IIGCE 2017

Menjaga Semangat Industri Panasbumi

26 July 2017, Editor Anovianti Muharti

Oppie Muharti / Migas Review
Oppie Muharti / Migas Review
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
1

MigasReview, Jakarta – Panasbumi merupakan sumber energi yang ramah lingkungan serta dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Namun, pengembangan energi panasbumi juga membutuhkan dukungan banyak pihak.

Oleh karena itu, untuk menjaga pemanfaatan energi panasbumi tetap berkelanjutan, Ketua Pelaksana Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2017 Suharsono Darmono mengharapkan, IIGCE menjadi wadah untuk berdiskusi dan sharing knowledge pengalaman dan keahlian bagi kepentingan bersama antara industri, kampus dan pemerintah.

Berikut penuturannya ketika ditemui MigasReview.com.

---

Apa yang akan disampaikan dalam IIGCE 2017 ini?

Event ini adalah yang kelima kalinya, yang mana dari event sebelum-sebelumnya terdapat benang merah agar mengupdate perkembangan dan peluang di industri panasbumi (geothermal) termasuk tantangan dan hambatannya. 

Event ini menjadi tempat berkumpulnya para pemangku kepentingan untuk melakukan sharing knowledge mengenai best practice yang terkait industri panasbumi.

Kemudian terdapat pameran (exhibition) yang menampilkan kemajuan yang telah dicapai hingga saat ini oleh para pelaku industri panasbumi, mulai dari  pembuat kebijakan, pengembang, industri penunjang maupun akademisi.

Akan ada pembicara kunci, diantaranya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Keuangan, Wakil Ketua DPR, Dirjen EBTKE, Asosiasi Panasbumi Indonesia, Duta Besar Selandia Baru, serta para pelaku terkait industri panasbumi.

Kemudian presentasi teknis, kunjungan lapangan, pre-event conference workshop dengan 2 topik, yaitu strategi pengembangan lapangan panasbumi, dan strategi investasi.

Apa yang menjadi ciri dari energi panasbumi?

Industri geothermal memiliki beberapa strength point, pertama merupakan energi yang ramah lingkungan, karena tidak menimbulkan gas rumah kaca. Kedua, tidak mengganggu lingkungan permukaan bumi karena produk samping yang dihasilkan panasbumi dikembalikan (dinjeksikan kembali) ke dalam bumi. Terakhir, energi terbarukan, karena air yang terkondensasi dari uap yang sudah dipakai entalpi-nya (panas dan tekanan uap) dikembalikan ke dalam bumi dan bertemu dengan magma-nya lagi kemudian menjadi uap (berulang).

Ada dimana saja potensi energi panasbumi?

Secara geografis, menurut paraahli eksplorasi, Indonesia berada di Ring of Fire, gugusan gunung berapi yang terbentang dari Aceh, Sumatera (Bukit Barisan), Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur, kemudian Sulawesi serta Halmahera, Maluku. Maka, secara teori potensi panasbumi berada di daerah-daerah tersebut.

Bagaimana perkembangan panasbumi yang ada saat ini, dan apa tantangannya?

Perkembangan dalam hal kapasitas panasbumi yang sudah ter-develop, saat ini 1600-an MW (data Kementerian ESDM per Juni 2017 sebesar 1.698,5 MW). Disadari, masih banyak peluang untuk dikembangkan lagi, dan merupakan amanah dari RUEN (Rencana Umum Energi Nasional) untuk mengembangkan pembangkit tenaga listrik panasbumi (PLTP) 7.200 MW di 2025. Tentunya, di IIGCE kita akan mendengarkan perkembangan dari pihak regulator, peraturan-peraturan apa saja yang dikeluarkan, yang akan menjadi pertimbangan bagi para pelaku industri ini.

