Ubah Tenaga Angin Jadi Energi Berkelanjutan

15 September 2017, Editor Anovianti Muharti

Mart Huismans (kiri), Sales Director Indonesia Siemens Gamesa Renewable Energy. Igtiander Purba (kanan), Proposal and Promotor Manager, Digital Grid Business Unit, Energy Management Division PT Siemens Indonesia. dok. Oppie Muharti | MigasReview.com
Mart Huismans (kiri), Sales Director Indonesia Siemens Gamesa Renewable Energy. Igtiander Purba (kanan), Proposal and Promotor Manager, Digital Grid Business Unit, Energy Management Division PT Siemens Indonesia. dok. Oppie Muharti | MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
1

MigasReview, Jakarta - Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan dalam membangun infrastruktur terutama bidang kelistrikan. Energi terbarukan bisa memainkan peranan dalam memecahkan masalah kekurangan pasokan listrik. Dengan mendorong pasokan listrik dari sumber terbarukan, pemerintah bisa secara efektif meningkatkan elektrifikasi ke wilayah terpencil.

Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Indonesia memiliki potensi energi (tenaga) angin sebesar 60 GW. Melihat potensi tersebut, Siemens berkomitmen untuk mendorong agar bisa diubah menjadi sumber pertumbuhan energi terbarukan di masa depan. Untuk mencapai tujuan ini, pihaknya mampu menawarkan keuntungan sekaligus meminimalisasi risiko melalui berbagai terobosan. Solusi terpadu diseluruh rantai nilai membantu pelanggan untuk mengubah tenaga angin menjadi aset yang menguntungkan untuk masa depan yang berkelanjutan.

Berikut penjelasannya di sela acara IndoEBTKE Conex 2017

  • Mart Huismans (MS) - Sales Director Indonesia Siemens Gamesa Renewable Energy
  • Igtiander Purba (IP) - Proposal and Promotor Manager, Digital Grid Business Unit, Energy Management Division PT Siemens Indonesia

---

Untuk menempatkan posisi (titik) pemasangan turbin angin, pertimbangan apa yang diperlukan?

MS: Kami sebagai supplier and installment department (pemasangan), lalu customer melakukan searching site (pencarian) untuk mendapatkan kekuatan angin yang bagus. Maka diperlukan beberapa data klimatologi, seperti data cuaca dan musim, contoh di Indonesia dapat ditemukan angin yang kuat seperti di Jawa Barat bagian selatan, yang kemudian data-data tersebut diolah, dipelajari, dikembangkan yang kemudian dipetakan lokasi-lokasinya. Setelah semua data telah dipastikan memiliki potensi untuk menghasilkan energi angin, maka (pihak yang bersangkutan) akan melakukan tahap pengembangan selanjutnya. Ketika customer sudah menentukan lokasi, yang Siemens lakukan adalah mengoptimasinya, salah satunya dengan memberikan opsi (konstruksi) ketinggian turbin, karena semakin tinggi semakin kuat kekuatan anginnya.

Berapa lama untuk mengumpulkan data-data tersebut?

MS: Untuk di Indonesia yang memiliki 2 musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau, maka minimum diperlukan satu tahun penuh. Bahkan, observasi selama dua tahun akan lebih baik.

Berapa kapasitas turbin yang sedang dikerjakan di Indonesia?

MS: yang kecil (satu turbin) sekitar 2 MW, dan yang besar sekitar 4,2 MW. Sementara, total daya untuk 2 project yang saat ini sedang dikerjakan di Sulawesi mencapai 150 MW. Banyak orang mengatakan bahwa di Indonesia ini anginnya kurang kencang, harga jual listriknya terlalu rendah sehingga pembangkit tenaga angin sulit atau tidak memungkinkan untuk dikembangkan. Tapi toh, sekarang bisa dibangun juga. Ini merupakan indikasi bahwa tenaga angin bisa kompetitif.

Menurut Anda, daerah mana saja (Indonesia) yang memiliki potensi untuk dikembangkannya energi angin?

MS: Indonesia bagian timur, karena banyak pulau-pulau yang memiliki kecepatan (kekuatan) angin yang cukup kencang. Kemudian, bagian selatan Pulau Jawa, seperti pantai yang berada di daerah sekitar Sukabumi, lalu beberapa area di Bali dan Lombok. Secara umum (kekuatan angin yang tidak terlalu kuat, namun berpotensi), berada di sekitar Sulawesi Utara, Kalimantan.

Apa yang Anda harapkan dalam proses pengembangan energi angin di Indonesia atau apa tantangannya?

