Industri Sektor ESDM Diingatkan untuk Efisiensi

09 August 2018, Editor Anovianti Muharti

dok. Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
facebook
10
twitter
google+
0
linkedin
0

MigasReview, Jakarta - Efisiensi dalam industri sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) menjadi tantangan saat ini. Menteri ESDM Ignasius Jonan kembali mengingatkan, sebagai sektor yang menghasilkan produk yang harganya tidak bisa diperkirakan dan dikendalikan, efisiensi menjadi kunci industri di sektor ini.

"Kalau saya melihat di industri ini, sektor ini pada umumnya dari mulai mineral, batubara, migas, kelistrikan itu efisiensinya kalau dibanding sektor lain, itu agak kurang," ujarnyaesdm.go.id.

Padahal, menurut Jonan, dengan harga produk yang fluktuatif, semakin efisien biaya produksi, maka akan semakin banyak keuntungan yang didapat. Di sisi lain, inefisiensi berarti biaya tinggi yang akan menghasilkan produk yang relatif mahal.

Sebagai contoh, lanjut dia, jika semangat pengelolaan terutama di sektor hulu migas ini diaplikasikan ke sektor transportasi, maka tidak akan ada satu operatorpun yang dapat bertahan menjalankan usahanya.

"Waktu saya ditugaskan di sektor transportasi itu bahas (ada perubahan nilai tukar) berapa dollar, (akan berdampak pada penerimaan) berapa poin. Saat harga tiket kereta api itu naik Rp 100, itu demonya dua minggu di depan istana. Itu naik Rp 100, lah terus mengelolanya bagaimana," jelas Jonan.

Ketidakmampuan mengendalikan harga, diilustrasikan Jonan, misalnya minyak mentah dan produk turunannya, kita tidak dapat menciptakan harga sendiri, begitu pula dengan gas.

"Nah ini yang Bapak Presiden pesan, kita industri (sektor ESDM) ini harus kompetitif, ya harus kompetitif, karena apa, karena harga jual produk tidak mungkin kita kendalikan. Arahan Bapak Presiden kita harus efisien," tegasnya.

Dia mengungkapkan, efisiensi dalam industri migas salah satunya tercermin dalam pengelolaan migas dengan skema bagi hasil gross split yang ide awalnya dicetuskan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dalam skema gross split, selain kontraktor mendapat kepastian, ada penyederhanaan mekanisme juga efisiensi.

"Cost recovery bagi orang-orang yang sudah puluhan tahun di industri hulu migas ini mungkin jadi sebuah perdebatan besar, namun bagi orang yang dari luar sektor ini seperti Wakil Presiden, saya, Sri Mulyani itu masih mempertanyakan kenapa kalau produksinya turun costnya harus naik," ungkapnya.

Jonan mengatakan, inefisiensi migas kembali dibahas saat pertemuan SKK Migas dengan Komite Pengawas.

"Saya sebagai ketua, wakilnya Menteri Keuangan, Bu Sri Mulyani. Itu selama satu jam mempertanyakan kenapa cost recovery-nya tidak mau turun meskipun produksinya turun, sekali lagi kita tekankan industri hulu migas itu harus efisien," pungkasnya.

Komentar

Artikel Lainnya ×
 
 
 
 
 

Aturan B20 Sedang Digodok

migas review MigasReview, Jakarta - Pemerintah saat ini tengah menggodok Peraturan Presiden tentang penggunaan bauran minyak sawit dengan bahan bakar solar sebesar 20 persen atau B20. "Salah satu comparative advantage yang kita punya adalah Crude Palm Oil (CPO),…