Gross Split (Bagian 2)

Pembagian Hasil yang Berkeadilan dan Terukur

03 April 2017, Editor Anovianti Muharti

migas review
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta - Risiko-risiko yang dihadapi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam menemukan hingga pengembangan lapangan minyak dan gas (migas), sering menjadi kendala untuk menghitung nilai keekonomiannya. 

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menjelaskan, perhitungan pembagian hasil dalam skema gross split akan lebih terukur dengan memerhatikan risiko-risiko yang dihadapi kontraktor. Maka, tidak ada lagi perdebatan. 

Berikut penuturannya saat ditemui MigasReview.com di kantornya, Jum’at (24/03/2017).

---

Bagaimana perhitungan presentase pembagian hasilnya?

Dalam perhitungan PSC konvensional, minyak 85:15 dan gas 70:30, pernahkah bertanya, kenapa tidak 86:14 atau 84:16 atau 71:29 atau 69:31? Industri hulu migas sudah berjalan ratusan tahun, risiko terbesar apa saja yang dialami dalam bisnis ini? eksplorasi tidak ditemukan (dry hole), sumur ditemukan tapi kecil (marjinal) sehingga tidak ekonomis, estimasi produksi sudah diprediksi namun setelah 3 tahun produksi ternyata habis, harga minyak turun, ketemu sumur gas tapi terlalu banyak gas CO2nya, kemudian deep water, remote area. Risiko-risiko inilah yang kita jadikan basis menentukan bagiannya. 

Sambung dari contoh sawah tadi (Baca: Penguasaan Teknologi, Masa Depan Bisnis Hulu Migas), dengan curah hujan rendah, sehingga membutuhkan irigasi (teknologi pengairan) yang baik untuk mencegah tanah kering, maka penggarap dapatkan tambahan satu split 1 karung (dari yang base split 50:50). Sehingga penggarap mendapatkan 6 karung. 

Nah, dalam industri hulu migas, setelah melakukan eksplorasi dan beroperasi ditemukan variabel kandungan CO2, kandungan H2S, kedalaman pengeborannya yang dapat menyebabkan biaya tambahan atau lebih mahal, kemudian daerah remote. Sehingga, kontraktor mendapatkan split tambahan. Maka, ini yang dinamakan variabel split, yaitu split yang didapat sewaktu melakukan eksplorasi. Base-nya sudah jelas 52:48 (gas) atau 57:43 (minyak). Kemudian terdapat variabel, dimana teknologi apa yang akan digunakan dan barangnya darimana? Bila menggunakan lokal konten kurang dari 30% tidak mendapatkan tambahan split, namun bila menggunakan lokal konten lebih dari 30% dapat tambahan split 2%. Jadi, yang base split-nya 52:48, menjadi 50:50. Kemudian akan dilihat lagi, variabel daerah remote maka ditambah lagi split-nya. 

Sewaktu akan berproduksi, base split dan variabel split, kontraktor sudah tahu bagiannya dan saat itu mulai hitung keekonomian. Lalu, apa risiko selajutnya? Harga minyak. Bila harga minyak di bawah US$40, sebagai kontraktor suffer tidak? Suffer, makanya diberi tambahan split 7,5%. Semakin tinggi harga minyak, dikurangi tambahan split-nya, harga minyak US$70-85 tidak diberi tambahan split, hingga pada batasan harga minyak lebih dari US$115 split yang tadi mendapat tambahan split dikembalikan ke bagian pemerintah (Peraturan Menteri ESDM No. 8 Tahun 2017). Sehingga, tidak ada lagi yang dinamakan windfall profit. Share the gain, share the pain. Ini yang dinamakan progresif split. 

