Memiliki ruang lingkung kerja lintas negara menjadi
tantangan tersendiri bagi PT Pertamina Internasional EP (PIEP). Berbagai upaya
pun dilakukan guna mendukung kegiatan proses bisnis perusahaan. Salah satunya
melalui penandatanganan Master Service
Agreement (MSA) dengan perusahaan besar kelas dunia. Berikut penjelasan Presiden Direktur PIEP Denie S. Tampubolon
kepada Energia.
Apa yang melatarbelakangi penandatanganan Master Service Agreement (MSA) tersebut?
Pertamina Internasional EP (PIEP) dan anak perusahaan sering
mengalami kendala lamanya proses pengadaan yang disebabkan diskusi/klarifikasi
terkait general terms and conditions dengan
partner PIEP dan anak perusahaan. Sehingga dibutuhkan suatu kesepakatan awal
perihal general terms and conditions
dalam bentuk MSA.
MSA intinya kita mencoba membuat seperti template yang bisa
digunakan dengan beberapa rekanan atau vendor sekaligus. Dengan adanya kesamaan
format untuk selanjunya kita bisa lebih cepat di beberapa aspek isu atau
klausul yang sifatnya umum semua bisa kita terapkan. Sehingga dapat mempercepat
proses-proses terkait untuk pengadaan barang atau jasa yang mendukung kegiatan
operasi. Berdasarkan pengalaman selama ini, ada beberapa perbedaan persepsi dan
standarisasi dengan pihak vendor. Dengan adanya MSA ini diharapkan menjadi
suatu standar format yang bisa disepakati.
Apa tujuan dari
adanya penandatanganan tersebut?
Dengan adanya MSA tersebut, diharapkan dapat mempercepat
proses pengadaan PIEP dan anak perusahaan terutama utuk kegiatan drilling service. Hal itu lantaran tidak
ada lagi diskusi general terms &
conditions sehingga klarifikasi proses pengadaan dapat lebih berfokus pada
persyaratan ruang lingkung kerja, waktu pelaksanaan, term pembayaran, dan hal-hal lainnya.
Siapa saja yang terlibat dalam proses penandatanganan tersebut?
Selain tim MSA PIEP yang terdiri dari fungsi SCM, Legal, Finance, Drilling,
penandatanganan ini juga melibatkan PT Elnusa Tbk, Schlumberger dan Baker Huges, GE dibantu dengan tim MSA dari masing-masing service company. Khusus untuk Schlumberger dan Baker Huges, GE juga
turut dibantu oleh perwakilannya yang ada di Indonesia. Mereka berperan aktif
menjembatani pembahasan ke pihak Head
Quarter.
Selain ketiga service
company yakni Elnusa, Schlumberger, dan Baker Huges, saat ini PIEP tengah
menjalin komunikasi dengan service
company lain untuk proses finalisasi MSA-MSA lainnya. Sehingga diharapkan
partner yang berpartisipasi serta berkompetisi akan lebih banyak lagi.
Bisa dijelaskan alasan mengapa memilih ketiga partner tersebut?
Partner yang dipilih saat ini adalah multinasional services
company yang bergerak di bidang drilling dan memiliki kapabilitas serta
kualitas yang sudah dikenal dunia. Kemampuan ketiga perusahaan besar tersebut
dibutuhkan oleh PIEP dan anak perusahaan PIEP yang tersebar di 10 negara dalam
upaya mendukung kegiatan upstream-nya.
Apa manfaat yang didapat masing-masing pihak pasca penandatanganan MSA itu sendiri?
MSA ini secara bersamaan sudah digunakan untuk proses
pengadaan Drilling & Work Over
(DWO) di Aljazair. Terbukti bahwa dengan adanya MSA, proses pengadaan menjadi
lebih cepat sehingga kegiatan DWO dapat dilaksanakan sesuai dengan target
waktu. Oleh karena itu, MSA tersebut mampu menunjang kegiatan operasional
sehingga masing-masing pihak terutama PIEP, mendapatkan dampak yang positif dan
memberi kemudahan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Manfaat adanya MSA bagi Pertamina adalah adanya assurance. Keyakinan bahwa adanya
dukungan dari vendor-vendor internasional di seluruh area operasi hulu yang
dikerjakan oleh Pertamina di luar negeri dengan term and condition yang seragam sehingga proses pengadaan menjadi
lebih efektif dan efisien termasuk mengeliminir kemungkinan terjadinya eksepsi
dalam penyusunan kontrak-kontrak pemboran. Teman-teman vendor juga ada jaminan,
perencanaan, bahwa ada suatu jenis pekerjaan jasa tertentu yang mereka tahu
kita akan membutuhkan. Jadi saling cover
dan win-win solution.
Artikel ini telah tayang di Energia Weekly, No. 35 Tahun LIV, 27
Agustus 2018

Komentar