MigasReview, Kutai Kartanegara - PLN terus berupaya untuk
memenuhi kebutuhan pasokan listrik Nusantara dengan menggunakan jenis
pembangkit yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG) Sambera berkapasitas 2×20 Mega Watt (MW) yang menggunakan
regasifikasi Liquid Natural Gas (LNG) dengan moda transportasi trucking pertama
kali di Indonesia. Metode suplai LNG dengan sistem ini merupakan salah satu
terobosan untuk meraih wilayah terpencil yang tidak terjangkau pipa.
PLTG yang berlokasi di Jalan Poros Samarinda-Bontang di
Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur telah beroperasi sejak 2009 dan dalam masa
tersebut menggunakan minyak sebagai bahan bakar. Dengan masuknya LNG, PLN dapat
menghemat biaya energi primer sebesar Rp 70 milyar per tahun. Penggunaan LNG
juga dapat menurunkan iaya pokok produksi (BPP) pembangkit sebesar 38%.
Penyaluran LNG perdana ini disaksikan langsung oleh Dirjen
Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noorsaman Sommeng, Dirjen Minyak dan
Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto, Komite BPH Migas Jugi Prajogio,
Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN Machnizon, serta SVP Engineering
Operation and Technology Development PT Pertamina Tanudji di PLTG Sambera, Kab.
Kutai Kartanegarapln.co.id.
Beroperasinya fasilitas ini semakin memperkuat pemenuhan
kebutuhan listrik bagi masyarakat Kalimantan Timur khususnya di Balikpapan,
Samarinda dan Tenggarong yang menjangkau 20.000 kepala keluarga. Kerjasama ini
juga merupakan sinergi BUMN antara PLN dengan PT Pertamina melalui anak
usahanya, yakni PT Pertagas Niaga (PTGN) dimana sumbernya tersebut berasal dari
kilang LNG milik PT Badak. Kontrak pembelian LNG ini memiliki jangka waktu 5
tahun dengan skema Build, Operate,
Transfer (BOT) dalam penyimpanan dan regasifikasi LNG. Selain itu, PTGN
juga akan menyediakan fasilitas pengisian skala kecil sehingga dapat dikirimkan
dengan moda transportasi trucking ke PLTG Sambera. Fasilitas penyimpanan dan
regasifikasi LNG ini dibangun dan dioperasikan PTGN dengan bentuk kerjasama
operasi dengan PT Dharma Pratama Sejati.
Dengan LNG, performa pembangkit PLN tersebut akan semakin
meningkat dan keandalan mesin terjamin. Selain itu, penggunaan LNG lebih ramah
lingkungan karena akan mengurangi emisi gas buang, produksi limbah B3 dan
pemakaian air tanah.
Saat ini, kondisi kelistrikan di Kalsel, Kalteng dan Kaltim
mengalami surplus pasokan listrik sebesar 487,4 MW dimana daya mampunya
mencapai 1.537 MW dengan beban puncak di Sistem Kaltim sebesar 451,2 MW dan
Sistem Kalselteng sebesar 598,4 MW. Adapun rasio elektrifikasi Kaltim mencapai
94,55% dan ditargetkan 100% pada 2021.

Komentar