MigasReview, Jakarta – Turunnya harga minyak dunia sejak
akhir 2014 bagaikan mimpi buruk menerpa industri hulu minyak dan gas bumi
(migas). Tak sedikit perusahaan migas nasional maupun internasional melakukan
evaluasi, terutama dalam perencanaan modal atau investasi. Tentu tidak mudah
mempertahankan kondisi financial
(keuangan) agar dapat tetap beroperasi.
Namun, bagi Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) R. Gunung Sardjono Hadi kondisi ini menjadi tantangan, dan bukan hanya karena sebagai pimpinan perusahaan, akan tetapi merupakan kondisi yang harus dihadapi bersama.
Berikut obrolannya saat ditemui MigasReview.com di kantornya, beberapa waktu lalu.
---
Ketika Anda menjadi Direktur Utama PHE di tengah harga minyak sedang turun, apa yang Anda lakukan terhadap perusahaan?
Harga minyak turun dimulai dari akhir 2014, dan sejak Januari 2015 semakin terperosok, secara overall target kita harga turun di US$60, ternyata realisasi di US$49,7. Tetapi, Alhamdulillah, dari sisi produksi (2015) tercapai, jadi memang saya masuk ke sini (PHE) pada 1 Juni 2015, saya kumpulkan semua pekerja dan saya sampaikan bahwa kita menghadapi suatu masalah yang cukup critical. Artinya, ini menjadi suatu common enemy untuk kita semua, sehingga bukan hanya menjadi tanggung jawab Anda (individu), namun menjadi tanggung jawab bersama, even saya sebagai direktur utama, saya tetap bertanggung jawab. Oleh karena itu, kita perlu menyiapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mengantisipasi situasi ini (harga minyak turun). Maka, saya buat 10 Langkah Strategis (Instruksi Direktur Utama PHE), dimana sebelum membuatnya, saya melakukan review dan evaluasi terlebih dahulu.
Apa saja 10 Langkah Staregis itu?
- Menaikkan Produksi Minyak & Gas Bumi
- Pengawasan Project
- Peningkatan Lifting
- Monetisasi Gas
- Efisiensi di Segala Lini
- PIS (Place Into Service)
- Zero Impairment
- Penanganan Kasus-kasus Hukum
- CIP (Continuous
Improvement Program)
- Optimalisasi dan Percepatan Realisasi ABI (Anggaran
Investasi)
Bagaimana implementasi atau realisasi dari langkah-langkah tersebut?
Pertama, yang paling penting adalah bagaimana mempertahankan produksi minyak dan gas. Kedua, bagaimana kita bisa mempercepat monetisasi gas, karena beberapa project sudah ada gasnya namun belum dimonetisasi, artinya nilai komersialnya belum ketemu. Ketiga, adalah bagaimana kita memindahkan kegiatan-kegiatan yang bersifat minyak ke gas, karena harga gas di PHE dalam PJBG (perjanjian jual beli gas) sebagian besar menggunakan fixed price. Langkah berikutnya, kita mengutamakan HSSE (Health, Safety, Security and Environment), supaya jangan sampai terlena dengan adanya kegiatan-kegiatan lainnya. Misal, dengan adanya cost efficency lalu HSSE dilanggar, hal ini tidak boleh terjadi.
Kelima, adalah bagaimana kita mempercepat PIS yang ada di SKK Migas, yang selama ini sudah sekian tahun cukup besar (nilainya), sekitar ratusan juta US Dollar belum terurus. Sehingga, kitapun membuat tim khusus untuk menangani mempercepat PIS dan close out report agar target di 2015 bisa tercapai, karena ini kaitannya dengan cost recovery. Langkah strategis lainnya, yaitu melakukan kegiatan project tidak mundur, kalau bisa lebih cepat, karena setiap project sudah kita forecasting berapa target produksi dan biayanya. Berikutnya, bagaimana kita mengimplementasikan CIP yang sudah didapatkan tahun sebelumnya, didalamnya terdapat kegiatan menambah cadangan, menambah produksi, cost efficiency, mempersingkat rantai bisnis, yang mana kegiatan tersebut mengarah untuk efisiensi, maka kita harus implementasikan tidak hanya sekedar paper work. Kemudian langkah berikutnya, bagaimana kita menghadapi kasus-kasus hukum, yaitu langkah preventive untuk menghindari permasalahan hukum yang berdampak negatif terhadap perusahaan
Efisiensi seperti apa yang dilakukan dan bagaimana menghadapinya, mengingat ada target pencapaian kinerja?
Melakukan negosiasi, mengurangi fasilitas-fasilitas yang tidak terlalu penting, mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak bersifat produksi, seperti mengurangi kegiatan keluar kota ataupun luar negeri, kita lebih memaksimalkan aset yang PHE miliki.
