MigasReview, Jakarta
– Asosiasi
Panasbumi Indonesia (API) menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi sebesar 3.100 megawatt.
Angka tersebut berasal dari kapasitas dalam beberapa
tahun ke depan sebesar 1.400 mw yang siap
beroperasi dan tambahan lagi sekitar 1.700 mw dari PLTP Sarulla dan sejumlah pembangkit yang dioperasikan oleh
Supreme Energy dan PT Pertamina Geothermal
Energy (PGE).
Dalam program
penambahan kapasitas listrik
sebesar 35.000 mw selama
2014-2019, geothermal ditargetkan
menyumbang sekitar 4.600 mw.
Namun Ketua API yang juga anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Abadi Poernomo menyatakan
pesimismenya
bisa mencapai target tersebut.
Kepada
MigasReview beberapa waktu lalu, Abadi
mengutarakan berbagai langkah
dan program sektor panas bumi dalam lima
tahun ke depan.
Bapak pernah mengatakan bahwa dalam program pemerintah 35.000 mw,
sektor geothermal
hanya mampu menyumbang 1.000
mw. Apa target
berikutnya sejalan dengan naiknya permintaan
listrik di masyarakat?
Dari program 35.000 mw plus 7 ribu mw yang telah
tercapai dalam fast track program
(FTP) 2,
target sumbangan geothermal adalah sekitar 4.600 mw. Target 4.600 mw itu ditetapkan dengan catatan pada
saat itu seluruh program geothermal berjalan.
Namun demikian,
kita lihat perkembangannya selama periode
FTP 2,
proyek geothermal tidak ada
yang berjalan kecuali wilayah kerja (WK) yang dioperasikan oleh Pertamina,
Supreme Energy, Star Energy dan Chevron.
Dari
situlah, program itu kami evaluasi
kembali. Yang akan commercial
development Agustus
mendatang adalah PLTP Kamojang
V sebesar 35
mw. Kamojang V itu adalah extention
dari kapasitas saat ini sebesar 200 mw. Ditambah 35 mw, jadi total sebesar 235 mw.
Tahun
ini, yang juga sudah ‘masuk’ adalah Sarulla dengan kapasitas yang
cukup besar, 330 mw, meski bertahap
sebesar 110 mw, 110 mw, dan 110 MW. Sementara itu, dari
PLTP Patuha sebesar 55 mw, Ulu Belu 110 mw. Hanya sebesar
itu padahal targetnya 4.600 mw. Jadi kami masih punya utang
banyak.
Tapi harapan saya, ke depan trennya maju
terus. Pada akhir 2020, saya
harapkan pembangkitan geothermal itu sekitar 3.100 mw, berasal dari tambahan
sekitar 1.600
mw dari Sarula, Supreme Energy, dan pengembangan Pertamina
Geothermal Energy.
Kekurangannya
sangat banyak. Bagaimana cara meningkatkan penambahan kapasitas listrik menjadi 4.600 mw itu?
Asosiasi
sedang melakukan kajian-kajian akademis untuk membantu pemerintah dalam mengatasi masalah ini. Yang paling utama dan sangat
berat adalah permasalahan sosial. Sudah disampaikan berkali-kali, masalah sosial menjadi
penghambat utama, mulai dari pembebasan
lahan maupun pada saat kita sudah mulai melakukan eksplorasi. Itulah yang harus kita
atasi bersama-sama.
Jadi harapan saya, pada 2016 atau 2015 akhir
sudah bisa jalan kalau ada komitmen harga
yang baik. Misalnya mulai pada 2016, artinya nanti mulainya pada 2021 atau 2022.
Jadi tidak dalam lima tahun seperti yang
ditetapkan ini.
Bagaimana
Anda
melihat
sektor panas bumi ini dalam beberapa
tahun ke depan terkait peningkatan
kebutuhan listrik?
Menurut target Komite Ekonomi Nasional (KEN), pada 2025 total pembangkitan listrik harus menghasilkan 115 gigawatt (gw), di mana seyogyanya sebesar 7 persen berasal dari geothermal. Apakah kita bisa mememuhi itu atau tidak? Kalau7 persen berarti sekitar 6.500 mw mungkin susah. Tapi kami akan effort semaksimal mungkin, sekuat mungkin sampai seberapa jauh bisa mencapai sasaran. (albi wahyudi)

Komentar