Investasi Qatar di Indonesia untuk Sektor Migas

Proyek Investasi US$1 Miliar Bangun PLTGU dan FSRU di Sumbagut

23 October 2017, Editor Anovianti Muharti

Oppie Muharti | MigasReview.com
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta - Salah satu proyek investasi Qatar yang tengah berjalan yaitu kerja sama senilai US$1 miliar untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) 1,3 dan 4 serta Floating Storage & Regasification Unit (FSRU) di daerah tersebut. Pasokan LNG diutamakan berasal dari dalam negeri.

Kerja sama tersebut, menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar dalam konferensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Senin (23/10/2017), digunakan untuk membangun PLTGU Sumbagut senilai US$ 800 juta dan FSRU Sumbagut senilai US$ 200 juta.

FSRU Sumbagut saat ini masih dalam tahap desain. Sementara untuk besaran kapasitasnya, menurut dia, lebih kecil dari FSRU Jawa Barat.

“Saya lupa berapa persisnya (kapasitas), tapi ini masih dalam tahap desain,” katanya.

Sementara mengenai pasokan LNG untuk FSRU tetap mengutamakan dari dalam negeri, meski tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan impor sesuai dengan aturan yang berlaku.

“LNG (dari) dalam negeri tetap diutamakan, sesuai dengan Permen (ESDM). Kalau memang dibutuhkan dari luar negeri, diperbolehkan selama harganya masuk sebesar 14,5% ICP. Namun demikian, penandatanganan (kerja sama) hari Kamis malam (19/10/2017), kalau tidak salah itu maksimum harga LNG-nya sebesar 14% ICP,” jelas Arcandra.

LNG merupakan salah satu sumber energi Indonesia di masa depan. Meski FSRU secara teori tidak termasuk kompleks, namun menurut Arcandra dalam kunjungannya ke FSRU Jawa Barat pekan lalu, ide untuk mengubah LNG ke gas dan kemudian mengirimkannya ke tempat-tempat yang membutuhkannya merupakan hal yang bagus. Di Indonesia, baru ada 2 FSRU yaitu FSRU Jawa Barat dan Lampung. Di dunia sendiri, belum banyak negara yang memiliki fasilitas FSRU.

Arcandra mengatakan, berdasarkan perencanaan yang ada, Indonesia memerlukan beberapa FSRU. Mengingat pengguna terbesar LNG adalah PT PLN, maka pembangunan FSRU harus disesuaikan dengan rencana yang disusun PLN.

“Kira-kira berapa kebutuhannya, sedang dibicarakan dengan PLN. Sebelum kita bicara berapanya lagi (FSRU), kita bicara dulu neraca gas diperbaiki biar lebih akurat,” tambahnya.

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Efisiensi Energi Versi PHE ONWJ

migas review MigasReview, Jakarta - Direktur Konservasi Energi Sugeng Mujiyanto melakukan kunjungan lapangan pada gathering station Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), di lepas laut Jawa untuk melihat secara langsung implementasi efisiensi…