MigasReview, Jakarta - Penggunaan gas untuk industri keramik
bukanlah hal yang baru. Bahan bakar dalam jumlah besar diperlukan industri
keramik untuk melakukan pembakaran pada saat proses awal pembuatan keramik.
Penggunaan gas menjadi pilihan utama industri ini dibandingkan dengan bahan
bakar lain karena pasokannya jelas serta tekanannya stabil.
Diungkapkan oleh Manufacturing Cileungsi Manager PT Keramika
Indonesia Assosiasi, Tbk (PT KIA) Bambang Wijonarso, bahan bakar merupakan
komponen terbesar dari variable cost
yang dikeluarkan setiap bulan dari industri keramik ini.
"Kegunaan gas
adalah salah satu komponen yang sangat penting, karena keramik harus dibakar
dan itu butuh gas, ongkos produksi yang utama adalah dari gas kurang lebih 35%,
terutama dari pasokan, kualitas pasokan dan tekanan gas,” ungkap Bambang,
seperti yang dilansir esdm.go.id,
Selasa (08/05/2018).
Pihak Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai penyedia gas bumi
melalui pipa ke PT KIA juga telah mengklaim penggunaan gas untuk industri ini
dapat menekan biaya produksi hingga 40 persen dari penghematan konsumsi bahan
bakar. Agar industri terutama skala kecil dan menengah mampu memiliki daya
saing, efisiensi bahan bakar pun menjadi tuntutan.
Bambang mengakui, setelah menggunakan gas ini selain harganya
yang lebih murah dibanding bahan bakar lain, produktivitas makin tinggi, gas
yang digunakan juga ramah lingkungan.
"Keunggulan gas
dari bahan bakar yang lain seperti speed dryer process kita bisa menggunakan
solar dan Compressed Natural Gas (CNG) bisa tapi mahal sekali, maka dari itu
gas menjadi pilihan, lebih murah dibandingkan solar dan CNG," ujarnya.
Bambang mengungkapkan, PT KIA sudah menggunakan gas dari
tahun 1982, dimana sebelumya menggunakan residu (bottom oil).
"Bisa juga
menggunakan batubara, di Indonesia batubara bisa murah tidak ada kalori yang
tinggi, karena sudah di ekspor. Namun, untuk lingkungan faktor resiko juga
tinggi, keselamatan kerja juga tinggi, untuk residu sudah gak jaman,
produktivitasnya juga rendah, lingkungan tidak bagus," paparnya.
Rata-rata dalam sebulan, PT KIA mengkonsumsi hingga
1.900.000 meter kubik gas yang berasal dari gas pipa offtake Narogong dengan
tekanan sebesar 17-19 bar.
"Tagihannya Rp 4
hingga 6 miliar perbulan, pemakaian tergantung dari marketing, kalau lagi
banyak ya banyak," lanjut Bambang.
Proses pembuatan keramik membutukan beberapa tahap sehingga
menghasilkan produk keramik yang bagus.
"Konsep membuat
keramik dimulai dari temperatur yang rendah sampai meninggi kemudian turun
lagi, semua pembakaran menggunakan gas. Produksinya pun cukup cepat yaitu 27
jam dari bahan baku menjadi bahan jadi, sangat cepat bila produksi keramik
dengan kondisi alami ratusan tahun, teknologi China 2 minggu jadi keramik, dan
tunell killen 3 hari," pungkas Bambang.
Komentar