Geothermal Filipina Berkembang karena Tak Ada Pilihan Lain

06 July 2015, Editor

Ilustrasi. Panas Bumi. (Foto : http://pge.pertamina.com/)
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta – Sektor panas bumi Filipina berkembang lebih baik dibandingkan Indonesia karena negara ini mau tidak mau harus memanfaatkannya mengingat mereka tidak punya pilihan lain.

“Pada 1970-an akhir sampai 1980-an, Filipina belajar geothermal dari Indonesia. Sekolah saya dan orang-orang Filipina itu sama. Mereka teman-teman saya semua. Geohermal mereka maju karena memang tidak ada pilihan lain. Mereka tidak punya minyak atau batubara, sumber daya hidronya juga sangat terbatas sehingga mendorong geothermal sebagai energi primer,” kata Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) sekaligus anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Abadi Poernomo kepada MigasReview beberapa waktu lalu

Saat ini, pengembang panas bumi nomor satu di dunia adalah Amerika Serikat dengan kapasitas 3.000 megawatt (mw), disusul oleh Filipina dengan 2.000 mw dan Indonesia dengan sekitar 1.430 mw.

Karena Indonesia memiliki banyak pilihan, akhirnya panas bumi tidak begitu dilirik pemerintah. Baru-baru ini saja pemerintah mulai fokus untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), khususnya panas bumi.

“Oleh karena itu, dalam kebijakan energi nasional  2015-2019, energy mix itu dibuat. Artinya, kita mengurangi penggunaan minyak dan mengoptimalkan penggunaan gas. Batubara dipakai sebagai penyeimbang dan memajukan EBT, baik itu geothermal, biosolar, biofuel, tenaga surya, arus laut, angin, dan sebagainya,” kata Abadi.   

Jangan Bergantung pada Batubara

Menurut Abadi, meski Indonesia berlimpah batubara, negara ini tidak boleh hanya fokus pada pengembangan listrik dengan sumber energi kotor tersebut.

“Coba kita lihat China. Sebanyak 80 persen energinya pakai batubara. Tapi coba lihat Beijing, ada matahari nggak? Hitam dan gelap gulita. Tapi itu harus mereka lakukan karena mereka sedang dalam tahap pembangunan. Tapi sekarang, Beijing dan Shanghai sudah agak lumayan. China sudah mulai menyetop pembangunan dengan menggunakan batubara. Negara ini menggantinya dengan nuklir yang versi 4. Setiap tiga bulan sekali ada pembangkitan nuklir baru di China,” kata Abadi.

Abadi mengakui, investasi batubara jauh lebih murah dibandingkan sumber energi lain. “Investasi nuklir per megawatt-nya sekitar US$ 5-6 juta, geothermal US$ 3-4 juta, sedangkan batubara US$1,5-2,5 juta. Jadi memang investasinya jauh lebih murah batubara,” kata Abadi.

Meski demikian, kata dia, tetap harus ada keseimbangan melalui energy mix, selain karena terbatasnya pemanfaatan geothermal. (aw) 

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Menjadikan Pertamina Tuan Rumah di Negeri Sendiri

migas review MigasReview, Jakarta - Sejak tahun lalu, sebanyak 12 Wilayah Kerja (WK) yang berakhir kontraknya atau terminasi telah diputuskan untuk dialihkelola ke Pertamina. Dengan demikian kontribusi perusahaan plat merah tersebut terhadap produksi migas nasional…