Migas Review, Jakarta. Harga minyak kembali menjadi US$100 per barel membutuhkan waktu lama. Hal ini pernah terjadi sebelumnya pada
era 1980-an.
Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Benny Lubiantara mengatakan trend harga minyak yang saat ini terjadi hingga US$30 (13/1) akan lambat kembali ke level US$100. Penyebab penurunan harga minyak saat ini sama seperti penurunan minyak pada era 1980-an, kedua era disebabkan oleh adanya over supply. "Pada era 1980-an dimana terdapat pemain migas baru di dunia yang mengakibatkan over supply, diantaranya Kanada, Meksiko, dan Rusia. Sedangkan saat ini suplai berlebih dari shale oil Amerika," ucapnya pada acara Luncheon Talk IATMI di Gedung Wisma Mulia, Rabu (13/1).
Penemuan shale oil di Amerika berdampak pada cadangan minyak terbukti Amerika menjadi 40 milyar barel, yang sebelumnya 25 milyar barel. Sedangkan cadangan minyak terbukti Indonesia hanya 4 milyar barel. Namun negara-negara OPEC masih menjadi kunci harga minyak dunia. “Cost produksi migas di negara-negara OPEC memang lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Benny.
Mantan analis kebijakan fiskal migas di OPEC mengatakan, sulit untuk memprediksi harga minyak. The Wall Street Journal meminta prediksi harga minyak pada Q3 2015 kepada Standart Chartered, ING Bank, Commerzbank, Deutsche Bank, UBS, Barclays, Societe Generale, Bank of America, Merril Lynch, dan Morgan Stanley. Range hasil prediksi yang dilakukan pada Q2 2015 adalah $50 - 70 Dolar US per barel. Padahal harga minyak di Q3 2015 terjun di level US$40 dan tidak pernah mencapai US$50.
Benny membandingkan harga minyak turun yang disebabkan oleh pelemahan ekonomi global yang lebih cepat kembali ke harga normal. "Saat pelemahan ekonomi dunia pada tahun 1998 dan 2008 terjadi penurunan harga minyak, tetapi cepat recover-nya," terangnya.
Indonesia sebagai negara net importir minyak, harga minyak rendah tidak menjadikan Indonesia dalam posisi yang menguntungkan. Dia menjelaskan, harga minyak rendah dalam jangka panjang akan membuat kegiatan eksplorasi dan produksi menurun. Akibatnya produksi nasional cenderung akan menurun dan tambahan cadangan minyak juga tidak ada. “Bahaya yang mengancam lain adalah harga minyak rendah akan mendorong konsumsi yang boros sehingga permintaan akan meningkat. Dalam jangka panjang kesenjangan antara produksi migas dalam negeri dan konsumsi akan semakin melebar. Ketika harga minyak meningkat, maka ketahanan energi nasional sangat rentan,” tutupnya.

Komentar