Migas Review, Jakarta - Harga minyak mengalami penguatan akibat sentimen devaluasi
mata uang Yuan dan penurunan suku bunga di China. Namun, harga minyak menguat diperkirakan
tidak berlangsung lama hingga awal tahun mendatang.
Mengutip Bloomberg, Rabu (26/8) harga Minyak WTI untuk
pengiriman Oktober USD$39,31 per barel dengan kenaikan USD$1,07 atau 2,8% di New York Mercantile Exchange.
Sedangkan harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober USD$43,21 dengan kenaikan
US$52 sen atau 1,2% di ICE Futures Europe Exchange.
Harga minyak mengalami rebound dari level
terendah selama enam tahun terakhir setelah terbitnya dua kebijakan The
People’s Bank of China atau Bank Sentral China. Yakni devaluasi mata uang Yuan
sebesar 1,85% terhadap dollar US dan
2,2% terhadap Euro. Serta, menurunkan suku bunga 25 basis poin menjadi 4,6%
dari sebelumnya yang berada di level 4,85%.
Analis minyak dari Commerzbank
di Frankfurt Carsten Fritsch mengatakan, China dapat memperngaruhi fluktuasi
harga minyak dunia. Pasalnya, China merupakan konsumen minyak terbesar kedua
di dunia setelah Amerika Serikat. “Ini bukan tentang fundamental pasar minyak
dunia, ini semua mengenai China,” ucapnya di Reuters (25/8).
Tidak Bertahan Lama
Negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC
mempertahankan produksi. Arab Saudi sebagai negara memimpin OPEC tetap memproduksi minyak 10,57 juta barel per hari pada
bulan Juli berdasarkan data Bloomberg.
Herve Wilczynski partner dari
AT Kearny Inc Oil & Gas mengatakan, Arab
Saudi terkena dampak dari kebijakan OPEC untuk melawan pasokan minyak berlebih
dari negara non-OPEC. Arab Saudi mencari solusi untuk memangkas anggaran negara pada
tahun depan karena penurunan harga minyak mentah. "Kebijakan Saudi sangat mahal
bagi mereka. Arab memikirkan ulang mendanai program-program sosial yang sebelumnya
tidak ada saat harga minyak rendah di era 1980an," ucapnya di Bloomberg.
Menteri Perminyakan Norwgia Tord Lien mengatakan rebound harga minyak dunia tidak akan berlangsung lama. “Kenaikan
harga minyak jelas tidak berkelanjutan dalam jangka menengah dan panjang,”
ucapnya di Bloomberg (26/8).
Disisi lain, perjanjian penghapusan
beberapa sanksi negara Iran akan membuka pasokan minyak berasal dari negeri
tersebut di tahun 2016. Langkah ini setelah Iran mencapai kesepakatan dengan enam kekuatan dunia mengenai program
nuklirnya. Senin (24/8), Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond mengatakan,
pelonggaran sanksi terhadap Iran pada awal musim semi 2016, dimana Iran akan membuka
ekspor minyak.
Iran berencana mempercepat
produksi dan ekspor minyak mentah secepat pencabutan sanksi internasional yang
diberlakukan sejak 2012. Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan, Iran meningkatkan produksi minyak 500 ribu barel perhari pada Selasa (25/8). “Setelah
pembatasan dihapus, Iran akan mengambil kembali pangsa pasar yang hilang lebih dari 1 juta
barel perhari,” ucapnya menurut kantor berita nasional Iran, Shana.
Iran memberikan sinyal akan
menjual minyaknya dengan harga berapa pun ditengah trend penurunan harga. “Kami harus menjual minyak kita. Meskipun kami ingin menjual minyak
lebih mahal, harga tetap ditentukan oleh pasar,” ucap Zanganeh. (tyo raha)

Komentar