MigasReview, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, pemerintah terus berupaya memanfaatkan potensi
sumber daya alam khususnya energi baru terbarukan (EBT) untuk memenuhi
kebutuhan energi setempat. Namun, langkah penting yang perlu dilakukan adalah
mengklarifikasi dan meningkatkan status data potensi yang ada, hingga menjadi
cadangan terbukti yang siap dimanfaatkan untuk mendukung ketersediaan energi
wilayah tersebut.
"Data-data
cadangan sumber daya alam kita perlu diteliti lebih dalam. Jika ada yang
menyatakan sumber daya air kita terbesar kelima dunia, itu (masih) unverified,
masih potensi, belum cadangan. Cadangan itu dibagi-bagi lagi, ada yang
dinamakan dengan possible reserve, ada yang dinamakan probable reserve, ada
pula yang dinamakan dengan proven reserve," ujar Arcandra, seperti
yang dilansir esdm.go.id.
Lebih lanjut Arcandra mengungkapkan, berbicara soal
cadangan, ketika dinamakan potensi kita harus berfikir lebih jauh.
"Dari mana
datanya? Bagaimana perhitungannya? Suatu saat kita dapat data, potensi air
laut/ombak sekian ratus Giga Watt (GW). Saya liat, ini darimana datanya,
ternyata cara penghitungannya dari sebuah pernyataan kemudian dikalikan panjang
pantai. Banyak saya temui yang seperti ini," ungkapnya.
Contoh kasus yang sangat jelas adalah minyak bumi.
"Apakah kita
masih percaya negara kita kaya minyak? Cadangan terbukti (proven reserve) hanya
3,3 miliar barel atau sekitar 0,2 persen dari cadangan minyak dunia. Produksi
kita 800 ribu barel per hari (bph). Mungkin kita berfikir beberapa tahun lagi
cadangan kita habis, kalau kita tidak temukan cadangan lain. Minyak itu belum
akan habis, yang ada adalah kemampuan manusia saat ini hanya mampu mengambil
sampai 40-50%. Masih ada 60-50% lagi di bawah sana, yang belum terambil,"
papar Arcandra.
Dengan kondisi jumlah cadangan fosil tersebut, Arcandra
menegaskan pentingnya pemanfaatan energi non fosil dalam rangka memenuhi
kebutuhan energi nasional.
"Apakah kita akan
memanfaatkan energi di luar fosil? Iya! Non fosil adalah keharusan. Kapan kita
lakukan? Dalam kurun 2014-2016, yang bertanda tangan kontrak dengan PLN untuk
Energi Baru Terbarukan (EBT) hanya sekitar 14 atau 15, tahun 2017 ada 70, naik
4 kali lipat. Tahun 2017 kita mendorong EBT. Kalau dikatakan tidak ada
terobosan, ini data dari mana? Renewable energy kita dorong, komitmen 1,2 GW
ditandatangani tahun lalu. Jadi mohon dikoreksi kalau ada yang bilang
Pemerintah tidak melakukan terobosan," ungkapnya.

Komentar