MS: Kami berusaha untuk menjalin relasi yang baik dengan (pemerintah) daerah setempat, karena suatu daerah (saat proses diskusi) ada yang merespon cepat, namun ada juga yang tidak secepat dibanding suatu daerah yang lain. Akan tetapi, hal-hal ini (proses) tidak hanya di Indonesia, masing-masing (pemerintah) setiap negara punya tantangan tersendiri, bagi kami selama kondisi atau situasi lingkungan (daerah) yang stabil, yang mana dapat terlaksananya agreement (perjanjian/kesepahaman) untuk berinvestasi, tentunya dengan jangka waktu yang panjang.

IP: Tentunya, setiap project punya keunikan tersendiri. Karena terdapat beberapa aturan atau persyaratan yang harus diikuti (Pemerintah Pusat ataupun Pemerintah Daerah).

MS: Contohnya, tenaga kerja lokal yang akan digunakan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan pelatihan.

Berkaitan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), apa mudah didapatkan?

IP: Saat ini memang belum ada penekanan terhadap TKDN, secara prinsip untuk tenaga angin (bahan konstruksi) memang masih impor, namun secara berangsur kita juga perlu belajar bertahap agar dapat membuatnya. Namun, alat-alat pendukungnya sudah dipabrikasi di sini (lokal), termasuk tenaga kerjan (ahli teknisi). Secara presentase, untuk tower dan turbinnya TKDN sekitar 5 persen, sementara sistem pendukungnya di kisaran 40 persen.

Program 35.000 MW saat ini, ditargetkan 23 persen berasal dari renewable energy, bagaimana menurut Anda?

MS: Tentunya, kami harus realistis dalam hal melihat resource (potensi energi) dan lokasinya. Tidak melulu dengan tenaga angin, karena bisa saja suatu daerah lebih miliki potensi energi surya yang lebih baik.

Bagaimana untuk menjaga suplai daya agar tetap stabil?

MS: Apabila suatu daerah memiliki beberapa jenis renewable energy ataupun energi lainnya, maka perlu teknologi untuk mengombinasikannya agar lebih ekonomis.

IP: Mengatur dalam hal mengombinasikan energi agar suplai daya stabil, (Siemens) menggunakan teknologi MGC (Microgrid Controller) atau MGMS (Microgrid Management System). Microgrid merupakan alternatif yang andal dalam mengelola pasokan sumber daya secara otonom, misalnya di pulau, atau untuk optimalisasi jaringan listrik tingkat tinggi dan biaya pasokan listrik. Dengan operasi jaringan listrik yang terkoneksi, teknologi microgrid membuat pasokan listrik dari sumber energi terbarukan menjadi andal, baik ketika pasokan daya memuncak atau paling lemah mengingat fluktuasi pasokan listrik dari sumber energi terbarukan.

MS: Namun, apabila terdapat kelebihan suplai energi, bisa menggunakan storage (penyimpanan), yang nantinya dapat digunakan ketika suplai (salah satu) energi sedang rendah.

IP: Storage belum masuk di pasar Indonesia, saat ini masih di Eropa, karena dari segi harga belum cocok.

Pertimbangan menentukan penggunaan teknologi MGC atau MGMS?

IP: Tergantung dari berapa banyak kombinasi (energi) yang akan diterapkan di lokasi, lebih banyak tentu lebih kompleks maka diperlukan sistem yang lebih canggih. Bila jenis sumber energi terbarukannya hanya satu, cukup menggunakan MGC. Namun, dapat disesuaikan apabila lokasi tersebut menambah jenis energi terbarukan lainnya, misalnya tambahan tenaga surya, tenaga hidro, maka sistem ini scalable, bisa ditingkatkan dari MGC menjadi MGMS.

MGMS mampu untuk mengelola sumber-sumber energi dari tenaga surya (photovoltaic), tenaga angin, mesin diesel atau berbahan bakar gas, storage, beban listrik (pabrik, permukiman, dan lain-lain), titik sambung jaringan listrik atau PoC (point of coupling) ke jaringan listrik utama, serta stasiun pengisi daya kendaraan listrik. MGMS juga bisa dikombinasikan dengan data prakiraan cuaca, baik dari BMKG maupun prakiraan cuaca internasional, gunanya untuk memprediksi kondisi kecepatan angin di esok harinya.

(anovianti muharti)

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Industri Minyak dan Gas Dalam Proses Menemukan Ekuilibrium Baru

migas review MigasReview, Jakarta – Dinamika harga minyak dan gas saat ini tentunya akan mempengaruhi investasi di sektor hulu maupun hilir industri minyak dan gas. Terlihat beberapa tahun belakangan ini, bahwa investasi cenderung turun, meski sentimen pasar tetap…