MigasReview, Denpasar - Implementasi pembangunan pembangkit
listrik tenaga nuklir (PLTN) harus segera direalisasikan pemerintah. Sebab,
jaminan pasokan listrik untuk kebutuhan industri maupun masyarakat di Indonesia
masih sulit terpenuhi di masa mendatang.
Ketua Kelompok Kerja Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI Zulnahar Usman mengatakan,
selama 70 tahun belakangan implementasi pemanfataan energi nuklir lewat
pembangunan PLTN di Tanah Air masih dalam tataran wacana. Padahal, Proklamator
Soekarno sejak awal kemerdekaan sudah memimpikan Indonesia akan masuk ke era
nuklir.
"Sejak era Bung
Karno, belum ada lagi pembicaraan yang mengarahkan Indonesia untuk go nuclear,
tapi Bapak Presiden Jokowi memberikan harapan bagi bangsa Indonesia untuk
memanfaatkan energi Nuklir. Tidak ada kata dari Presiden Jokowi untuk menolak
PLTN, justru presiden telah memerintahkan kepada ESDM untuk membuat road
map," kata dia, Selasa (17/04/2018).
Untuk dapat menjadi negara maju, Indonesia tentunya harus
mendorong tumbuhnya industri di dalam negeri. Karena itu, ketersediaan pasokan
listrik dengan harga yang murah sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah.
Saat ini, industri nasional sulit bersaing di level internasional karena tingginya
biaya produksi, salah satunya dari mahalnya listrik. Minimnya listrik untuk
industri juga terkadang dapat menghambat masuknya investor baru.
Menurut Zulnahar, ketergantungan akan pemanfaatan energi
fosil baik berupa batubara, gas, dan minyak pun sudah seharus dikurangi,
mengingat jumlah cadangan yang terbatas dan harganya yang semakin mahal.
Pembangkit listrik energi fosil ini pun harus segera digantikan dengan
pembangkit listrik berbahan bakar energi baru terbarukan (EBT).
"Saya mengutip
sedikit statement pak Presiden Jokowi yang menyatakan Indonesia punya banyak
sumber energi baru terbarukan yang cukup banyak, air, surya, angin, dan
geothermal. Beliau juga bilang, jika energi nuklir sudah diperlukan, maka harus
segera disiapkan dan jangan diambangkan, harus dihitung secara detail dan
jelas," ujarnya.
Menurut Zulnahar, keberadaan pembangkit listrik EBT mulai
dari pembangkit listrik tenaga air
(PLTA), pembangkit listrik tenaga panasbumi (PLTP), hingga pembangkit listrik
tenaga surya (PLTS) masih dirasa kurang untuk dapat memenuhi kebutuhan listrik.
Bahkan, harga jual listrik dari para pembangkit tersebut dinilai mahal dan
sulit terjangkau kalangan industri, yakni di atas US$ 11 sen per kilowatt hour
(kwh).
Oleh karena itu, keberadaan nuklir mutlak diperlukan untuk
dapat memenuhi kebutuhan energi nasional. Zulnahar menegaskan, penerapan
teknologi PLTN sudah memenuhi prinsip dasar energi, yakni murah, realibilitas
atau handal, serta ekonomis alias tidak memerlukan subsidi APBN.
Selain itu, kesiapan stakeholder
dari segi untuk menuju penerapan teknologi nuklir atau go nuclear juga dinilai
telah memadai. Misalnya, Batan sejak 2006 telah menerbitkan dokumen Pedoman
Penerapan dan Pengembangan Sistem Energi Nuklir (SEN) Berkerlanjutan di Indonesia,
lembaga ini juga telah membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Serpong
dengan kapasitas 30 megawatt (MW).

Komentar