Padahal, kitapun juga dihadapkan dengan situasi yang tidak mudah, kenapa? karena PHE memiliki karakter yang berbeda dengan yang lain (perusahaan yang lain), kita punya 56 anak perusahaan dimana terminasinya berbeda-beda. Pada saat kita ada beberapa yang akan terminasi, ternyata belum mengalokasikan PSL (past service liabilities), sehingga masalah pesangon dan lain sebagainya itu nge-hype di dalam tahun-tahun ini (2015-2016). Contohnya, PHE Ogan Komering pada 2018 akan terminasi, Joint Operating Body Pertamina – Petrochina East Java (JOB PPEJ) juga terminasi. Nah, tentunya akan menggerus (ke financial). Kemudian mengenai impairment juga suatu hal yang perlu kita sikapi dengan bijak, kita mencoba bagaimana supaya tidak terjadi impairment, karena impairment cukup besar (nilainya). Seperti kemarin di 2015 nilainya cukup besar sekitar US$37 juta. Seandainya, tidak ada impairment maka target pencapaian net profit bisa didapatkan US$237 juta lebih, tapi itu kan 2015, saya juga berharap di 2016 dapat lebih baik lagi. Karena bila kita membicarakan impairment sama halnya dengan membicarakan asumsi.
Dari aspek HSSE, selama 2015 pencapaian keselamatan kerja dapat apresiasi dari Pemerintah, seperti PHE WMO mendapatkan apresiasi dari Gubernur. Tapi dengan pencapaian ini juga jangan sampai kita terlena di 2016, hal ini yang saya selalu sampaikan ke teman-teman (para pekerja), meski di 2015 sudah bagus. Karena kita melihat sesuatu yang bersifat rutin lalu diabaikan, dapat mengakibatkan hal potensi fatality. Maka dalam langkah strategis mengenai HSSE saya tegaskan, merupakan hal yang tidak boleh diganggu gugat. Artinya, objektif jangan sampai tergerus atau terdistorsi, meski target produksi tercapai, target keselamatan kerja tercapai, target financial tercapai, tapi dengan cara yang elegan.
Dapat dikatakan dengan melakukan efisiensi tersebut, maka target PHE tercapai?
Dari segala aspek yang saya rangkum dalam 10 Langkah Strategis, Alhamdulillah dengan mengoptimalkan langkah-langkah tersebut, target dari segi financial tercapai bahkan melebihi target dari target RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan) 2015 US$195 juta pada akhir tahun 2015 dicapai US$204 juta, dengan beberapa parameter yang digunakan yaitu, harga minyak US$49,70 per barel dan harga gas US$5,92 per MSCF dengan kurs rata-rata US$1 = Rp13.392. Sementara dari segi produksi secara oil equivalent di atas 100%, meski produksi minyak pencapaiannya 98-99%, namun produksi gas melampaui target. Maka, capaian produksi migas yang mencapai 183 MBOEPD di atas target RKAP 2015, yaitu 175 MBOEPD. Terdiri dari realisasi produksi minyak sebesar 66.30 MBOPD, dengan target RKAP 2015 sebesar 68.33 MBOEPD. Untuk produksi gas PHE mencapai 678 MMSCFD melebihi target yang dibebankan sebesar 619 MMSCFD.
PHE memiliki 56 anak perusahaan, apakah statusnya produksi semua?
Tidak semua, memang dari 56 tersebut kita mempunyai lapangan yang unconventional, yaitu CBM (Coal Bed Methane) ada 14 PSC, 2 blok luar negeri, beberapa masih dalam fase ekplorasi, juga ada yang sedang tahap pengembangan, seperti Nunukan. Joint operator fase eksplorasi juga ada, punya juga IDD (Indonesia Deepwater Development). Jadi memang PHE ini unik, kita punya onshore, offshore, kita sebagai operator (sekitar 10), juga ada yang non-operator, kita punya conventional, juga punya unconventional. Lengkap lah.
Bagaimana status dan kondisi blok yang dikelola PHE yang berada di luar Indonesia?
Saat ini terdapat 2 blok yang tengah dikelola oleh PHE, yaitu Blok SK-305 di Offshore Serawak Malaysia, dan Blok 10 & 11.1 di Offshore Vietnam. Sifatnya tripartit, dua-duanya akan kita release karena berdasarkan hasil keekonomian memang tidak menarik, apalagi dengan kondisi harga minyak saat ini.
Blok SK-305 Malaysia dikelola secara bersama oleh Pertamina, Petronas Carigali, dan PVEP (disebut Para Pihak) dan operatornya adalah PCPP Operating Company SDN. BHD. Para Pihak sepakat untuk menghentikan kegiatan eksplorasi dan produksi pada Blok SK-305 Malaysia, dimana saat ini statusnya dalam persiapan untuk abandonment. Kegiatan abandonment tersebut ditargetkan akan selesai pada 2017.
Blok 10 & 11.1 Vietnam juga dikelola secara bersama oleh Pertamina, Petronas Carigali, dan PVEP (disebut Para Pihak) dan operatornya adalah ConSon Joint Operating Company. Status terkini, Petronas Carigali sudah menyatakan untuk mundur dari pengelolaan blok tersebut. Posisi Pertamina sendiri masih dalam proses persetujuan untuk mundur juga dalam pengelolaan blok tersebut. Hal ini dilakukan oleh Pertamina berdasarkan kajian yang komprehensif mencakup aspek teknis hingga keekonomian, dan mempertimbangkan konsekuensi yang timbul akibat dari mundurnya Petronas jika Pertamina tetap berpartisipasi dalam pengelolaan blok tersebut.
Sehingga nanti PHE tidak lagi punya blok di luar Indonesia?
Sekarang ada kebijakan untuk pengelolaan blok di luar Indonesia diserahkan pada Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP). Maka, PHE setelah 2017 tidak punya lagi blok di luar Indonesia. (anovianti muharti)

Komentar