 4,72x, atau lebih rendah dari rencana nisbah kupas 2015 yang telah ditetapkan pada 5,33x karena musim hujan.

Adaro memperkirakan aktivitas pemindahan lapisan penutup akan naik di kuartal kedua seiring berakhirnya musim hujan. Saat ini perusahaan berada di posisi yang tepat untuk mencapai rata-rata nisbah kupas yang direncanakan sebesar 5,33x.

Beban pokok pendapatan turun 9 persen menjadi US$545 jutakarena pemindahan lapisan penutup turun 9 persen menjadi 62,1Mbcm.Lebih lanjut, beban pokok pendapatan yang tercapai lebih baik daripada rencana juga merupakan buah disiplin perusahaan dalam menerapkan efisiensi biaya, biaya bahan bakar yang lebih rendah daripada perkiraan, serta penurunan biaya pengangkutan dan penanganan.

Biaya kas batubara (tidak termasuk royalti) turun 6 persen menjadi US$28,15 per ton, atau lebih rendah daripada panduan tahunan yang telah ditetapkan pada kisaran US$31 sampai US$33 per ton.

Untuk mengantisipasi fluktuasi harga minyak dan mengunci marjinnya, Adaro telah melakukan lindung nilai terhadap sekitar 30 persen kebutuhan bahan bakar 2015 dengan harga pada rentang atas US$0,70 an per liter.

Kelebihan pasokan dan permintaan yang lemah terus menekan harga batubara pada 1Q15, di mana harga rata-rata Global Coal Newcastle naik 2,7 persen dari 4Q14.

Kenaikan yang tajam di Februari menopang rata-rata harga Global Coal Newcastle pada kuartal ini, yang mencapai US$65,58 per ton.Namun, setelah harga acuan tahunan Jepang disepakati antaraperusahaan listrik Jepang (Tohoku Electric) dan produsen batu bara Australia (Rio Tinto), harga batubara termal Australia

(Global Coal Newcastle) menurun sebagai penyesuaian.

Harga batubara yang lemah terutama disebabkan oleh lemahnyapermintaan impor batubara dari China akibat penurunan konsumsi batubara di negara tersebut pada kuartal pertama seiring penurunan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produksi energi yang dapat diperbarui dibandingkan tahun lalu.

Lebih lanjut, harga batubara domestik China yang melemah, atau turun 13 persen tahun ke tahun (y-o-y), perlahan memindahkan pembelian China ke batubara domestiknya.

Walaupun pasar China sulit, Indonesia tetap menjadi pemasok utama ke China. Di sisi lain, pasar India ikut menopang permintaan untuk pasar batubara termal lintas samudera (seaborne). Pada kuartal pertama tahun ini, permintaan India meningkat 11Mt dari tahun lalu walaupun terdapat timbunan persediaan (stockpile)

yang besar di pelabuhan-pelabuhan dan pembangkit-pembangkit listrik. Pada kuartal pertama, impor batubara termal naik 36 persen menjadi 42,8 Mt dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Walaupun perusahaan memperkirakan permintaan India masih akan naik tahun ini, minat pembelian akan sensitif terhadap harga.

Penurunan permintaan dari pasar lintas samudera Pasifik memengaruhi ekspor batubara Indonesia, turun hampir 5 Mt y-o-y pada dua bulan pertama tahun ini.

Harga batubara subbituminus Indonesia (ICI3) pada kuartal ini 0,9 persen lebih rendah daripada 4Q14, sementara harga batubara peringkat rendah (ICI4) turun 3,2% dari kuartal sebelumnya.

Namun, walaupun permintaan pada dua bulan pertama tahun ini lemah, permintaan untuk batubara termal Indonesia diperkirakan akan naik pada kuartal kedua sebagai hasil mulai beroperasinya beberapa pembangkit listrik dan pabrik semen yang baru.

Setahun Lagi Membaik

Adaro memperkirakan bahwa kondisi kelebihan pasokan akan berlangsung setidaknya untuk 12 bulan lagi, di mana setelahnya setidaknya akan terlihat pergerakan untuk mencapaikeseimbangan kembali di pasar batubara termal dan awal dari pemulihan harga yang berkelanjutan. Adaro yakin bahwa ekspansi ke sektor ketenagalistrikan merupakan strategi yang tepat untuk meng-offset volatilitas batubara.

Adaro terus mengembangkan bisnis ketenagalistrikan serta bisnis jasa pertambangan dan logistik. Bersama dengan bisnis pertambangan batubara, segmen-segmen tersebut menjadi tiga motor pertumbuhan Adaro Energy. (cd)

 

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Kilang RFCC I Akan Rampung Juni

MigasReview, Jakarta – Pembangunan kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Tahap I di Cilacap, Jawa Tengah, akan dirampungkan pada Juni 2015. “Setelah rampung pada Juni, kilang itu akan dilanjutkan pada 2018 dengan Program Langit Biru," kata…