Progresif split yang kedua adalah produksi. Bila produksi kecil (kurang dari 1 MMBOE) kontraktor dapat split tambahan 5%. Produksi 1-10 MMBOE tambahan split 4%, hingga apabila produksi lebih dari 150 MMBOE tidak lagi mendapatkan tambahan split. Progresif split ini sebagai insentif kepada kontraktor, karena belum tentu modalnya dapat langsung memroduksi banyak. Inilah yang namanya bisnis, menanggung risiko bisnis dari kedua belah pihak, dimana perlunya risk analysis. Begitu juga bila harga minyak rendah, kontraktor diberi tambahan split, kita bantu. Berkeadilan, dan semuanya terukur dengan melihat risiko-risiko yang dihadapi kontraktor. Maka, tidak ada lagi perdebatan. 

Terkait dengan lokal konten, bagaimana kontraktor yang menggunakan peralatan atau barangnya dari negara asalnya (impor)?

Silahkan saja, tapi pertanyaannya adalah mengapa kontraktor menggunakan dari negaranya (impor)? Karena cost different? Kira-kira berapa perbedaannya? Misalnya, sebesar 20%. Kalau gross revenue US$1 miliar dalam 20 tahun, dengan menggunakan lokal konten hingga 70% maka dapat 4% tambahan split, artinya US$40 juta. Nah, apakah mungkin cost different 20% tadi equal dengan nilai US$40 juta? Itu baru US$1 miliar, hitung saja kalau US$10 miliar. 

Ada beberapa kontrak migas yang akan selesai masa kontraknya, bila terjadi perpanjangan apakah diarahkan ke gross split?

Dalam Peraturan Menteri (Peraturan Menteri ESDM No. 8 Tahun 2017), sudah dijelaskan. Kontrak baru menggunakan gross split, kontrak terminasi gross split, kontrak yang diperpanjang boleh memilih apakah menggunakan PSC konvensional atau menggunakan gross split. Kenapa diperbolehkan memilih? karena lapangan yang existing asetnya sudah ada, gambarannya begini, dari eksplorasi hingga end of contract selama 30 tahun, yang mana 10 tahun eksplorasi, 20 tahun produksi. Kebanyakan eksplorasi molor hingga 15-20 tahun, yang akhirnya tinggal waktu produksi 4 tahun, kemudian kontrak habis, gimana cara dari PSC konvesional berubah menjadi gross split? bisa terganggu cashflow-nya dan sistemnya. 

Namun ada case, posisinya masih sedang eksplorasi meminta, pak saya mau berubah ke gross split. Lah, kalau berubah ke gross split itu biaya eksplorasinya hilang, loh. Kan, ditanggung sendiri biaya-biayanya. Jawabannya kontraktor, pak saya mendingan hilang itu biaya eksplorasinya asal saya (kontraknya) diubah menjadi gross split. Kenapa? Ya simple. Karena gross split, decision making process-nya cepat. Ini yang menjadi keuntungan terbesar menggunakan gross split. 

Bila dikatakan prosesnya cepat, apakah memang bisa menghemat waktu (lebih cepat) dibanding PSC?

Misalnya preFEED (Front End Engineering Design) sekitar 6 bulan hingga 1 tahun, dari preFEED untuk bisa menjadi FEED melalui proses tender, maintaining process, yang bisa membutuhkan waktu 1, 2 atau 3 tahun, Blok Masela berapa tahun? Setelah FEEDpun masih juga masih ada proses. Dengan gross split hal ini tidak perlu lagi terjadi mengalami proses waktu sekian lama, bahkan bisa menghemat waktu dan bahkan biaya juga. Karena bagi sisi kontraktorpun juga akan menghitung sumber daya manusia yang diperlukan selama proses waktu berlangsung. (anovianti muharti)

 

Baca juga:

Penguasaan Teknologi, Masa Depan Bisnis Hulu Migas

Unrecovered Cost, Pertahankan Produksi Sebelum Kontrak Terminasi

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Industri Minyak dan Gas Dalam Proses Menemukan Ekuilibrium Baru

migas review MigasReview, Jakarta – Dinamika harga minyak dan gas saat ini tentunya akan mempengaruhi investasi di sektor hulu maupun hilir industri minyak dan gas. Terlihat beberapa tahun belakangan ini, bahwa investasi cenderung turun, meski sentimen pasar tetap…