MigasReview, Jakarta - Efisiensi dalam industri sektor
energi dan sumber daya mineral (ESDM) menjadi tantangan saat ini. Menteri ESDM
Ignasius Jonan kembali mengingatkan, sebagai sektor yang menghasilkan produk
yang harganya tidak bisa diperkirakan dan dikendalikan, efisiensi menjadi kunci
industri di sektor ini.
"Kalau saya
melihat di industri ini, sektor ini pada umumnya dari mulai mineral, batubara,
migas, kelistrikan itu efisiensinya kalau dibanding sektor lain, itu agak
kurang," ujarnyaesdm.go.id.
Padahal, menurut Jonan, dengan harga produk yang fluktuatif,
semakin efisien biaya produksi, maka akan semakin banyak keuntungan yang
didapat. Di sisi lain, inefisiensi berarti biaya tinggi yang akan menghasilkan
produk yang relatif mahal.
Sebagai contoh, lanjut dia, jika semangat pengelolaan
terutama di sektor hulu migas ini diaplikasikan ke sektor transportasi, maka
tidak akan ada satu operatorpun yang dapat bertahan menjalankan usahanya.
"Waktu saya
ditugaskan di sektor transportasi itu bahas (ada perubahan nilai tukar) berapa
dollar, (akan berdampak pada penerimaan) berapa poin. Saat harga tiket kereta
api itu naik Rp 100, itu demonya dua minggu di depan istana. Itu naik Rp 100,
lah terus mengelolanya bagaimana," jelas Jonan.
Ketidakmampuan mengendalikan harga, diilustrasikan Jonan,
misalnya minyak mentah dan produk turunannya, kita tidak dapat menciptakan
harga sendiri, begitu pula dengan gas.
"Nah ini yang
Bapak Presiden pesan, kita industri (sektor ESDM) ini harus kompetitif, ya
harus kompetitif, karena apa, karena harga jual produk tidak mungkin kita
kendalikan. Arahan Bapak Presiden kita harus efisien," tegasnya.
Dia mengungkapkan, efisiensi dalam industri migas salah
satunya tercermin dalam pengelolaan migas dengan skema bagi hasil gross split yang ide awalnya dicetuskan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dalam skema gross split, selain kontraktor mendapat
kepastian, ada penyederhanaan mekanisme juga efisiensi.
"Cost recovery
bagi orang-orang yang sudah puluhan tahun di industri hulu migas ini mungkin
jadi sebuah perdebatan besar, namun bagi orang yang dari luar sektor ini
seperti Wakil Presiden, saya, Sri Mulyani itu masih mempertanyakan kenapa kalau
produksinya turun costnya harus naik," ungkapnya.
Jonan mengatakan, inefisiensi migas kembali dibahas saat
pertemuan SKK Migas dengan Komite Pengawas.
"Saya sebagai
ketua, wakilnya Menteri Keuangan, Bu Sri Mulyani. Itu selama satu jam
mempertanyakan kenapa cost recovery-nya tidak mau turun meskipun produksinya
turun, sekali lagi kita tekankan industri hulu migas itu harus efisien,"
pungkasnya.

Komentar