Refined Bangka Tin Kembangkan Program Reklamasi Berkelanjutan

16 August 2017, Editor Anovianti Muharti

Jajaran management PT Refined Bangka Tin bersama dengan perwakilan Kementrian LHK dan jajaran pemerintah pusat Bangka Belitung dalam peresmian Program Reklamasi Berkelanjutan ”Green For Good” PT Refined Bangka Tin di Sungailiat, Bangka Belitung | dok. RBT
facebook
10
twitter
google+
1
linkedin
2

MigasReview, Bangka Belitung - PT Refined Bangka Tin (RBT) mengumumkan Program Reklamasi Berkelanjutan Green for Good, adalah program konservasi lahan untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah tidak produktif. Dengan melibatkan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya seperti pemerintah, aparat keamanan, LSM serta organisasi nasional dan international. Program Reklamasi Berkelanjutan ini juga bertujuan untuk memberikan sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat di sekitar tambang.

Direktur RBT Reza Andriansyah mengatakan, pihaknya ingin menjadi inisiator Reklamasi Berkelanjutan dengan merevitalisasi lahan dan membuat lahan tersebut bermanfaat bagi masyarakat setempat.

“Sesuai dengan slogan khas Bangka Belitung, Bumi Sepintu Sedulang atau gotong royong, RBT ingin mengajak semua pelaku bisnis dan industri timah khususnya, juga komunitas lokal untuk bergabung dalam gerakan ini dan mendukung kebijakan pemerintah dalam kemandirian pangan dan energi serta kelestarian lingkungan,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima MigasReview.com, Rabu (16/08/2017).

Kembalikan Lahan

Sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia yang menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan, RBT akan mengembalikan lahan seluas 50 hektar bekas pertambangan untuk digunakan sebagai kawasan konservasi lahan, agrikultur, agrowisata, dan eco-education yang mengajarkan cara bertani serta menjaga lingkungan yang baik kepada masyarakat setempat. RBT juga ingin memastikan bahwa semua aktivitas pertambangan dikelola dengan mengedepankan kepentingan lingkungan. Upaya ini adalah bukti komitmen RBT untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung upaya pemerintah untuk mencegah perubahan iklim.

Sebagai langkah awal yang diinisiasi oleh RBT, nantinya status lahan tersebut direncanakan akan berubah menjadi Hak Guna Usaha (HGU) Koperasi Desa, sesuai dengan himbauan pemerintah agar program reklamasi dapat berkelanjutan. Di atas lahan seluas 50 hektar di Desa Penyamun, Kabupaten Bangka akan dikembangkan oleh RBT sebagai program percobaan (pilot program) berbasis riset. Lahan-lahan ini akan dikembangkan menjadi lahan produktif agrikultur dengan tanaman pangan bernilai ekonomis seperti jeruk kunci, padi, tomat, melon, pisang, lada, cabai, nanas, papaya, buah naga, mangga, jagung, kacang panjang, dan semangka. Hasilnya dapat diduplikasikan atau dikembangkan di tempat yang lain, serta menjadi referensi agrowisata dan eco-education yang menarik bagi masyarakat.

Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) Jabin Sufianto mengatakan, AETI memberikan dukungan kepada Program Reklamasi Berkelanjutan RBT yang menekankan antara masa depan planet bumi, kesejahteraan manusia di dalamnya dan kontribusi bagi negara secara simultan serta memberikan manfaat bagi masyarakat setempat setelah tambang timah melewati masa produksinya.

“Hal ini sesuai dengan cita-cita kami mewujudkan industri timah yang mengedepankan kelestarian lingkungan, atau Green Mining,” ujarnya.

Himbauan Pemerintah

Program Reklamasi Berkelanjutan RBT telah sejalan dengan himbauan pemerintah bagi pelaku usaha pertambangan tentang reklamasi dan pasca tambang untuk menata, memulihkan dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali. RBT berencana untuk menjalankan Program Reklamasi Berkelanjutan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Conflict-Free Sourcing Initiative (CSFI) Leah Butler mengatakan, RBT membuktikan komitmennya untuk memproduksi timah secara bertanggung jawab, dengan partisipasi berkelanjutan dalam Program Smelter Bebas Konflik (Conflict-Free Smelter Program) di 2014. 

“Kami sangat gembira melihat RBT memperkuat komitmen ini melalui pengembangan pendekatan yang terukur untuk merehabilitasi tanah pasca tambang menjadi kembali produktif," ungkapnya.

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Pendapatan Pertamina Tumbuh 19 Persen

migas review MigasReview, Jakarta - PT Pertamina (Persero) meraih pendapatan sebesar US$20,5 miliar pada semester pertama 2017 atau tumbuh sebesar 19 % dibandingkan semester pertama 2016 yang tercatat US$17,2 miliar ditunjang oleh pertumbuhan kinerja operasi yang…