Tantangan dari industri panasbumi terdapat beberapa, pertama, sumber-sumber panasbumi berada di hutan ataupun pegunungan, baik di hutan lindung maupun hutan konservasi. Sehingga, diperlukan solusi supaya tetap taat terhadap aturan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM untuk menjembataninya. Kedua, tantangan eksplorasi, dimana terdapat success factors dan failed factors, karena ketika melakukan pengeboran sumur panasbumi belum tentu 100% didapatkan. Sehingga, bisa terjadi dry hole, hampir mirip seperti di industri minyak dan gas bumi, namun juga bisa mendapatkan lebih daripada studi yang diprediksikan. Ketiga, risiko teknis, karena uap yang dihasilkan dari magma bumi, bukan uap seperti tenaga uap yang menggunakan batubara, sehingga kualitas uap yang dihasilkan belum tentu murni atau bagus maka diperlukan conditioning yang dapat membebankan biaya operasional. Terakhir, risiko harga yang diawali dengan penentuan harga di depan, dan besaran harga saat ini dibatasi oleh peraturan pemerintah sehingga ada risiko harga yang menjadi tantangannya.

Namun, yang terpenting semangatnya untuk menjalankan industri geothermal, meski banyak tantangan dan aturan-aturannya, kita perlu menjaga semangat dari para pelaku industri ini dan menjembatani dengan para pemangku kepentingan agar tetap maju kedepan untuk mempercepat pengembangan panasbumi.

Bagaimana kesiapan sumber daya manusia (SDM)?

Dilihat dari pendidikan di Indonesia, sekarang ini baru memang ada di tingkat Strata 2 Teknik Panasbumi, untuk jenjang Strata 1 dan Diploma masih umum. Namun, good news-nya jenjang S1 dan Diploma Teknik sudah dapat mendukung industri ini. Katakanlah, ketika eksplorasi dibutuhkan ahli geologi, geochemist, reservoar engineer, ataupun geofisika yang secara umum bisa dilatih untuk mendalami panas bumi.  Sehingga, (dalam pendidikan) perlu ditambahkan variabel atau materi contoh yang membidangi panasbumi. Masing-masing developer memiliki training bagi fresh graduate S1 maupun Diploma ketika berkecimpung di industri panasbumi dengan diberikan pelatihan-pelatihan ataupun praktek lapangan untuk menghasilkan tenaga ahli berdasarkan kualitas yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan, karena seiring dengan bertambahnya kapasitas PLTP (seperti yang ditargetkan) tentunya membuka peluang tenaga kerja yang dibutuhkan. Sementara ilmu dasarnya sudah tersedia, seperti Teknik Geologi, Teknik Perminyakan, Teknik Geofisika, Teknik Mesin, Teknik Listrik (Elektro), Teknik Kimia bahkan Teknik Sipil.

Apa harapan Anda terhadap industri panasbumi?

Rencana sebaran energi nasional, yang sudah dipikirkan dan direncanakan oleh Dewan Energi Nasional (DEN) dan sudah diratifikasi oleh pemerintah melalui RUEN, terealisasikan. Sehingga, sebaran energi bersih lebih besar, menggantikan energi yang tidak terbarukan dan dapat diteruskan oleh generasi selanjutnya. 

(anovianti muharti)

 

Artikel Terkait

Jembatani Kepentingan Geothermal dan Konservasi Hutan

JK: Energi Geothermal Akan Jadi Energi Prioritas

Tantangan Kembangkan 7.000 MW Energi Panasbumi

Industri Panasbumi Butuh Ribuan SDM

Energi Panasbumi, Bagian Penting Dukung Program 35.000 MW

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Industri Minyak dan Gas Dalam Proses Menemukan Ekuilibrium Baru

migas review MigasReview, Jakarta – Dinamika harga minyak dan gas saat ini tentunya akan mempengaruhi investasi di sektor hulu maupun hilir industri minyak dan gas. Terlihat beberapa tahun belakangan ini, bahwa investasi cenderung turun, meski sentimen pasar tetap…